Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 51


__ADS_3

Setelah urusan resign dari pekerjaan selesai, Nadira memutuskan kembali ke kosannya. Dia harus segera mengembalikan kunci kamar kosnya pada sang pemilik sebelumnya. Ya, seperti yang dia rencanakan pada awalnya, Nadira akan segera pergi dari sana setelah keluar dari pekerjaannya.


"Mbak Nadira mau ke mana?" tanya ibu pemilik kos saat Nadira mengembalikan kunci kamarnya.


"Saya mau pindah, Bu. Mau keluar kota," jawab Nadira.


"Lho, kenapa sampai pindah ke luar kota? Memangnya sudah tidak betah kerja di sini? Dan ... bagaimana dengan putrimu nantinya? Apakah akan ada keluarga yang ikut?" tanya wanita paruh baya itu karena mengetahui kalau Nadira dan suaminya saat ini sedang dalam proses perceraian.


Wanita itu menggelengkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan dari sang ibu pemilik kos. Nadira merasa tidak perlu menjawab hal itu karena dia tidak ingin masalahnya diketahui oleh orang lain.


"Saya sudah keluar dari pabrik, Bu. Kebetulan ada teman yang mengajak saya untuk bekerja di kota. Jadi saya memutuskan membawa Tiara ke sana sambil bekerja," jawab Nadira dengan senyuman tipis di wajahnya. Senyuman itu cukup mempengaruhi ibu kost yang langsung mempercayai ucapannya.


"Oh, begitu." Ibu kost mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah kalau memang seperti itu. Semoga kamu betah bekerja di tempat yang baru nanti," sambungnya lagi.


"Terima kasih, Bu."


Setelah mengucapkan terima kasih, Nadira pun bersalaman dengan ibuku sebelum dia keluar dari kamar yang selama 2 bulan ini ditempatinya. Nadira pergi dengan membawa koper yang cukup besar serta menggendong Tiara di tangannya. Beruntung saat itu hari sedang cukup cerah dan keadaan jalanan yang dilaluinya sepi, jadi Nadira tidak perlu khawatir bertemu dengan orang yang ingin mengetahui kepergiannya karena sejujurnya dia pun belum mengetahui kemana dirinya dan Tiara akan pergi.


Sesampainya di jalan raya, Nadira segera menaiki angkutan umum yang akan membawanya ke kota. Tidak tanggung-tanggung untuk wanita itu pergi jauh, dia langsung pergi ke luar Jawa tanpa sepengetahuan keluarga dan mantan suaminya. Sementara itu, untuk masalah perceraian Nadira mempercayakannya pada kuasa hukumnya. Dia hanya perlu menunggu sampai surat jandanya turun dan baru akan mengambilnya, itupun melalui pengacaranya.

__ADS_1


"Sayang, maafkan Mama karena harus membawamu pergi jauh dari keluarga kita. Meskipun nanti di kota asing itu hanya kita berdua, tapi kamu tidak perlu khawatir karena mama yakin mama bisa menjadi ayah serta ibu yang baik untukmu, sehingga kamu tidak akan merasa kekurangan kasih sayang dari siapapun," ucap Nadira pada putrinya yang kini sedang terlelap di pangkuannya.


Wanita itu sudah berada di dalam bus yang akan membawanya ke luar provinsi. Bukan tanpa alasan Nadira langsung melakukan perjalanan jauh tersebut, hal itu dia lakukan karena dirinya benar-benar tidak ingin berhubungan lagi dengan Danu dan keluarga suaminya itu. Sudah cukup selama ini dia merasakan penderitaan hatinya dan sekarang Nadira hanya ingin mengikuti apa yang ada di dalam hati tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu.


Mata wanita itu terus mengikuti sepanjang jalanan yang dia lalui karena kebetulan dia duduk di samping jendela. Nadira benar-benar tidak memperdulikan orang-orang sekitarnya yang terkadang menatap heran padanya. Dia hanya fokus pada jalan raya serta Tiara yang ada di pangkuannya.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam lamanya menggunakan angkutan umum, akhirnya Nadira tiba di sebuah perusahaan kecil yang cukup asing. Desa itu adalah tempat tinggal almarhum neneknya dulu, jadi dia masih ingat samar-samar tentang tempat itu. Dia tiba di sana saat hari sudah petang dan hampir menjelang malam.


