
Ini sudah berjalan hampir dua minggu lamanya setelah Nadira pergi dari rumah Danu. Namun, pria itu masih belum bisa menemukan keberadaan wanita yang menjadi ibu dari putrinya, Tiara. Alasannya Danu enggan untuk menandatangani surat perceraian yang diajukan oleh Nadira padanya, hingga dia beberapa kali berdusta pada Anita dan mengatakan bahwa dirinya tidak mendapatkan nomor Nadira dari pengacara istrinya itu. Padahal pada kenyataannya Danu memang sama sekali tidak pernah menemui pengacara Nadira.
"Mas, apa kamu akan tetap membiarkanku hamil tanpa seorang suami?" tanya Anita untuk kesekian kalinya. Hubungan di antara mereka sudah tidak semulus saat Danu masih bersama Nadira, percocokan diantara keduanya sering terjadi. Apalagi saat Anita terus-menerus meminta pertanggungjawaban dari pria itu, sementara keluarganya ingin Danu menyelesaikan urusannya dulu dengan Nadira.
"Berapa kali aku harus mengatakan padamu, Nita ... aku sudah berusaha membujuk pengacaranya Nadira untuk memberikan nomor ponsel wanita itu, tapi dia terus-menerus menolaknya dengan alasan demi keselamatan Nadira. Bahkan itu juga atas permintaan Nadira sendiri untuk menyembunyikan di mana keberadaannya sekarang," jelas Danu dengan sangat meyakinkan. Sebenarnya dia sendiri pun lelah jika terus-menerus berbohong pada kekasihnya, tapi Danu juga belum benar-benar siap kehilangan Nadira. Entah kenapa, setelah perpisahannya dengan sang istri, Danu merasa sedikit kehilangan dan hati kecilnya mengatakan kalau dia menyesal sudah mengabaikan istri serta anaknya itu.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu! Kamu pasti sedang berbohong 'kan?" tanya ibu hamil itu lagi dengan penuh selidik. Dia tidak mempercayai perkataan Danu karena dia menyadap aplikasi pesan pria itu dan tidak menemukan percakapan apapun pada pengacara Nadira. Anita sama sekali tidak menemukan bukti bahwa danau sudah berusaha untuk menghubungi wanita itu. Jadi, dia bisa menyimpulkan kalau saat ini Danu sedang membohonginya.
"A–apa? Apa maksudmu bertanya seperti itu padaku? Apa kamu sudah mulai tidak mempercayaiku?" Ekspresi Danu jadi sedikit gugup saat mendapatkan tatapan tajam dari Anita. Dia sedikit khawatir kekasihnya itu mengetahui kebohongannya.
"Apa kamu sungguh memintaku untuk mempercayaimu, Mas?" Wanita itu kembali bertanya sambil terus-menerus menyudutkan posisi Danu.
"Tentu saja kamu harus mempercayaiku karena biasanya juga seperti itu," jawab pria itu sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia sungguh tidak berani menatap mata tajam Anita secara langsung, bisa-bisa kebohongannya terungkap saat itu juga dan Anita mungkin akan membencinya.
"Iya. Biasanya aku memang mempercayaimu. Bahkan saking percayanya aku padamu, kamu justru malah memanfaatkanku," sahut Anita sambil menyeringai tipis.
Lagi-lagi Danu dibuat gelagapan oleh seringai wanita hamil itu.
"A–Anita, a–aku sungguh selalu berkata jujur padamu. Kenapa kamu masih meragukanku?"
"Kamu pikir, aku akan percaya begitu saja dengan kata-katamu, Mas? Sudah cukup kamu membuat hubunganku dan keluargaku jadi merenggang, sekarang kamu juga malah membuatku hamil tanpa seorang suami. Jadi, apa aku harus diam saja saat mengetahui kamu bahkan menganggap ocehan ku ini hanya omong kosong saja?"
__ADS_1
"A–aku ...."
"Jangan terus-menerus untuk mencoba membela diri sendiri, Mas! Rumah tanggamu sudah pernah gagal bersama Nadira, kamu bahkan membohonginya demi aku. Lalu ... apa kamu pikir aku akan percaya kalau saat ini kamu sedang berkata jujur?"
Danu terkesiap mendengar pertanyaan Anita. Sekarang dia sadar kalau wanita hamil itu mungkin sudah menyadari kebohongannya.
"Baiklah, baiklah .... Aku minta maaf karena sudah mengelabuimu. Sekarang aku akan jujur kalau aku belum menemui pengacaranya Nadira," jawab Danu pelan dengan mata yang melirik ke arah lain. Dia sedang berusaha menghindari tatapan wanita hamil itu.
Anita membulatkan matanya saat mendengar jawaban jujur dari Danu. Akan tetapi, reaksi yang ditunjukkannya hanyalah anggukan kepala samar.
