
Anita terdiam sambil mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh ibunya. Dia berpikir bagaimana bisa ibunya justru malah menyalahkan dirinya dan berharap pernikahan dia serta Danu kelak akan kembali hancur karena kehadiran orang ketiga.
"Bu, aku tidak berpikir sampai ke sana. Justru aku merasa heran dengan ibu yang malah membela Nadira terus menerus. Kalaupun memang Nadira saat ini rumah tangganya hancur, itu bukan salahku. Dia sendiri yang tidak bisa menjaga suaminya dengan benar, sampai-sampai membuat Mas Danu berpaling padaku. Jadi, jangan samakan nasibku dengannya!" kata Anita panjang lebar.
Danu mengangguk-anggukan kepalanya menyetujui ucapan sang kekasih. Dia juga tidak berharap rumah tangganya akan kembali hancur, seperti saat dengan Nadira. Namun, reaksi Danu tidak sama dengan reaksi kedua orang tua Anita sendiri. Kedua paruh baya itu menggelengkan kepalanya atas ucapan putri mereka. Pak Santo benar-benar dibuat kesal oleh ulah Anita saat ini.
"Anita, kamu dan Danu itu belum nikah, jadi bagaimana bisa kamu memprediksikan kalau pria itu tidak akan berpaling darimu, hah?" bentaknya.
"Aku bisa menebaknya, Yah. Aku yakin Mas Danu akan setia denganku karena dia sudah merasa nyaman. Selama hampir satu tahun ini Mas Danu selalu mengutamakanku dan selalu menuruti apa yang aku inginkan—"
"Dia melakukan hal itu karena supaya memancing perasaanmu saja, Anita! Laki-laki akan berusaha melakukan apapun yang mereka inginkan di saat-saat awal. Tapi, mereka akan mencampakkannya setelah apa yang diinginkannya sukses tercapai!" potong Ibu Mita.
"Tante, bagaimana bisa Tante menilaiku seperti itu? Apa Tante sungguh tidak bisa merasakan ketulusanku dan keseriusanku pada Anita?" tanya Danu dengan kesal karena di depan mata kepalanya sendiri, Ibu Mita menjelek-jelekkan dia.
"Cih. Apa kamu tidak punya malu dengan mengatakan semua ini ketulusanmu? Lalu, apa kamu tidak kembali mengingat bagaimana usahamu untuk mendapatkan restu keluarga Nadira dulu? Apa kamu tahu, gara-gara Nadira kukuh ingin menikah denganmu, Ibu Risma dan Faisal sampai mengusirnya dari rumah, tepat setelah akad kalian selesai?" tanya Ibu Mita. Dia mengetahui hal itu karena kebetulan saudara Pak Santo merupakan tetangga dekat Ibu Risma. Meskipun Ibu Risma sendiri tidak mengetahui hal itu.
Danu dibuat terkejut sekaligus terdiam mendengar penuturan tantenya. Dia sama sekali tidak mengetahui hal itu karena Nadira sendiri tidak pernah membicarakannya. Bahkan, Danu juga tidak pernah merasa curiga ketika hari raya Nadira menolak untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"A–apa maksud Tante berbicara hal itu? Dari mana Tante mengetahui hal tersebut?" tanyanya dengan terbata-bata.
"Kamu tidak perlu mengetahui dari mana aku bisa tahu hal itu. Yang pasti, kalau kamu memang tulus ingin bertanggung jawab, maka selesaikanlah dulu masalahmu dengan Nadira. Setelah semuanya selesai, silakan temui kami lagi untuk membicarakan masalah kalian kedepannya." Pak Santo langsung menyahuti ucapan Danu hingga membuat pria itu bungkam dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalahku dengan Nadira, sementara aku sendiri tidak tahu keberadaan wanita itu, batinnya dengan kesal. Akh, andai saja Om Santo dan Tante Mina tidak
bersikap seperti ini, sudah pasti aku akan langsung menikahi Anita. Atau … jangan-jangan mereka memang tidak berniat untuk menikahkan Anita denganku? tanya Danu dalam hatinya sambil menatap kedua paruh baya itu.
“Kenapa kamu menatap kami seperti itu?” tanya Pak Santo saat mendapati Danu yang tengah menatapnya dengan pandangan menyelidik.
