
Beberapa saat sebelumnya.
"Dan, kamu yakin mau membawa Tiara ke sini? Ibu tidak mau sampai nanti jadi Ibu lagi yang harus repot mengurusinya," ucap Ibu Susan pada putra bungsunya, saat Danu mengutarakan niat untuk mengambil Tiara dari Nadira secara diam-diam.
"Tidak, Bu. Aku yang akan mengurus Tiara. Ibu hanya perlu menjaganya saja saat aku sedang bekerja," jawab Danu seraya bersiap untuk menjemput Tiara di tempat penitipan anak. Dia mengetahui hal itu setelah mencari tahu dari Anita tentang penitipan anak yang ada di sekitar tempat tinggal wanita itu.
"Tapi–"
"Bu, hanya dengan cara ini kita bisa membawa Nadira kembali lagi ke mari. Bukankah Ibu mau Nadira tinggal di sini lagi dan menuruti apa mau kita?" tanya Danu sambil mengiming-imingi Ibu Susan agar mau menuruti permintaannya untuk menjemput Tiara bersamanya.
"Iya. Ibu mau wanita itu kembali ke mari supaya Ibu bisa menyiksanya habis-habisan, setelah semua yang dia lakukan pada keluarga kita, dia harus bertanggung jawab karena itu," jawab Ibu Susan dengan menggebuk-gebuk kembali kesal setelah dia mengingat semua hal yang Nadira lakukan padanya. Meskipun dulu Nadira melakukan hal itu karena dia memang mudah untuk dibodohi. Namun, Ibu Susan juga jelas tahu kalau Nadira yang sekarang tidak akan mudah lagi untuk dia bohongi.
"Ya sudah. Kalau Ibu memang mau membalas dendam padanya, Ibu harus membantuku untuk mengambil Tiara. Ya ... setidaknya sampai dia tidak berani lagi untuk mengajukan perceraian. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikannya," ucap Danu dengan mata yang menyorot tajam menatap ke arah di mana pakaian Nadira berada. Saat ini dirinya sedang di kontrakan hanya berdua dengan Ibu Susan.
"Lalu, bagaimana dengan Anita, Dan? Kamu tidak akan membiarkan dia untuk menjalani kehamilan itu sendirian, bukan?" tanya Ibu Susan lagi mengingat keponakan jauhnya itu saat ini sedang mengandung.
"Aku tidak akan membiarkan Anita menjalani kehamilan itu sendirian, Bu. Justru aku akan menyuruh Nadira untuk mengurusnya. Dia pasti akan menuruti perintahku itu karena aku juga tidak akan sedang segan mengancamnya dengan menyakiti Tiara," jawab Danu tanpa berpikir panjang.
"A–apa? Kamu mau menyakiti Tiara?" Ibu Susan tampak terkejut saat mendengar jawaban putranya.
"Iya. Tapi, Ibu tidak perlu khawatir karena aku hanya akan melakukan hal itu saat Nadira tidak menuruti perintahku saja. Dan, selama dia menurut, aku juga tidak akan menyakiti Tiara," jawab pria itu lagi sambil mengangkat kedua bahunya.
Ibu Susan bernapas lega setelah mendengar jawaban sang putra. Tadi dia sempat terkejut karena ternyata Danu bisa berpikir lebih kejam dari apa yang dia pikirkan.
"Syukurlah kalau memang kamu hanya berniat untuk menggerakkannya saja dengan menggunakan Tiara."
"Ya sudah. Sebaiknya sekarang kita pergi karena sore nanti Nadira akan segera pulang. Jangan sampai rencana kita ini gagal lagi, Bu!" seru Danu dengan bersungguh-sungguh.
"Iya ... iya. Ibu mengerti, Danu."
Setelah Ibu Susan mengganti baju serta mempersiapkan semuanya, sepasang ibu dan anak itu pun mulai keluar dari rumah kontrakan dengan tujuan ke tempat penitipan anak, di mana Tiara berada saat ini. Mereka yakin kalau di tempat itu tidak ada penjagaan yang ketat, jadi akan mudah untuk mereka masuk ke sana dan mengambil Tiara.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu perjalanan hampir 25 menit lamanya, akhirnya motor yang dikendarai Danu sampai di depan sebuah rumah. Rumah itu tampak ramai dengan anak-anak dan beberapa orang dewasa yang sedang mengawasi mereka.
Ibu Susan turun dan masuk ke sana lebih dulu, sementara Danu terus memperhatikan suasana sekeliling di sana dan memastikan kalau Nadira belum pulang dari tempat kerjanya.
