Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 37


__ADS_3

Nadira kini sedang berusaha untuk menghubungi Nia yang menjadi kakak iparnya. Dia berharap wanita itu mengetahui rencana yang sedang dilakukan oleh suami serta ibu mertuanya setelah membawa Tiara kabur darinya.


"Ayolah, Mbak Nia .... Tolong jawab telepon dariku!" gumam Nadira sambil terus bolak-balik di kamar kosannya dengan tidak tenang. Dia benar-benar khawatir Ibu Susan akan melukai putri kecilnya itu.


Tidak berhenti sampai di sana, Nadira juga terus menghubungi Erhan. Dia ingat kalau suami kakak iparnya itu selalu memegang ponsel kemanapun. Jadi, Nadira berharap erham segera menjawab panggilannya dan setelah menunggu beberapa saat, panggilan itu pun terhubung.


"Halo, ini siapa?" tanya Erhan karena tidak mengenali nomor yang digunakan oleh Nadira.


"Assalamu'alaikum, Bang. Ini aku, Nadira. Apa Abang tahu Ibu membawa Tiara ke mana?" tanya wanita muda itu.


"Oh, kamu si biang kerok. Mau apa kamu menghubungiku, hah? Apa kamu tidak cukup membuat keluargaku serta Ibu mertuamu kesusahan?" cecar Erhan begitu mengetahui kalau orang yang menghubunginya adalah Nadira, istri adik iparnya.


"Tunggu, kenapa Abang berbicara seperti itu? Seingatku, aku tidak pernah membuat siapapun kesulitan. Dan, sekarang pun aku hanya ingin menanyakan keberadaan putriku pada kalian," sahut Nadira


"Hah, mana aku tahu ke mana Ibu membawa anak kalian. Aku juga tidak peduli! Justru aku lebih peduli kalau kamu balik lagi ke sini dan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah kamu lakukan!"


"Aku tidak melakukan kekacauan apapun, Bang! Bahkan aku juga tidak mengerti dengan apa yang kalian tuduhkan padaku."


"Ck. Banyak omong sekali kamu, Nadira. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus cepat kembali dan segera bereskan kekacauan ini!" Erhan segera menutup sambungan teleponnya tanpa membiarkan Nadira menjawab kata-katanya.


Nadira mencengkram ponsel jadul yang ada di tangannya. Dia benar-benar kesal karena tidak mendapatkan informasi apapun dari pria yang menjadi kakak iparnya itu. Dan bahkan dari cara bicara Erhan pun, sepertinya sudah terjadi sesuatu yang besar setelah dia pergi dari lingkungan orang-orang itu.


"Kenapa Ibu mempersulitku seperti ini? Mas Danu pun keterlaluan karena sudah memisahkan aku dengan Tiara. Padahal, jika aku dan Tiara tidak ada, dia akan lebih leluasa untuk kembali menikah dengan selingkuhannya." Nadira membatin sendiri.


Suasana kosan itu tampak kosong dan sepi jika tidak ada Tiara. Nadira segera mengganti pakaiannya, dia akan menyusul Tiara yang kini diyakininya sedang bersama Danu serta Ibu Susan.

__ADS_1


***


Cuaca mendung serta angin yang berembus kencang tidak membuat Nadira mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah kontrakan lamanya. Dia harus segera menemukan Tiara di sana dan memastikan putri kecilnya itu baik-baik saja.


Ya Tuhan ... semoga Mas Danu dan Ibu tidak memperlakukan Tiara dengan kasar. Aku sungguh tidak rela kalau mereka sampai menyakiti Tiara seperti sebelumnya, batin wanita itu sambil terus melangkahkan kakinya dengan cepat menuju jalan raya.


Namun, belum sempat Nadira sampai ke jalan raya, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tak jauh darinya.


"Nad, kamu mau ke mana? Kenapa tergesa-gesa seperti itu?" tanya Raka yang menghentikan laju kendaraannya saat melihat Nadira yang sedang jalan terburu-buru.


