
Perjalanan yang tak terlalu jauh, membuat Nadira kini sudah berdiri di depan rumah yang tak terlalu besar, tapi ia bisa merasakan kehangatan kekeluargaan di dalamnya. Ibu Santi pun benar-benar menepati ucapannya untuk menunggu Nadira di sana dan kini wanita paruh baya itu tengah menatapnya dengan hangat.
“Ibu tidak menyangka kalau kamu juga tinggal di daerah dekat sini, Nadira,” ucap Ibu Santi saat menyambut Nadira.
“Aku juga tidak menyangka kalau Ibu mau bermurah hati memberikanku pekerjaan sambil membawa Tiara. Selain itu, Ibu juga membiarkanku bekerja sambil membawa putriku. Terima kasih banyak,” sahut Nadira dengan penuh haru. Dia sungguh tidak menyangka akan mendapatkan pertolongan dari Ibu Santi karena mereka belum saling kenal dekat dan hanya bertemu tak lebih dari tiga kali, tapi Ibu Santi sudah bersedia membantunya.
“Tidak apa-apa, Nadira. Mungkin ini juga balasan dari Tuhan kamu pernah menolong Ibu. Jadi, baik-baiklah tinggal di sini dan besarkan putrimu dengan penuh kasih sayang, tanpa kekurangan perhatian darimu.” Ibu Santi menepuk bahu Nadira dan menggiringnya masuk ke rumah, sementara tas Nadira yang beris baju dan keperluan milik Tiara dibawakan oleh sopir.
“Ini rumah Ibu,” ucap Ibu Santi saat keduanya sudah berada di dalam ruang tamu. “Pekerjaanmu tidak banyak karena di sini ada dua pembantu lainnya yang turut bekerja menyiapkan makanan dan mengurus rumah. Kamu hanya perlu membantu pengurus rumah saja nantinya,” jelas Ibu Santi.
Nadira menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia juga turut memperhatikan sekeliling ruangan itu, hingga tatapannya tak sengaja pada sebuah foto keluarga yang menggantung di dinding dekat sofa.
__ADS_1
Tunggu. Ini … ini bukankah foto Pak Raka? Kenapa bisa ada di sini? Apa jangan-jangan Pak Raka adalah keluarga Ibu Santi, atau bahkan putranya? tanya Nadira dalam hati. Saking terkejutnya Nadira, ia sampai menutupi mulutnya sendiri
“Ada apa, Nadira?” tanya Ibu Santi saat mendapati Nadira yang terkejut melihat foto keluarganya.
“E—h … ti—tidak ada, Bu. Maaf ….” Nadira memilih untuk tidak bertanya-tanya tentang keluarga Ibu Santi karena ia yakin wanita paruh baya itu akan menjelaskannya sendiri.
“Tidak apa-apa, Nadira. Itu hanya foto keluargaku saja,” ucap Ibu Santi dengan tatapan sendunya. “Kedua laki-laki itu adalah putra serta mendiang suamiku,” jelasnya lagi.
“O—oh …. Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud untuk membuat Ibu sedih,” kata Nadira. Ia merasa tidak enak hati karena melihat wajah sedih Ibu Santi.
Nadira yang sudah digandeng oleh Ibu Santi, hanya bisa mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Dalam hatinya, ia merasa gelisah sendiri karena sekarang dirinya tahu sedang ada di mana. Apalagi kalau bukan berada di rumah Raka, pria yang saat ini sedang berusaha ia hindari.
__ADS_1
Ya Tuhan … sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa Ibu Santi akan tetap bersikap baik seperti ini padaku, jika nanti dia tahu kalau Pak Raka sedang berusaha mendekatiku? batin Nadira.
Setelah melewati beberapa ruangan, Nadira dan Ibu Santi pun sampai di sebuah ruangan yang berada dekat dengan ruangan santai keluarga. Nadira sempat tertegun saat Ibu Santi membukakan pintu kamar itu.
“Nadira, kamu dan Tiara akan beristirahat di sini. Jadi, masuklah …,” perintah Ibu Santi sambil tersenyum menatap Nadira.
“Ta—tapi, Bu. I—ini bukankan terlalu berlebihan? Aku … aku hanya berniat kerja pada Ibu,” ucap Nadira sedikit terbata. Bagaimana tidak, kamarnya yang akan ia tempati itu tak seperti kebanyakan kamar pekerja yang lainnya. Jadi, ia sedikit sungkan untuk masuk ke sana.
“Apanya yang berlebihan, Nadira? Ibu rasa, ini pantas kamu dapatkan, setelah apa yang kamu pernah lakukan dulu pada Ibu,” jawab Ibu Santi.
“Ya Tuhan, Bu …. Aku sungguh tulus membantu Ibu waktu itu. Dan sekarang … justru aku merasa sudah menyusahkan Ibu dengan meminta bantuan seperti ini.”
__ADS_1
“Jangan berpikir seperti itu, Nadira. Apa yang kamu lakukan dulu, nyatanya tidak mudah dilakukan orang lain. Jikalau pun saat itu bukan kamu yang membantuku, aku akan tetap memperlakukanmu seperti ini karena aku tidak mungkin menempatkanmu di area dapur. Aku merasa sangat menyayangi Tiara, meskipun hanya sekali melihatnya,” jelas Ibu Santi yang langsung membuat Nadira merasa terharu.
“T—terima kasih, Bu ….”