Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 32


__ADS_3

Hari ini Nadira merasa was-was saat bekerja. Dia merasa tdak tenang setelah kemarin siang Danu menemukan tempat tinggal barunya bersama Tiara. Nadira juga tidak bisa langsung pindah begitu saja karena jangka waktu kontrakannya juga masih lama. Selain itu, Nadira juga tidak memiliki uang lebih dan gajian pun masih beberapa minggu lagi.


Ya Tuhan ... semoga Mas Danu tidak menemukan keberadaan Tiara. Aku sangat mengkhawatirkannya, batin wanita itu sambil beberapa kali menengok jam di ponsel jadulnya.


"Nad, ada apa?" tanya Emma menyadari gelagat Nadira yang tampak aneh.


"Aku ... khawatir dengan Tiara, Em. Mas Danu kemarin nemuin aku di depan gang. Aku takut dia tahu tempat di mana aku selalu titipkan Tiara kalau sedang bekerja," jawab Nadira dengan tangan yang terus menjalankan mesin jahit.


"Ya Tuhan, Nad .... Kenapa kamu baru mengatakannya? Padahal kalau memang seperti itu, kamu hubungi aku kemarin. Kamu bisa titip Tiara di tetanggaku. Dia juga biasa mengurusi anak-anak panti," ucap Emma seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia harus berbicara pelan jika sedang jam kerja seperti ini atau nanti akan dikira mengobrol tanpa bekerja.


"Aku tidak ingat, Em. Kemarin aku cuma bisa berusaha kabur karena Mas Danu juga memaksaku untuk mengikutinya. Ya, tentu saja aku menolak ikut. Aku tidak ingin terjebak di satu atap lagi dengannya."


"Iya, aku mengerti, Nad. Semoga urusan rumah tanggamu cepat selesai, ya! Aku tidak tega melihatmu yang seperti ini," ucap Emma sambil mengusap bahu Nadira untuk memberikan dukungan padanya.


"Terima kasih, Em. Aku juga berharap seperti itu karena aku ingin hidupku kembali tenang."


"Oh, ya ... apa keluarga kamu tahu keputusanmu mengajukan perceraian pada suamimu?"


Nadira menggelengkan kepalanya. "Belum, Em. Ibu dan Kakakku tidak mengetahui hal ini," jawabnya.


Kepala Nadira tertunduk dalam dengan tangan yang berhenti bekerja. Sesaat Nadira ingat bagaimana perlakuan Faisal padanya yang saat itu tega mengusir dia dan Tiara di malam hari. Bahkan Faisal juga sama sekali tidak membiarkannya istirahat barang sejenak.

__ADS_1


"Mmmh, apa hubungan kamu dan keluarga sedang tidak baik, Nad?" Lagi-lagi Emma menanyakan hal yang seharusnya tidak wajar untuk dia ketahui. Namun, Emma juga tidak tega melihat Nadira seperti warna yang sedang dituntut untuk menjadi kuat sendirian. Jadi, hatinya sedikit iba dan jika Nadira menginginkan, Emma akan dengan senang hati membantunya.


"Aku dan keluargaku–" Nadira tidak meneruskan perkataannya karena dia merasa tidaknya hati kalau harus terus menceritakan masalah rumah tangganya pada Emma.


"Keluargaku baik-baik saja. Tidak ada masalah serius di antara kami. Aku tidak mengatakan hal ini karena aku tidak ingin membuat mereka mengkhawatirkanku," jawab Nadira pada akhirnya. Dia lebih memilih untuk menutupi perlakuan buruk Faisal padanya.


"Sungguh? Apa kamu mengatakan yang sebenarnya?" desak Emma.


"Iya, Em. Aku menyayangi mereka. Jadi aku tidak ingin membuat mereka mengkhawatirkan ku."


Emma menghela napas panjang. Sebenarnya dia tidak mempercayai ucapan Nadira saat ini karena Emma merasakan perkataan Nadira itu hanya di bibir saja. Dia juga sadar kalau wanita yang ada di sampingnya itu sedang menutupi perasaannya sendiri.


Nadira sedikit meringis saat mendengar perkataan terakhir temannya. Namun, dia tidak berani berkomentar lebih karena pasti itu akan membuat Emma mencurigainya.


"I–iya, Em. Kamu benar," sahut Nadira yang merasa bersalah sendiri.


Kedua wanita itu larut dalam perbincangan mereka tanpa menyadari ada sosok lain yang sedang berdiri tak jauh di belakang mereka. Raka, pria itu begitu penasaran dengan Nadira yang dari tadi terlihat terus-menerus melamun, tapi dia juga tidak berani menghampirinya karena pasti hal itu akan membuat sebagian orang berpikir kalau dia dan Nadira mempunyai hubungan lebih antara atasan dan bawahan. Jadi, maka dari itu Raka pun hanya bisa mendengarkan ucapan yang Nadira katakan pada Emma.


Ya Tuhan ... aku tidak tahu kalau keadaan Nadira saat ini sedang tidak baik. Bahkan aku juga sedikit menyesal karena kemarin aku tidak berhasil membawa Nadira bersamaku. Mungkin ... seandainya Nadira ikut denganku, dia tidak akan bertemu dengan suaminya dan mendapatkan ancaman seperti kemarin, batin pria itu.


Ingin rasanya Raka menghampiri Nadira dan berbincang banyak dengannya, tapi posisi Nadira saat ini sedang tidak memungkinkan. Akhirnya Raka pun hanya bisa kembali terdiam sambil terus berpikir bagaimana caranya untuk membantu Nadira, agar wanita itu mau menerima bantuannya.

__ADS_1


Akh, aku punya ide. Mungkin ini akan sedikit tidak sopan, tapi aku juga tidak bisa membiarkan wanita itu terus menerus bersedih, batin Raka setelah beberapa saat ia terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi novel bagus, geng! Jangan lupa mampir, ya! 😊


Menikah dini bukanlah kemauan mutiara, melainkan kesepakatan antar orangtua yang ingin menyatukan persahabatan dan bisnis mereka.


Keegoisan orang tua telah menempatkan Mutiara dalam posisi sulit, dia hanya dianggap oleh suaminya sebagai istri di atas kertas.


Perjuangan Mutiara selama menjadi istri tidak pernah dihargai oleh Sultan. Mutiara dianggap bodoh dan selalu menyusahkan.


Ternyata dibalik ketidakpeduliannya itu, Sultan memiliki wanita lain. Dia membawa wanita itu pulang serta tinggal di rumah mereka, hingga posisi Mutiara sebagai istri sah sangat tak dianggap.


Mutiara tidak mau menyerah dengan nasib buruknya, diapun akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis, berharap Sultan tidak akan meremehkannya lagi.


Namun, akhirnya ego Mutiara tertantang dan dia bekerjasama dalam bisnis dengan Adam, pesaing bisnis Sultan yang ternyata bisa lebih menghargai dirinya.


Bagaimanakah kisah rumah tangga Mutiara selanjutnya? ikuti terus yuk! dan jangan lupa ya, beri dukunganmu ke karyaku🙏♥️


__ADS_1


__ADS_2