"Sepertinya tempat ini cukup cocok untuk kita tinggali, Nak," gumam wanita itu sambil menatap beberapa rumah yang ada di hadapannya.


Nadira berjalan menuju salah satu warga yang kebetulan sedang berada di luar rumahnya, dia akan menanyakan rumah RT setempat.


"Kebetulan saya sendiri Ibu RT di sini. Mbaknya ini siapa dan ada maksud apa mencari suami saya?" tanya ibu itu dengan tantangan sedikit jenis karena mengira mungkin Nadira adalah wanita simpanan suaminya. Apalagi saat ini Nadira sedang menggendong Tiara serta membawa koper yang cukup besar di tangannya.


"Saya cucunya almarhum Ibu Endang, Bu. Saya ingin mencari tempat tinggal di sini lagi. Kebetulan rumah mendiang nenek saya sudah dijual beberapa tahun yang lalu. Jadi saya tidak mempunyai tempat tujuan lagi," jelas Nadira yang langsung membuat Ibu RT itu tersenyum kaku karena sudah mengira Nadira wanita yang tidak baik.


"Oh kamu cucunya Bu Endang .... Maaf, tadi saya kira kamu siapa karena datang sore-sore seperti ini dengan membawa anak kecil serta tas besar," ucap Ibu RT.

__ADS_1


Nadira tersenyum kaku saat mendengar ucapan Ibu RT. Beruntung wanita itu tidak langsung memasukkan perkataan tadi ke dalam hatinya, jadi dia hanya bisa menanggapi ucapan pedas tadi dengan senyuman tipis.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti."


Setelah berkenalan, Nadira pun dibawa oleh Ibu RT masuk ke dalam rumahnya, untuk malam ini dia akan menampung wanita muda itu di sana karena kebetulan suaminya sedang pergi ke kota dan baru pulang besok siang. Awalnya Nadira menolak tawaran Ibu RT karena dia merasa tidak ingin merepotkan keluarga itu. Akan tetapi, Ibu RT tetap memaksanya dengan alasan di desa itu belum diketahui ada atau tidaknya tempat tinggal untuk Nadira.


"Maaf kalau kedatangan saya membuat Ibu dan keluarga repot," ucap wanita itu saat Bu RT sudah mempersilakannya duduk.


"Tidak apa-apa, Mbak Nadira. Tidak perlu memikirkannya. Lagi boleh ini sudah menjadi salah satu kewajiban saya sebagai istri ketua RT di sini," jawab Ibu Nurul. Ya, Nadira baru mengetahui nama wanita itu adalah Ibu Nurul setelah perbincangan salah paham tadi terjadi.


Keduanya mengobrol banyak tentang alasan Nadira pindah ke sana. Padahal perkampungan itu cukup sepi dan jarang sekali penduduk karena rata-rata orangnya akan segera pindah ke kota setelah menikah.


"Kenapa Mbak Nadira malah mau pindah ke sini? Padahal orang-orang sebelumnya di sini justru malah berbondong-bondong pindah ke kota," ucap Bu Nurul yang ingin mengetahui alasan calon penduduk barunya.


"Saya hanya ingin tempat yang lebih tenang, Bu," jawab wanita itu seperlunya.


"Oh. Begitu ... tapi, bagaimana dengan Ayahnya Tiara, Bu? Jalanan ini cukup sulit dijangkau G**gle map. Jadi jarang ada orang asing datang ke mari," kata Ibu Nurul lagi yang sebenarnya ingin mengetahui status Nadira saat ini.


Nadira tersenyum sabar saat mendengar pertanyaan dari Ibu Nurul. Dia sadar kalau wanita ke rumahnya di hadapannya sedang mengorek informasi tentang pribadinya. Namun, tidak ada alasan Nadira tetap menutup menutupi statusnya yang sekarang. Jadi, dia pun menceritakan yang sebenarnya tentang status dia tanpa memberitahukan alasan penyebab perceraiannya dengan sang mantan suami.

__ADS_1


"Saya hanyalah seorang janda, Bu. Proses perceraiannya masih sedang diurus oleh pengacara saya," jawab Nadira yang langsung membuat Ibu Nurul kembali menatapnya dengan pandangan menyelidik.


"Mbak Nadira tidak sedang berbohong, 'kan? Mbak sedang tidak menutup menutup status yang sekarang?"


__ADS_2