Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 67


__ADS_3

“Ehem ….” Danu berdehem saat dia sudah berdiri tak jauh dari tempat mantan istri serta mertuanya berada. Sebenarnya dia sudah tidak ingin lagi bertemu langsung dengan Nadira, tapi Ibu Susan memaksanya untuk bertemu sebentar.


Ekspresi wajah Anita tak jauh berbeda dengan Danu. Wanita hamil itu mendelik tak suka saat melihat Nadira yang berbalik menatap ayah dari janin yang sedang dikandungnya.


Untuk apa juga Ibu Susan meminta bertemu dengan dia di sini? tanya wanita hamil itu dalam hatinya.


Sementara itu, Nadira hanya menoleh dan menatap orang-orang di hadapannya dalam diam, begitu pula dengan Ibu Risma yang tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyapa mantan besannya itu.


“Ada apa?” tanya Nadira setelah beberapa saat kelima orang itu hanya menatap dia dan ibunya.


Ibu Susan memperhatikan penampilan Nadira dari bawah hingga atas. Penampilannya sangat berbeda dari saat dia masih


menjadi menantuku, batinnya.


Nadira ikut menatap penampilannya karena merasa aneh, diperhatikan oleh Ibu Susan yang biasanya selalu tidak peduli.

__ADS_1


Bahkan selalu mencibirnya.


“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Nadira pada mantan ibu mertuanya.


“Rupanya kamu bisa berpenampilan rapi juga, ya?” tanya Ibu Susan sambil mendelik.


Nadira mengerutkan keningnya. “Apa maksud Ibu? Penampilanku dari dulu memang seperti ini. Tapi, setelah menikah dengan putramu, aku tidak lagi berdandan karena dia tidak mencukupi


kebutuhanku,” jawab Nadira. Sebenarnya jawaban Nadira tak ada perbedaannya dengan keadaannya yang sekarang, tapi bukankah akan lebih seru saat bisa melihat orang yang tidak menyukai kita merasa semakin kesal? Biarlah masa susahnya yang sekarang tidak diketahui oleh keluarga mantan suaminya karena jikalau pun


“Halah, alasan saja. Bukankah kamu memang sengaja melakukannya supaya Danu berpaling darimu dan membuatnya terpikat dengan wanita lain, setelah itu kamu melimpahkan semua kesalahan ini padanya,” tuding Ibu Susan.


Untuk sesaat Nadira terdiam dan menatap bingung perkataan mantan ibu mertuanya. Bagaimana bisa wanita paruh baya itu


berpikiran demikian terhadapnya.

__ADS_1


“Ibu, apa perkataan Ibu itu ada buktinya? Kenapa Ibu berkata hal konyol seperti itu? Untuk apa aku melakukan hal yang tidak berguna? Selingkuhnya Mas Danu itu tidak ada hubungannya denganku. Jikalau pun aku tidak berpenampilan menarik saat masih bersamanya, salahkan dia yang memintaku berpenampilan natural dan apa adanya. Aku memang tidak meminta semua kebutuhanku secara langsung padanya, tapi seharusnya Ibu juga ingat, saat aku baru pertama kali dinyatakan hamil, apa kalian peduli? Bahkan saat itu Ibu sendiri yang terus menyuruhku bekerja


sebagai tukang cuci di rumah tetangga. Aku harap Ibu tidak lupa akan hal itu!” jelas Nadira panjang lebar.


Ibu Susan tampak terkejut dengan perkataan Nadira. Dia sepertinya lupa dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap


mantan menantunya itu. Sial, rupanya dia masih mengingat apa yang kulakukan dulu terhadapnya, batin wanita paruh baya itu.


Pengakuan Nadira tadi disimak baik oleh Anita. Wanita hamil itu terlihat menggedikkan bahunya saat membayangkan betapa


susahnya Nadira saat masih jadi bagian anggota keluarga Danu.


Apa aku akan diperlakukan seperti itu oleh Ibu Susan? Bagaimana kalau aku juga mendapatkan perlakuan serupa darinya? batin wanita itu ngeri. Tidak. Sepertinya Ibu Susan tidak akan melakukan hal itu padaku karena aku tidak selemah Nadira, sambungnya lagi.


“Kenapa Ibu hanya diam saja?” pancing Nadira lagi. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Ibu Susan selanjutnya,

__ADS_1


apakah akan terus mengelak dan menyalahkannya, atau menyesal dan meminta maaf? Akh, sepertinya opsi yang terakhir kemungkinannya itu sangat kecil, ralat Nadira dalam hatinya


__ADS_2