
Nadira mengepalkan tangannya dengan erat ketika mendengar tuduhan Nia tentangnya. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa kakak iparnya itu mengatai dia wanita murahan, sementara Nia sendiri tahu kalau adiknya lah yang sudah berselingkuh. Wanita itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Nia dengan pandangan tajam seakan ingin sekali mengulitinya.
"Apa sudah cukup Mbak mengatai ku?" tanya Nadira dengan suara dinginnya.
Entah ini kejadian yang ke berapa kali yang diingat oleh Nia saat dia merasakan hawa dingin yang menusuk ketika Nadira berbicara. Efeknya pun sama, bulu kuduknya seketika berdiri saat mendengar nada bicara adik iparnya itu.
Namun, bukan Nia namanya jika dia langsung melangkah mundur menghadapi Nadira, apalagi saat ini banyak orang yang melihatnya. Jadi, Nia pun berusaha untuk menguasai rasa takutnya dan tetap menghadapi Nadira.
"Heh, memang pada kenyataannya kamu wanita murahan, Nadira! Apa kamu tidak berkaca bagaimana saat itu kamu memohon-mohon pada ibu agar merestui pernikahan kalian? Jika seandainya saat itu kamu mundur dan meninggalkan Danu, mungkin kami akan memandangmu dengan tinggi. Tapi, karena kejadian itu, persepsi kami terhadapmu jadi berubah," jelas Nia.
Rupanya dia masih ingat saat Nadira datang bersama Danu menemui Ibu Susan untuk meminta restu. Memang saat itu Ibu Susan tidak langsung memberikan restunya, tapi Nadira tidak sampai mengemis, memohon juga. Bahkan dia sudah pasrah untuk berpisah dengan Danu, tetapi pria itu menolak dan tetap ingin menikahi Nadira. Di saat keduanya minta restu pada Ibu Amira pun, ibunya Nadira itu tidak menyetujui pernikahan mereka. Akan tetapi, lagi-lagi dengan alasan rasa cinta Nadira pada Danu, wanita itu memohon pada Ibu Amira untuk merestui pernikahan mereka.
"Nia, sepertinya kamu salah menilaiku. Aku tidak pernah memohon-mohon pada Mama Susan supaya Mas Danu menikahiku. Dan, perlu kamu ingat ... Mas Danu sendiri yang memohon sama Mama sampai dia sujud-sujud di kaki Mama. Bukan aku!" jawab Nadira yang langsung membuat sekeliling ruangan itu hening..
Mungkin mereka sedang mengingat-ingat kejadian yang cukup ramai menggemparkan di tempat tinggal Danu, tepat tiga minggu sebelum acara pernikahan Nadira dan Danu digelar. Tak hanya orang-orang yang ada di sana yang terdiam berpikir, Nia serta Erhan pun nampaknya demikian. Sementara itu, Danu tidak berkata apa-apa lagi. Sepertinya pria itu sedang mengkhawatirkan sesuatu, hal itu sangat jelas tergambar di raut wajahnya.
“Oh, ya … sebenarnya aku jiga tidak mau datang lagi kemari
__ADS_1
dan bertemu dengan keluargamu, Mbak Nia. Tapi—” Nadira menoleh ke arah Danu dengan sorot tajam. Sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. “Gara-gara Mas Danu dan Mama yang membawa Tiara, aku datang ke sini,” sambungnya lagi.
Danu segera bangkit dari duduknya saat Nadira mengungkit Tiara. “Nadira, ini semua gara-gara kamu sendiri. Seandainya kamu tidak pergi membawa Tiara, aku tidak akan melakukan hal itu. Kalau memang kamu mau pergi, pergi saja sendiri jangan membawa anakku!” teriak pria itu seraya menunjuk wajah Nadira.
“Huh?” Nadira menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Danu. Nadira berpikir, apa dia lupa apa yang menyebabkan dirinya pergi dari rumah? Dan … tadi dia mengatakan kalau aku tidak perlu membawa Tiara? Apa dia ingin putrinya tertekan karena harus hidup bersama nenek yang tidak pernah mempedulikannya? Di mana pikiran waras Danu?
“Mas, lucu sekali kamu berkata seperti itu,” ucap Nadira setelah beberapa saat terdiam.
“Apa maksud kamu?” tanya Danu dengan wajah seolah tidak
mengerti perkataan Nadira. Padahal dia tahu jelas apa maksud Nadira itu.
tadi sedangkan selama ini kamu mana pernah pedulikan Tiara Dan … kamu kira Tiara akan baik-baik saja saat tinggal Bersama Mama? Jawabannya Tidak, Mas! Tiara selalu diacuhkan, bahkan dia tidak pernah sekali pun Mama sayangi!” jawab Nadira dengan menggebu-gebu. Bahkan napas wanita itu terlihat naik turun saking emosinya. Dia sudaj tidak peduli lagi bagaimana tanggapan Ibu Susan terhadapnya, yang pasti yang ada dipikiran Nadira saat ini adalah membongkar semua keburukan keluarga suaminya itu supaya berhenti terus menyepelekan dirinya.
“Aku peduli pada Tiara, Nadira. Makanya aku ambil dia darimu.
Aku tidak mau dia tinggal Bersama wanita sepertimu,” sahut Danu dengan wajah tidak tahu malunya.
__ADS_1
Saat ini sungguh, hati Nadira tidak bisa menahan kekesalannya lagi terhadap Danu. Pria itu benar-benar tidak bisa diajak bicara
pelan-pelan, ditunjukkan kesalahannya pun dia justru memutarbalikan faktanya.
“Sabar, Nad!” ucap Ibu Rumi sambil menyentuh bahu Nadira.
Nadira hanya tersenyum samar menanggapi ucapan Ibu Rumi. Dia
harus sabar seperti apa lagi dalam menghadapi Danu? Pria itu benar-benar keterlaluan karena hanya bisa menyalahankan orang lain. Sementara itu, Raka yang sejak tadi diam menyimak pertengkarang suami istri itu merasa tidak tega pada Nadira. Namun, untuk ikut campur pun dia tidak punya kebaranian, atau
lebih tepatnya khawatir para warga di sana akan semakin memandangnya jelek jika Raka turut ikut campur.
Maafkan aku yang tidak berani ikut mencampuri urusan rumah
tanggamu, Nadira. Aku tidak punya wewenang intuk itu, meskipun aku mau, batin Raka sambil menatap Nadira yang sedang menundukan kepalanya. Saat ini Nadira sedang menata hatinya yang terlalu berantakan.
Sebuah ide tiba-tiba aja muncul dari dalam pikirannya untuk
__ADS_1
Nadira. Jika dia tidak bisa membuat Danu menceraikannya dengan suka rela, maka Nadira akan langsung meminta Pak Rt untuk menolongnya mengurus percaraian mereka.
“Mudah-mudahan saja Pak Rt bersedia menolongku,” batin wanita itu