Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 66


__ADS_3

Semilir angin berembus mesra, meniup dedaunan kuning yang siap gugur dari pohon, menemani langkah ringan seorang wanita


muda yang baru saja keluar dari gedung pengadilan agama. Wajah ayunya tampak lebih ceria dari biasanya selepas dia menyandang status baru. Untuk sebagian orang, mungkin status ‘Janda’ tampak murahan dan remeh. Namun, dibalik itu semua nyatanya bisa perlahan menyembuhkan luka batin orang itu, luka yang sampai kapanpun tak akan pernah hilang dan akan selalu berbekas di hatinya.


Setelah menunggu hampir tiga bulan lamanya status wanita itu digantung, kini ia bisa bernapas lega karena surat cerai sudah ada di tangannya. Ya, Nadira segera kembali ke Bandung seusai mendengar kabar bahwa Danu siap menceraikannya. Dia memang tidak langsung menemui pria itu, melainkan pergi ke rumah Ibu Risma karena Nadira tidak bisa membawa Tiara saat persidangan berlangsung. Bukan hal mudah untuk Nadira menemui ibunya itu, apalagi di sana juga ada Faisal yang siap akan mengusirnya lagi. Akan tetapi, dugaannya sedikit meleset, meskipun Faisal tampak marah saat melihat kedatangannya, tapi pria itu tak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan, saat Ibu Risma menangis haru karena kepulangan Nadira, dia hanya diam saja. Entah apa yang dipikirkan olehnya saat itu.


“Bagaimana perasaan kamu sekarang, Nad?” tanya Ibu Risma pada putrinya yang baru saja tiba di hadapannya.

__ADS_1


“Baik, Bu. Sekarang aku merasa jauh lebih baik,” jawab Nadira sambil tersenyum lebar, seakan dia bari saja melepaskan beban yang selama ini menghimpit dadanya.


Sebenarnya apa yang selama ini terjadi di rumah tanggamu, Nad? Kenapa kamu begitu bahagia dengan statusmu ini? Apa yang selama ini mereka lakukan padamu, batin Ibu Risma dengan lirih. Tak ada satu pun ibu yang tidak sakit hati ketika melihat rumah tangga putrinya hancur dan berujung perpisahan. Sekelebat penyesalan lagi-lagi merasuki hati Ibu Risma. Dia yang selama ini menutup mata dan telinganya hanya karena kesal serta kecewa dengan keputusan pilihan Nadira saat itu, kini menyesali semuanya.


“Maafkan Ibu, Nad,” gumam Ibu Risma lirih.


“Kenapa Ibu minta maaf?” tanya Nadira yang merasa heran.

__ADS_1


“Ibu ….” Nadira membalas pelukan sang ibu. Dia yang tadinya enggan untuk menangis, tapi tetap saja air matanya tak bisa ia bendung. Ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru karena dia bisa kembali merasakan hangatnya keluarga, setelah rumah tangganya usai.


“Ibu jangan bersedih seperti ini. Aku sudah baik-baik saja. Tolong percayalah padaku, Bu. Aku tidak selemah yang Ibu bayangkan,” ucap Nadira lagi. “Sudah. Ibu jangan merasa bersalah lagi.” Wanita itu melepas rangkulannya karena kasihan pada Tiara yang berada di tengah mereka.


“Iya, Nad. Ibu percaya kalau kamu bukan wanita yang lemah. Tapi tetap saja, rasanya—”


“Kalau Ibu percaya, sekarang tolong berhentilah menangis!” potong Nadira dengan halus. Bukan tanpa alasan Nadira

__ADS_1


berbicara seperti itu, tapi dari kejauhan dia melihat ada Ibu Susan, Danu, Nia, Erhan dan tak ketinggalan juga Anita yang sedang berjalan menghampirinya.


Ada apa lagi mereka mendatangiku? batin wanita itu


__ADS_2