
Sementara itu, di kediaman Danu dan Ibu Susan, saat ini sedang ramai di kunjungi para tetangga yang ingin melihat keluarga Nadira, yaitu Ibu Risma dan Faisal yang merupakan orang tua serta kakaknya Nadira yang dating ke sana. Bukan tanpa alasan keduanya datang ke sana, melainkan karena tadi pagi mereka tiba-tiba didatangi seorang wanita yang mengaku sebagai pengacara Nadira untuk mengurus perceraiannya. Maka dari itu, Ibu Risma dan Faisal mendatangi keluarga mertua Nadira.
“Mbak Risma, ini bukan salah Danu, Nadira sendiri yang ingin berpisah dengan putra saya!” teriak Ibu Susan karena sejak tadi besannya itu terus mendesak Danu agar pria itu mengatakan keberadaan putrinya. Meskipun saat Nadira mendatangi rumahnya malam-malam langsung diusir Faisal, nyatanya Ibu Risma merasa sakit hati dan menyesal sudah berprilaku demikian pada putrinya itu.
“Aku sedang tidak bertanya padamu! Aku sedang bertanya pada menantuku, atau pria yang memaksa putriku untuk menikah dengannya, tapi sekarang justru malah menyakitinya. Aku tahu, Nadira tidak akan pergi dari sini jika dia tidak merasa sakit hati. Aku juga tahu, Nadira tidak mungkin sampai mempunyai pria lain, seperti yang dikatakan oleh Nia tadi!” sahut Ibu Risma karena tadi Nia juga mengatakan kalau Nadira pergi dengan pria yang sudah merusak rumah tangganya.
Ibu Susan mengepalkan tangannya dengan erat serta rahang wanita itupun ikut mengeras seakan dia ingin langsung menyerang Ibu Risma yang sudah datang tanpa diundang dan diharapkan.
“Bu, jangan sampai Ibu melukai Ibunya Nadira, bisa-bisa dia semakin berbuat yang tidak-tidak terhadap keluarga kita,” bisik Nia yang melihat ibunya marah pada Ibu Risma.
“Bagaimana Ibu bisa tenang, Nia? Dia benar-benar mengganggu kita, sama seperti putrinya yang selalu membuat kita kesusahan. Padahal, kalau wanita itu tidak berulah, kita tidak akan jadi seperti ini. Mana di luar banyak para tetangga yang berkumpul membicarakan keluarga kita. Mau ditaruh di mana wajah Ibu, Nia?” jawab Ibu Susan.
Pembicaraan Ibu Susan dan Nia tentu saja diketahui oleh Faisal dan Ibu Risma, tapi kedua orang itu tidak peduli dan tetap meminta Danu mencari Nadira.
“Danu, Ibu tidak mau tahu, kamu harus mencari Nadira dan kembalikan dia pada Ibu dan Faisal!” pinta Ibu Risma dengan
tegas.
“Tapi aku tidak tahu ke mana Nadira pergi, Bu,” jawab Danu dengan malas karena sejak tadi Ibu Risma terus memaksanya mencari Nadira dan Tiara, sementara dirinya sedang enggan untuk pergi ke luar rumah saat ini. Rasanya Danu terlalu malu harus menunjukkan wajahnya pada para tetangga.
“Aku tidak mau tahu bagaimana caramu menemukan Nadira, Danu! Aku hanya ingin putriku kembali padaku!” jawab Ibu Risma
tanpa menurunkan nada bicaranya.
Danu mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar jawaban ibu mertuanya. “Bu, Nadira yang memilih untuk pergi dariku! Bahkan sudah hampir dua bulan ini, wanita itu melupakan status kami sebagai suami istri! Lalu, kenapa sekarang Ibu memaksaku untuk menemukannya?” sahut pria itu dengan suara yang tak kalah tingginya dari Ibu Risma.
Faisal tidak terima ibunya diteriaki oleh adik iparnya. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Danu. Tanpa aba-aba, tiba-tiba pria itu langsung menampar wajah Danu hingga terlihat jelas cap lima jadi di wajah adik iparnya itu.
‘PLAK’
Danu langsung tersungkur ke belakang saat Faisal menamparnya. Dia tampak terkejut, begitu pula dengan Ibu Susan dan Nia, kedua wanita seketika berteriak kaget.
__ADS_1
“Danu!”
Ibu Risma langsung menahan putranya yang hendak kembali melayangkan tinjuannya ke wajah menantunya. Dia tidak ingin
sampai kejadian ini merugikan dia dan keluarganya.
“Fai, sabar! Jangan seperti ini. Ibu mengajakmu datang kemari untuk menemani Ibu saja!” kata Ibu Risma yang tidak ingin putranya menghajar Danu lagi.