"Bu, apa benar di sini ada bayi berusia tiga bulan yang bernama Tiara?" tanya Ibu Susan pada salah satu wanita yang sedang menjaga anak-anak.
"Tiara?"
"Iya. Nama Mamanya adalah Nadira. Tiara adalah cucu kedua saya. Nadira melarang saya untuk bertemu dengan cucu saya sendiri. Bisakah Ibu mempertemukan kami?" tanya Ibu Susan pada wanita muda itu.
Mbak Dina yang saat itu kebetulan sedang berjaga di sana tampak bingung. Dia ingat pesan dari Nadira yang memintanya untuk tidak sembarang memberikan Tiara pada siapapun, termasuk pada wanita di hadapannya ini.
"Maaf, Bu. Tapi ... Tiara–"
"Mbak, jangan halangi saya untuk bertemu dengan cucu saya sendiri, ya! Saya bisa lho, tuntut Mbak yang sedang berusaha menghalangi saya untuk bertemu cucu sendiri," ancam Bu Susan sambil menunjuk wajah Mbak Dina.
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud seperti itu, tapi Mbak Nadira berpesan untuk tidak mempertemukan kalian," jawab Mbak Dina.
"Mbak, kamu hanya orang luar, jangan sembarang berbicara seperti itu. Lagi pula, apa kamu pikir kamu pantas melarang saya untuk bertemu dengan cucu saya sendiri?" tanya Ibu Susan dengan menggebu-gebu. Dia kesal sekali pada penjaga anak-anak yang tidak memperbolehkannya menemui Tiara.
"Bu, saya memang orang luar. Saya pun tidak mengetahui masalah apa yang sedang duduk terjadi di keluarga Anda. Saya hanya menjalankan amanah dari orang tua bayi saja," jawab Mbak Dina tak kalah tegasnya.
Di saat seperti itu, Danu datang dan menghampiri kedua wanita itu. Dia masuk ke sana karena menunggu sang ibu yang tak kunjung datang.
"Bu, kenapa lama sekali? Padahal hanya mengambil Tiara saja!" gerutu Danu yang tidak mengetahui jika kedua wanita yang ada di depannya sedang beradu mulut.
"Dan, wanita itu sedang mencoba menghalangi kita. Sebaiknya kamu urus dia dulu! Menyusahkan saja," geram Ibu Susan.
Danu memperhatikan Mbak Dina dari bawah ke atas, hingga membuat wanita itu risih. Perlahan dia melangkah mendekati Mbak Dina.
"Mau apa, Anda?" tanya Mbak Dina sambil memundurkan tubuhnya. Dia semakin merangkul erat anak yang sedang diasuhnya.
__ADS_1
"Menurutmu?" Danu menyeringai saat melihat lawan di depannya ketakutan.
Sementara Danu menghalangi Mbak Dina, Ibu susan lantas masuk ke kamar anak satu persatu, demi mencari Tiara. Kebetulan saat itu yang berjaga hanya empat wanita muda karena ibu pemilik penitipan anak sedang pergi ke pasar.
Setelah mencari ke empat kamar, akhirnya Ibu Susan menemukan Tiara yang sedang terlelap di atas kasur bersama tiga anak lainnya.
Ketemu juga kamu, batin Ibu Susan sembari melangkah mendekati Tiara. Dia mulai menggendong bayi itu dengan kasar hingga membuat bayi itu menangis terkejut dan keluar kamar.
"Bu, jangan!" cegah Mbak Dina yang melihat Tiara digendong paksa oleh wanita paruh baya yang tidak dikenalnya. Meskipun wanita itu mengatakan kalau dia adalah neneknya, tapi tetap saja Mbak Dina tidak mengetahui nama wanita tersebut.
Setelah misinya berhasil mengambil Tiara dari tempat penitipan anak, Danu serta Ibu Susan pun pergi dari sana tanpa menghiraukan tangis Tiara yang sedang ada di dekapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil nunggu, baca juga yu rekomendasi novel hari ini 😁
Dilarang Plagiat
..................
Alicia harus menjalani pernikahan keduanya secara diam diam tanpa sepengetahuan pihak keluarga suami pertamanya dengan mantan kekasihnya terdahulu .
Suami Alicia kabur dengan menyisakan hutang yang menumpuk,
"Menikahkahlah denganku sya. Aku akan melunasi hutang hutang suamimu" bisik Renaldi Moreno.
"Aku... Aku" gugup Sya.
Ikuti kisahnya sampai End.
Follow ig otor zafa_milea
__ADS_1