"Aduh, maaf Pak Raka, saya sedang terburu-buru. Lain kali saja saya jawab pertanyaan Bapak!" Nadira kembali mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan ekspresi Raka yang terlihat lebih nyaman.


Melihat reaksi Nadira, Raka jadi mempunyai pikiran sendiri tentang wanita itu dan apa yang sedang dialaminya. Tidak seperti biasanya Nadira pergi sendirian, apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu padanya dan Tiara, tebak pria itu.


Setelah sampai di jalan raya, Nadira pun segera menghentikan sebuah mobil angkot yang akan membawanya ke tempat pengeteman mobil lain sebelum menuju rumah kontrakan lamanya. Dan, tanpa Nadira sadari ternyata Raka mengikuti dia dari belakang. Entah kenapa rasa penasaran pria itu begitu tinggi sehingga membuatnya nekat membuntuti wanita muda itu.


Ya Tuhan ... kenapa mobil ini jalannya lambat sekali? Tidak bisakah dia mempercepat laju kendaraannya? Nadira terus menggerutu dalam hatinya karena merasa mobil angkot yang dinaikinya itu berjalan dengan sangat lambat.


Setelah turun naik ke berapa mobil, akhirnya Nadira sampai di gang menuju kontrakan rumahnya berada. Dengan hati yang berdebar kencang, Nadira melangkahkan kakinya keluar dari mobil angkot yang tadi dinaikinya. Saat ini hujan sudah turun dengan deras, tapi Nadira tidak menghiraukannya dan terus berjalan menerobos hujan itu agar segera sampai di rumah kontrakan.


Sebenarnya raga melihat apa yang dilakukan oleh Nadira, tapi pria itu merasa segan untuk menghampirinya karena dia tahu kalau daerah itu adalah tempat tinggal lama Nadira, dia tidak ingin ada orang yang berprasangka buruk terhadap wanita itu karena dihampiri olehnya. Jadi, Raka pun hanya bisa memperhatikan Nadira dari jauh.


Sepertinya dugaanku benar, pasti mantan suami Nadira sudah melakukan hal yang tidak tidak pada wanita itu, atau ... mungkin juga Nadira akan merujuk dengannya, batin Raka yang sedikit kecewa karena Nadira tadi siang tidak mengatakan apapun padanya. Padahal, tadi siang mereka bertiga menghabiskan waktu bersama.


Astaga, sepertinya aku jadi pria yang paling buruk sekarang karena tanpa sadar menyukai wanita yang merupakan istri orang lain, gumam Raka lagi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Pria itu pun lantas segera memutar balikan motornya dan bersiap untuk pergi dari sana karena sudah menyadari kesalahan yang diperbuatnya.


"Semoga sekarang kehidupan rumah tanggamu baik-baik saja, Nad."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hallo gengs! Sambil nunggu ini up, baca juga yuk rekomendasi novel hari ini 😊


Judul: Salah Rahim


Nama pena: alya aziz


Arman Alfarizi enggan untuk menikah lagi setelah kematian sang istri, namun sangat ingin mempunyai anak sebagai penerus keluarga.


Teknologi medis yang semakin canggih membuat Arman bisa saja mempunyai seorang anak tanpa harus melalui hubungan badan. Prosedur itu biasa disebut dengan inseminasi buatan. Naas, sel sp*rma Arman yang seharusnya disuntikan ke rahim seorang wanita yang telah disiapkan, malah di suntikan ke rahim Asyifa Khairunnisa.


"Aku tidak pernah melakukan zina seperti yang kalian katakan, aku tidak mungkin hamil!"


Syifa dinyatakan hamil tepat di hari pertunangannya. Sang calon suami yang sudah terlanjur kecewa memutuskan pertunangan begitu saja.


Tepat hari itu pula Arman mengetahui bahwa dokter rumah sakit tersebut telah melakukan kesalahan prosedur inseminasi buatan. Arman pun tidak tinggal diam, ia datang menghampiri Syifa di kediaman orang tuanya.


"Lahirkan anak itu untukku." Arman Alfarizi.


Langkah apa yang akan Syifa ambil selanjutnya?

__ADS_1



__ADS_2