“Tapi, Bu … dia sudah membentak Ibu. Aku tidak terima Ibu diperlakukan seperti ini,” jawab Faisal.
“Tidak apa-apa, Fai. Ibu baik-baik saja. Ibu hanya ingin Danu mencari keberadaan adikmu saja. Ibu benar-benar khawatir.”
Faisal menghela napas panjang setelah mendengar ucapan ibunya. Tadinya dia juga menolak untuk menemani sang ibu menemui keluarga mertua adiknya, tapi Ibu Risma tetap memaksa sambil memohon-mohon padanya, hingga membuat dia tidak kuasa untuk menolaknya.
Nadira … gara-gara kamu, Ibu sampai dibentak-bentak seperti ini oleh keluarga mertuamu, batin Faisal yang lagi-lagi justru malah menyalahkan adik perempuannya.
Melihat suasana yang kembali sepi, membuat Danu memanfaatkan waktu itu untuk kabur dari sana. Dia tidak peduli pada ibu serta kakak perempuannya. Padahal, saat ini kakak iparnya atau Erhan
“Dan, kamu mau ke mana?” tanya Nia sambil menahan tangan adiknya agar tidak pergi dari rumah.
“Aku mau keluar, Mbak.” Danu menghempaskan tangan Nia dan lekas pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Melihat Danu yang tiba-tiba pergi, Faisal tidak tinggal diam. Dia langsung menyusul adik iparnya.
“Mau kabur ke mana kamu, hah?” tanya Faisal sambil menahan bahu adik iparnya.
“Lepas! Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk mencari Nadira?” geram Danu yang kesal karena Faisal yang menghalangi
langkahnya.
"Bohong! Kamu pasti berniat untuk kabur dari sini 'kan? Ingat, Danu ... aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah menyakiti hati Ibuku yang kamu bentak tadi. Bahkan aku saja yang merupakan putra kandungnya tidak pernah melakukan hal itu dan siapa kamu yang berani-beraninya membentak Ibuku, hah?" tanya Faisal tanpa mempedulikan Danu yang saat ini sedang berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman pria itu.
__ADS_1
"Ck. Aku tidak peduli! Ibumu dulu yang sudah membentakku. Aku hanya membuat dia merasakan bagaimana perasaan dibentak oleh orang lain," sahut Danu.
Emosi Faisal kini semakin membuncah setelah mendengar perkataan Danu. Pria itu hendak kembali melayangkan tamparannya di wajah Danu, tetapi harus terhenti di udara karena tiba-tiba ....
'AKH'
Suara Ibu Risma terdengar berteriak dari dalam rumah Ibu Susan dan hal itu tentu saja membuat Faisal terkejut. Dia langsung kembali masuk ke rumah Ibu Susan dan melepaskan Danu, saat ini ibunya lebih penting daripada menahan Danu yang akan pergi.
"Ibu?" panggil Faisal ketika melihat ibunya yang sudah tersungkur di bawah meja.
"Apa yang kalian lakukan pada Ibuku?" tanya pria itu pada kedua wanita yang ada di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Nia dan Ibu Susan yang tampak gemetar ketakutan.
Mereka tidak menyangka jika tindakannya tadi membuat wanita paruh baya itu jatuh membentur pinggiran kursi.
"Ka–kami ...."
Diantara Ibu Susan dan Nia, Nia lah yang paling terlihat gemetar. Wanita itu bersembunyi dibalik punggung ibunya.
"Bu ...."
"Shut!" Ibu Susan meminta Nia agar tidak berbicara dulu karena dia sendiri pun bingung harus bersikap seperti apa. Dia tidak menyangka kalau Nia akan berani mendorong besannya itu ketika sedang beradu mulut dengan ibunya Nadira.
Faisal segera membantu ibunya untuk kembali duduk di kursi, sebelum akhirnya dia menuntun wanita itu keluar dari rumah tersebut. Namun, sebelum pergi dari sana, Faisal tidak lupa memberikan ultimatum pada kedua wanita itu.
"Kalian sudah berani menyentuh Ibuku, maka kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal!" ucap Faisal sambil menatap tajam Nia. Dia yakin kalau wanita itulah yang sudah membuat ibunya terjatuh.
Setelah memberikan ultimatum itu, Faisal pun mengajak Ibu Risma pergi dari sana. Dia tidak peduli jika ibunya itu menolak untuk pergi dari sana.
"Bu, kita harus segera pergi dari sini. Aku tidak mau melihat ibu sampai dipermalukan lagi oleh mereka," ucap Faisal saat ibunya menolak pergi.
"Tapi, Fai ... Ibu masih belum mengetahui keberadaan adikmu. Ibu yakin, sebenarnya mereka mengetahui sesuatu, tapi mereka berusaha menutupinya."
__ADS_1