“Eh, tidak, Om. Aku—”
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang kami, Danu! Kami tidak sebodoh yang kamu kira,” ucap Pak Santo lagi saat Danu belum selesai menjawab pertanyaannya.
“Yah, tolong jangan bersikap seperti itu pada Mas Danu. Aku tidak terima Ayah memperlakukan Mas Danu seperti itu!” seru Anita secara tiba-tiba. “Dia adalah ayah dari anakku. Aku tidak terima Ayah bersikap kasar padanya!”
penjarakan saat ini juga. Jadi, jangan bela dia lagi karena aku juga tidak berbuat kasar padanya,” jawab Pak Santo dengan membentak Anita agar anak perempuannya itu diam dan tutup mulut. Sungguh, demi apapun dia merasa kesal yang amat sangat pada sepasang sejoli itu. Apalagi Anita yang terus membela Danu
seakan-akan pria itu lebih berharga dari harga dirinya sendiri.
Astaga … bagaimana bisa aku memiliki anak yang seperti ini, batinnya.
Ibu Mina mengusap bahu suaminya agar tidak sampai lepas kendali pada emosinya. Dia juga merasakan hal yang sama dengan sang suami terhadap putrinya itu. Namun, dia harus menahannya agar tidak sampai membuat Anita terluka, apalagi sekarang dalam kondisi berbadan dua.
“Anita, apa yang dikatakan oleh Ayahmu itu, benar. Tidak seharusnya kamu terus membela Danu. Apa mata hatimu sudah
__ADS_1
benar-benar tertutup, sampai-sampai kamu terus menentang Ayah dan Ibu seperti ini?” tanya wanita paruh baya itu.
“Bu, jika saja Ayah dan Ibu tidak mempersulit aku serta Mas Danu dalam masalah ini, aku pasti tidak akan bersikap seperti ini! Aku begini karena kalian sendiri yang tidak mau menerima Mas Danu
dengan mudah, malah mempersulitnya.”
“Bagian mana yang sulit, Anita? Ibu dan Ayah hanya meminta Danu menyelesaikan urusannya dulu dengan Nadira supaya kedepannya dia bisa benar-benar hanya fokus padamu dan anak kalian saja. Jika itu membuat dia kesulitan, bagaimana dengan anak dan kamu nanti, hah? Apa kamu mau menjadi gunjingan orang-orang? Apa kamu sungguh-sungguh akan membiarkan Ibu dan Ayahmu ini menanggung malu?” tanya Ibu Mina panjang lebar.
“Aku—”
“Kamu memang benar-benar sudah gelap mata, Anita. Jika kamu sudah tidak bisa menerima perkataan Ibu dan Ayah lagi, maka silakan kamu lalukan apa yang kalian inginkan. Ayah dan Ibu tidak akan melarangnya lagi. Percuma kami mengatakan apapun karena kamu tidak mau mendengarkannya. Tapi, jika suatu saat nanti ada masalah, jangan cari kami. Kami sudah berusaha untuk menyadarkanmu dari awal, tapi rupanya kamu tidak mengerti dengan maksud kami,” tutur Ibu Mina sebelum bangun dari tempat duduknya dan menarik Pak Santo untuk keluar dari kontrakan kosan putrinya. Dia sudah tidak tahu lagi harus bicara seperti apa pada Anita, putrinya itu benar-benar keras kepala dan tidah mau menerima masukan lagi darinya.
“Ibu dan Ayah mau ke mana?” tanya Anita saat kedua orang tuanya berdiri dari tempat duduk mereka.
“Tentu saja kami mau pulang. Untuk apa kami terus berada di tempat yang memang sudah tidak memerlukan keberadaan kami
lagi,” sahut Ibu Mina sembari keluar dari ruangan berukuran 4*4 meter itu.
“Tapi, Bu … bagaimana urusanku dengan Mas Danu? Ibu dan Ayah tidak akan membiarkanku hamil tanpa suami ‘kan?”
“Bukankah itu pilihanmu?” tanya Ibu Mina sambil berlalu pergi dari sana tanpa menghiraukan Anita yang masih menatap bingung dirinya dan sang suami.
__ADS_1