Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 73


__ADS_3

Pagi ini Nadira segera memulai harinya lebih awal. Dia bersiap menuju pasar tradisional yang berada tak jauh dari rumah kontrakannya. Sebenarnya Nadira masih sangat lelah setelah menempuh perjalanan kemarin, tapi dia tidak bisa berlama-lama santai karena bisa saja pembeli yang biasa jadi langganannya pergi jika kelamaan libur berjualan.


"Nad, kapan kamu pulang?" sapa Ibu Nurul yang kebetulan lewat pagi itu. Biasanya beliau memang selalu pergi ke pasar saat hari masih gelap.


"Oh, Ibu Nurul ... apa Ibu mau ke pasar?" tanya Nadira, mengabaikan pertanyaan pertama wanita paruh baya itu.


"Iya, Nad. Apa kamu juga mau ke pasar?"


"Iya, Bu. Aku perlu belanja beberapa bahan masakan," jawab Nadira seraya melirik gendongan Tiara. Ya, dia akan pergi ke pasar dengan membawa Tiara bersamanya, tidak mungkin juga dia meninggalkan bayi itu sendirian, meskipun jarak pasar yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.


"Oalah ... apa kamu juga akan membawa Tiara?" tanya Ibu Nurul lagi.


Nadira menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian," jawabnya.


Ibu Nurul tampak menghela napas perlahan. Sungguh, dia yang merupakan seorang ibu yang lebih berpengalaman dari Nadira, merasa kasihan pada Tiara. Dia tidak tega membiarkan ibu muda itu membawa putrinya ke pasar, meskipun hanya sebentar.


"Nad, Ibu merasa tidak tega kamu membawa Tiara ke pasar, apa tidak sebaiknya Ibu saja yang membelikan belanjaanmu?" tanya Ibu Nurul.


"Ya?"


"Iya ... maksud Ibu, kamu tunggu di sini, biar Ibu yang belikan belanjaanmu. Kasihan Tiara kalau kamu bawa ke pasar di pagi buta seperti ini!"


Nadira terdiam sambil sedikit berpikir, Aku juga tidak tega membawa Tiara bersamaku, tapi aku juga tidak mungkin membiarkan Ibu Nurul membawa barang belanjaanku, batinnya.


"Bagaimana, Nad?" tanya Ibu Nurul lagi karena melihat Nadira yang hanya diam saja.


"Tapi, Bu ... barang belanjaanku lumayan banyak dan akan berat. Aku tidak mungkin membiarkan Ibu membawanya sendiri," jawab wanita muda itu.

__ADS_1


Ibu Nurul mengangguk-anggukan kepalanya, sebelum kembali berkata, "Kalau begitu, bagaimana jika Ibu saja yang jaga Tiara dan kamu yang pergi belanja. Ibu tidak keberatan jika untuk menjaga Tiara. Lagi pula, Ibu juga merasa sangat merindukan putrimu!"


Lagi-lagi Nadira menimang sesaat perkataan Ibu Nurul. Dia bisa bergerak lebih cepat jika hanya pergi sendirian dan hal itu juga bisa membuatnya semakin cepat kembali.


"Baiklah, Bu. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah merepotkan Ibu Nurul," ucap Nadira yang merasa tidak enak hati.


“Kamu sama sekali tidak merepotkan, Nad. Ibu juga senang bisa turut menjaga Tiara yang sudah Ibu anggap seperti cucu Ibu sendiri,” sahut Ibu Nurul seraya mengambil alih Tiara dari gendongan Nadira.


“Terima kasih, Bu.” Nadira tersenyum haru saat mendengar pengakuan Ibu Nurul. Dia bersyukur karena meskipun saat ini sedang berada jauh dari keluarga inti, tapi putrinya masih bisa mendapatkan kasih sayang dan figur seorang nenek dari Ibu Nurul.


“Ya sudah, kamu segera lah pergi. Tidak perlu mengkhawatirkan Tiara. Dia akan baik-baik saja,” kata Ibu Nurul lagi.


Nadira menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari hadapan Ibu Nurul untuk pergi ke pasar. Sementara itu, Ibu Nurul segera membawa Tiara masuk kembali ke rumah kontrakan Nadira.