"Apa alasan kamu tidak menemui pengacaranya Nadira? Bukankah kamu mengatakan kalau hanya dia orang satu-satunya yang mengetahui di mana mantan istri serta anakmu itu berada sekarang? Lalu apa alasanmu tidak menemuinya? Apa kamu sungguh berniat tidak mau mempertanggungjawabkan kehamilanku ini?"
"Jawab dengan jelas!" bentak ibu hamil itu lagi.
"Aku ... aku belum menemuinya karena sibuk. Dia juga belum mempunyai waktu luang setiap kali aku pergi ke kantornya," kilah Danu.
"Sungguh? Apa kamu sedang tidak membohongiku lagi, Mas? Jika kamu ketahuan kembali berbohong, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkanmu ke pihak kepolisian dengan tuduhan sudah menghamiliku dan tidak berniat mempertanggungjawabkannya!" ancam Anita sambil menudingkan jari telunjuknya di wajah Danu, sungguh suatu hal yang tidak pernah diterima oleh pria itu saat masih bersama Nadira dulu.
Danu terlihat kesal dengan ancaman yang dilayangkan oleh Anita padanya, tapi dia tidak berani membantah wanita hamil itu.
Kenapa aku merasa segan dan tidak berani untuk membantah semua perkataan Anita? Kenapa aku merasa berkecil hati saat sedang berhadapan dengannya? Padahal, dulu Nadira tidak pernah memperlakukanku seperti ini, gumam Danu dalam hatinya. Lagi-lagi dia membandingkan antara Anita dan Nadira. Namun sayang, meskipun Danu sudah merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya terhadap Nadira, sudah jelas wanita itu tidak akan sudi lagi kembali padanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja, Mas? Apa kamu pikir ancamanku ini hanya main-main saja? Aku punya bukti saat kamu sedang merayuku dulu," ucap wanita hamil itu lagi sambil memperlihatkan sebuah video yang disimpannya di ponsel.
Mata dan langsung terbelalak kaget saat melihat video yang diputarkan oleh Anita. Dia sangat terkejut karena rupanya Anita juga sampai bersusah payah merekam aktivitas panas mereka melalui ponselnya.
"Nit, kamu jangan sembarangan seperti itu! Bagaimana kalau ponselmu itu hilang dan videonya tersebar, apa kamu tidak malu?" tanya Danu sambil mencoba berusaha meraih ponsel milik Anita itu dari genggamannya.
"Malu? Kamu bertanya tentang rasa malu? Bukankah urat malu kita memang sudah putus sejak lama? Untuk apa lagi aku harus merasa malu menunjukkan bukti ini?"
"Nit, tolong jangan bersikap seperti ini! Bukan hanya kita saja yang malu, tapi orang tua kita juga pasti akan malu kalau sampai mereka melihat video itu. Jadi, sekarang hapuslah videonya!" pinta Danu.
"Kalau kamu mau video ini dihapus, cepat hubungi pengacaranya Nadira sekarang dan minta nomor telepon atau bahkan alamat wanita itu! Segera selesaikan urusan kalian agar kamu cepat menikahiku!" perintah Anita dengan tegas sambil menyimpan ponselnya.
Danu mengelan nafas lega saat melihat kekasihnya itu menyimpan kembali ponsel yang tadi sempat dia tunjukkan padanya. Jika sampai video itu sampai tersebar luas, maka dirinya sudah benar-benar tidak mempunyai muka lagi saat itu.
"Baiklah, baiklah. Aku akan segera menghubungi pengacaranya Nadira dan meminta nomor teleponnya, tapi kamu janji tidak menyebarkan video kita. Dan kalau bisa, sebaiknya kamu hapus video itu!"
"Tidak! Aku tidak akan menghapus video ini sampai kamu benar-benar menikahiku. Setelah pernikahan kita terlaksana, silakan kamu sendiri yang menghapus videonya," jawab Anita.
Lagi-lagi Danu hanya bisa menarik nafas kesal saat mendengar jawaban ibu hamil itu. Jika saja Anita saat ini sedang tidak mengandung benihnya, maka dia tidak akan segan untuk meninggalkan wanita itu karena tidak menyukai sifatnya yang seperti ini. Lama-lama Danu merasa tertekan dengan tingkah Anita yang menurutnya sangat jauh berbeda ketika hubungan mereka masih tersembunyi. Anita yang sekarang lebih sering berkata kasar dan berbicara dengan nada tinggi padanya. Apalagi kalau sudah menyangkut tentang hubungan dia dengan Nadira, maka wanita itu tidak akan pernah bisa diam dan tenang.
Astaga ... lama-lama aku bisa gila sendiri karena harus menghadapi sifat wanita yang seperti ini. Aku sedikit menyesal karena sudah membuatnya mengandung benihku. Jika saja dia tidak sedang hamil, maka aku tidak akan segan-segan untuk meninggalkannya, batin pria itu.
__ADS_1