Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 72


__ADS_3

Keadaan yang dialami Danu jauh berbeda dengan keadaan Nadira saat ini. Ibu muda satu anak itu memutuskan kembali ke tempat perantauannya setelah urusannya dengan Danu selesai.


“Nad, kamu yakin akan Kembali lagi ke Surabaya hari ini?” tanya Ibu Risma saat menghampiri Nadira yang sedang mengemasi barang-barangnya di kamar sambil menemani Tiara.


“Iya, Bu. Aku akan kembali ke sana karena aku merasa sudah nyaman berada di sana,” jawab Nadira seraya mengalihkan


perhatiannya pada sang ibu yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


“Apa kamu tidak bisa tinggal lagi di sini? Ibu khawatir kamu akan kesusahan di sana sendirian. Kamu tahu sendiri, Ibu tidak bisa menemani kamu tinggal di sana karena istri Kakakmu sedang hamil muda,” ucap Ibu Risma yang kini memilih masuk ke kamar Nadira dan duduk di atas kasur bersama Tiara, sang cucu.


“Tidak, Bu. Aku sudah memiliki usaha kecil di sana. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lagi pula, ini sudah jadi keputusanku untuk tetap tinggal di sana,” jawab Nadira.


“Tapi, Nad—” Ibu Risma tetap merasa berat hati saat Nadira kukuh dengan keputusannya untuk tetap kembali ke perantauan.


“Ibu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja. Ibu hanya perlu mendoakanku saja.”


“Ibu pasti akan selalu mendoakan kamu, Nad. Tapi ….” Lagi-lagi Ibu Risma merasa bimbang. Bagaimana tidak, dia juga seorang ibu yang tentu saja kini tidak ingin melihat anak perempuannya


kesusahan seorang diri di perantauan, apalagi Nadira juga membawa putrinya yang masih bayi, tentu itu bukan hal mudah.


“Terima kasih, Bu. Tapi seperti yang aku katakan tadi, Ibu tidak perlu mengkhawatirkanku.” Nadira bangkit dari tempatnya duduk dan memeluk sang ibu.  Entah sudah berapa kali Nadira memeluk Ibu Risma hari ini, yang pasti hal itu ia lakukan untuk menenangkan hatinya yang sempat merasa kacau. Ya, tak ada yang menyadari kalau pertemuannya dengan Danu selepas sidang itu usai, menyisakan luka hati yang Nadira sembunyikan sendiri. Namun, jika ditanya ‘Apakah Nadira menyesal bercerai dengan Danu?’ Jawabannya tentu ‘Tidak’. Ini adalah keputusan terbaik menurutnya.

__ADS_1


Ibu Risma menarik napasnya pelan, meskipun hatinya merasa berat membiarkan Nadira pergi lagi, tapi setidaknya sekarang ia merasa lebih baik karena Nadira sudah terlepas dari jerat pernikahannya dengan Danu, pria yang hanya memanfaatkan putrinya saja.


“Baiklah. Jika memang ini sudah menjadi keputusanmu, Ibu tidak akan melarangmu lagi. Pergilah ke tempat yang membuatmu nyaman dan jaga dirimu baik-baik di sana,” ucap Ibu Risma pada akhirnya.


Nadira menganggukkan kepalanya. “Iya, Bu. Aku pasti akan menjaga diriku dan Tiara dengan baik,” sahut wanita muda itu.


Setelah beberapa saat berpelukan, Nadira pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai tadi. Semuanya


harus segera beres sebelum jam makan siang karena bus yang akan Nadira tumpangi itu akan berangkat tepat pukul satu siang.


Setelah semua persiapannya selesai, Nadira diantar Ibu Risma dan Faisal ke salah satu terminal. Siang itu tampak sedikit mendung meskipun belum ada rintik hujan yang turun.


“Nad, apa kamu sungguh tidak bisa diam dan tinggal di sini saja?” Kali ini pertanyaan itu keluar dari bibir Faisal. Setelah beberapa hari lalu pria itu menghindar berbicara dengan sang adik, tapi


“Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Tentu saja aku tidak ingin tinggal dan diam di sini. Aku ingin hidup mandiri di tempat yang membuatku nyaman.”


“Apa kamu merasa tidak nyaman tinggal bersama kami?” tanya Faisal lagi.


Nadira menggelengkan kepalanya. "Aku nyaman tinggal bersama kalian, tapi hal itu mungkin tidak akan membuatku mandiri, Kak.


Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa mengurus Tiara dengan baik, meskipun tanpa campur tangan kalian,” sahut Nadira lagi.

__ADS_1


“Kamu bisa membesarkan Tiara dengan baik, Nad. Tapi bukan dengan cara menjauhkan keluargamu sendiri!”


“Ada beberapa hal yang tidak akan bisa dimengerti olehmu, Kak. Aku melakukan ini bukan untuk menunjukkan keberhasilanku pada kalian saja, tapi aku juga ingin membungkam mulut orang-orang yang sudah merendahkanku. Percayalah … aku bisa mengatasi semuanya dengan baik.” Nadira meyakinkan Faisal atas keputusan yang diambilnya. Nyatanya meskipun Nadira tampak seakan tidak merasa sakit hati atas ucapannya beberapa bulan lalu, tapi dendam yang tersirat dalam ucapan wanita muda itu kali ini membuat Faisal sadar kalau Nadira juga merasa sakit hati atas ulahnya.


“Aku mengerti. Kamu pasti merasa kecewa dengan sikapku beberapa bulan lalu ‘kan? Baiklah. Aku tidak akan melarangmu lagi,” ucap Faisal pada akhirnya.


Nadira menganggukkan kepala. “Terima kasih karena sudah mau mengerti. Dan … aku minta maaf kalau keputusanku ini melukai


egomu. Sungguh, aku hanya ingin membuktikan pada kalian, kalau aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri di atas pilihan yang aku pilih,” ucap Nadira.


Faisal hanya menganggukkan kepalanya sesaat dengan menunduk, menahan air mata yang hendak keluar. Dia benar-benar menyesal karena sudah membuat adik perempuannya sakit hati dengan perkataan yang pernah diucapkannya.


Tak lama setelah percakapan itu usai, tibalah bis yang akan ditumpangi Nadira dan dan Tiara di hadapan mereka. Faisal


membantu Nadira untuk menaikkan tasnya ke dalam bagasi yang ada di atas tempat duduk penumpang. Sementara Nadira bersalaman untuk pamit pada sang ibu.


“Bu, aku pamit dulu, ya! Ibu jaga diri baik-baik di sini dan datanglah sesekali ke perantauanku,” ucap Nadira di sela-sela pelukannya.


“Iya, Nad. Kamu juga harus menjaga dirimu baik-baik di sana. Ibu pasti akan datang sesekali ke sana untuk menengokmu,” sahut Ibu Risma.


“Iya, Bu. Aku akan menunggu Ibu di sana.”

__ADS_1


Setelah berpamitan, Nadira lekas segera naik ke dalam bus. Kali ini dia pergi dengan hati yang tenang serta harapan baru. Berharap dia mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya selama ini, meskipun hanya hidup berdua dengan sang putri, Tiara.


__ADS_2