Tak perlu memakan waktu lama untuk Nadira sampai di pasar, dia segera membeli semua keperluannya dan belanjaan milik Ibu Nurul juga. Tidak lupa, Nadira juga belanja beberapa jajanan basah untuk dijualnya. Namun, saat wanita muda itu sedang berada di pinggir jalan hendak menyeberang, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang menabraknya hingga beberapa plastik belanjaannya berserakan.


"Akh!" Nadira memekik karena terkejut. Begitu pun dengan ibu-ibu itu yang turut terkejut sudah menabrak seseorang.


"Aduh, maaf, Nak. Maaf, Ibu tidak sengaja menabrakmu!" ucap wanita paruh baya itu.


Nadira sempat terdiam sesaat karena dia juga terkejut, apalagi saat melihat gadangannya yang sudah berceceran di tanah. Ya Tuhan ... daganganku, batinnya.


Ibu itu tampak khawatir saat melihat wanita muda di hadapannya hanya terdiam dan tidak menanggapi permintaan maafnya, dia takut wanita itu akan marah.


"Nak!" panggil ibu itu.


Nadira menoleh dengan tatapan nanar pada wanita paruh baya di hadapannya. Saat ini dia ingin marah jika saja tidak melihat siapa yang sudah menabraknya. Apalagi ada luka memar di wajah tua wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Ti–tidak apa-apa, Bu. Bagaimana dengan keadaan Ibu. Apa Ibu baik-baik saja?" Nadira menaruh dagangannya dan menuntun ibu itu untuk duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya tadi mereka berdiri.


"Ibu baru kena jambret, Nak. Uang yang Ibu bawa untuk belanja diambil oleh mereka. Tadinya Ibu coba untuk melawan, tapi karena mereka kasar, Ibu kalah tenaga," jawab wanita paruh baya itu.


Nadira mengangguk-anggukan kepalanya. "Apa Ibu hanya pergi sendiri?" tanya Nadira lagi yang langsung membuat ibu itu menganggukkan kepala.


"Iya. Ibu pergi sendiri karena putra Ibu masih berada di kota lain," jawabnya.


Lagi-lagi Nadira menganggukan kepalanya saat mendengar jawaban dari ibu paruh baya itu. Karena merasa kasihan, Nadira pun memutuskan untuk membawa ibu-ibu yang baru saja menabraknya tadi ke balai pengobatan terdekat yang ada di sekitar pasar. Mungkin ini akan membuat waktunya lebih lama berada di luar, tapi dia juga tidak tega meninggalkannya seorang diri. Apalagi beliau dalam keadaan terluka.


"Bu, sebaiknya luka Ibu diobati dulu. Aku akan mengantar Ibu ke balai pengobatan," ucap Nadira sambil membantu wanita paruh baya itu yang belum dia ketahui namanya itu berdiri.


"Tapi ... Ibu tidak mempunyai uang, Nak. Tas dan dompet Ibu sudah diambil oleh jambret tadi."


"Tidak apa-apa, Bu. Kalau hanya untuk sekedar berobat, Ibu bisa pakai uangku dulu!" Nadira tersenyum dan menuntun wanita paruh baya itu menyebrang menuju balai pengobatan. Tentunya dia juga tidak melupakan kantong belanjaannya. Nadira juga sedikit beruntung karena belanjaan milik ibu Nurul masih aman dan tidak ada yang kurang.


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya keduanya pun sampai di balai pengobatan. Nadira segera berlalu ke tempat pendaftaran dan meminta wanita paruh baya itu untuk menunggunya.


"Ibu bisa tunggu dulu di sini biar aku yang akan mendaftar," ucapnya. "Oh, ya ... aku belum tahu nama Ibu. Siapa namanya, Bu?" tanya Nadira saat baru menyadari kalau sedari tadi mereka berbicara tanpa memperkenalkan diri terlebih dulu.


"Oh, iya ... Ibu sampai lupa memperkenalkan diri. Nama Ibu, Santi. Namamu siapa?" tanya Ibu Santi pada wanita muda yang baru saja menolongnya.


"Aku Nadira, Bu," jawab wanita muda itu sambil tersenyum. "Kalau begitu Bu Santi, aku tinggal sebentar ke tempat pendaftaran. Ibu tunggu di sini saja," ucap Nadira sebelum dia berlalu.


Ibu Santi pun mengangguk dan duduk di bangku bersama dengan barang belanjaan milik Nadira.


"Baik sekali wanita muda itu," gumamnya sambil menatap punggung Nadira yang kini sudah berdiri di depan meja resepsionis.

__ADS_1


__ADS_2