
"Aku hanya seorang janda," jawab Nadira sambil tersenyum kecil. Tak ada niat sedikitpun di hati Nadira untuk menutupi status barunya pada Ibu Santi.
Mendengar jawaban Nadira, Ibu Santi cukup terkejut dan tidak menyangka kalau wanita mudah dihadapannya seorang single parent yang dituntut mandiri oleh keadaan.
"O–oh, ma–maaf, Nadira. Ibu tidak bermaksud untuk menyinggungmu, hanya saja ... apa Ibu boleh tahu apa yang membuat kamu berpisah dengan suamimu?" tanya Ibu Santi dengan hati-hati. Entah kenapa, hatinya merasa lega saat mengetahui status Nadira itu.
Nadira memilih diam tanpa menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan Ibu Santi, saat ini dirinya masih belum siap untuk membicarakan alasan perpisahannya dengan sang suami. Hal ini karena dia memang belum benar-benar sembuh dengan rasa sakit hatinya. Jadi, Nadira masih belum siap mengungkit suatu hal yang bersangkutan dengan Danu.
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu yang satu ini," jawab Nadira dengan suara pelan. Dia berharap Ibu Santi mengerti dengan perasaannya saat ini dan tidak lagi mempertanyakan alasan perpisahannya.
Meskipun sedikit merasa kecewa karena Nadira tidak menjawab pertanyaannya, Ibu Santi pun mengganggu dan berkata, "Ya sudah, kalau memang kamu merasa keberatan, kamu tidak perlu menjawabnya."
"Terima kasih, Bu."
Setelah mengucapkan kata terima kasih, keheningan pun menyelimuti keduanya yang terdengar hanyalah suara ocehan dari Tiara, hingga membuat ruangan itu tidak terlalu sepi.
"Oh, ya ... ngomong-ngomong, ada perlu apa Ibu Santi datang kemari? Bukankah seharusnya Ibu masih beristirahat di rumah?" tanya Nadira setelah beberapa saat terdiam.
"Tidak ada. Ibu datang kemari hanya karena Ibu merasa bosan saat berada di rumah sendirian. Jadi karena Ibu juga ingin tahu tempat tinggalmu, Ibu mendatangi alamat yang kamu berikan kemarin," jawab Ibu Santi.
Ya, Nadira sempat memberikan alamat rumahnya pada Ibu Santi saat wanita paruh baya itu memintanya. Awalnya Nadira mengira kalau itu hanya sekedar basa-basi saja karena dia cukup tahu bagaimana seseorang akan berterima kasih padanya.
__ADS_1
"Oh .... Terima kasih Ibu sudah mau datang dan singgah di kediamanku dan ... maaf karena aku juga tidak bisa menjamu Ibu dengan benar," ucap Nadira yang merasa sedikit sungkan.
"Tidak apa-apa, Nadira. Justru Ibu yang meminta maaf karena datang kemari secara tiba-tiba tanpa memberitahukanmu lebih dulu," jawab Ibu Santi.
Keduanya banyak bercerita tentang hal yang membuat Nadira nyaman dan sebisa mungkin Ibu Santi juga tidak menyinggung perceraian wanita muda di hadapannya.
"Oh, ya ... ngomong-ngomong kamu sudah lama berjualan makanan seperti ini?" tanya wanita paruh baya yang kini sedang memangku Tiara. Entah kenapa, dia merasa senang saat sedang menggoda bayi kecil itu.
"Sudah beberapa bulan, Bu. Mungkin kalau aku tidak salah ingat, aku sudah berjualan sekitar dua bulan lamanya," jawab Nadira sambil mengingat pertama kali dia datang ke tempat itu hanya berdua dengan Tiara.
"Oh, berarti masih baru, ya?"
"Iya, Bu."
Nadira tersenyum tipis seraya menunduk dan menggelengkan kepalanya. "Bukan, Bu. Aku berasal dari Bandung. Aku kemari setelah mengajukan perceraian," ucapnya lirih.
Ibu Santi tampak terkejut dengan jawaban Nadira. Ya Tuhan ... sebenarnya apa yang sudah terjadi pada anak ini? Kenapa aku merasa kalau dia memiliki luka yang sulit untuk sembuh? tanya Ibu Santi dalam hatinya.
"O–oh. Rupanya jauh juga kamu merantau, ya?"
"Iya, Bu."
__ADS_1
"Apa sebelumnya kamu pernah bekerja?" tanya Ibu Santi lagi. Tidak tahu kenapa, dia merasa begitu penasaran dengan masa lalu Nadira dan tempat asal wanita muda itu.
"Pernah, Bu. Aku pernah bekerja di salah satu pabrik sepatu yang ada di sana. Tapi tidak terlalu lama karena saat itu aku masuk setelah beberapa hari lahiran dan segera resign setelah sesuatu terjadi pada keluargaku," jelas Nadira.
"Oh, ya Tuhan .... Berarti, kamu meninggalkan anakmu yang saat itu masih merah, ya?"
Nadira kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Aku juga terpaksa meninggalkan putri kecilku, tapi karena aku ingin membantu ekonomi keluarga kami, jadi aku menguatkan hati untuk meninggalkannya bersama mertuaku. Akan tetapi ... semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapanku ...." Nadira menghentikan ucapannya karena dia merasa sudah terlalu banyak berbicara.
"Akh, maaf. Tidak seharusnya aku mengatakan hal ini pada Ibu," tambah wanita itu lagi.
"Tidak apa-apa. Kalau memang kamu butuh teman untuk bercerita, Ibu bisa mendengarkannya," ucap Ibu Santi.
"Terima kasih, Bu."
Nadira memilih untuk tidak kembali melanjutkan ceritanya dan hanya diam, hingga membuat suasana diantara kedua wanita itu kembali hening. Tak berapa lama kemudian, ponsel milik Ibu Santi terdengar berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Nadira sempat melihat foto seseorang yang begitu dikenalnya karena ponsel wanita paruh baya itu hanya diletakkan begitu saja.
"Ya Tuhan ... anak ini menghubungiku secara tiba-tiba, mengagetkan saja," gerutu Ibu Santi saat melihat siapa yang kini tengah menghubunginya. Ibu Santi pun meminta izin pada Nadira untuk mengangkat panggilan tersebut dan memberikan Tiara ke pangkuan mamanya.
"Nadira, Ibu izin angkat telepon anak Ibu dulu, ya!" pamitnya seraya berjalan keluar rumah.
Sementara itu, Nadira yang masih terkejut hanya bisa mengangguk dan mempersilakan Ibu Santi untuk menerima panggilan.
__ADS_1
Tidak mungkin yang aku lihat tadi itu foto Pak Raka, batinnya.