Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 53


__ADS_3

Raka menuruti perintah mamanya untuk masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, pria itu langsung berjalan menuju kamarnya dan memilih berdiam diri di sana. Ibu Santi hanya menarik nafas panjang saat melihat bagaimana sikap putranya yang tiba-tiba berubah setelah pulang kerja tadi. Padahal saat berangkat ke pabrik tadi pagi, suasana hati Raka masih seperti biasa dan sama sekali tidak menunjukkan kesedihan ataupun emosi.


Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi pada putraku? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah setelah pulang kerja tadi? Apa ada sesuatu yang membuat hatinya terusik saat di pekerjaan? batin Ibu Santi sambil menatap pintu kamar putranya yang sudah tertutup rapat.


Sementara itu, Raka kini duduk di kursi tunggal yang ada di kamarnya. Dia merebahkan kepalanya kesadaran kursi itu sambil memejamkan mata dan mengingat perkataan security saat tiba-tiba menemuinya tadi dan mengatakan ada salah satu karyawannya yang mengundurkan diri secara mendadak.


"Nadira, apa alasanmu tiba-tiba pergi seperti ini? Apa kamu melakukan hal ini untuk menghindari suamimu lagi? Ke mana kamu pergi? Bagaimana dengan Tiara? Apa kalian di sana baik-baik saja? Ke mana aku harus menyusul kalian?" tanya Raka pada dirinya sendiri sambil bergumam.


Sebenarnya Raka bisa menebak hal ini ada kaitannya dengan masalah kemarin malam saat keluarga Danu tiba-tiba menculik Tiara dari Nadira. Namun, Raka tidak mengetahui ke mana Nadira pergi membawa Tiara.


"Aku harap aku bisa segera menemukan kalian. Aku benar-benar khawatir pada kalian berdua," gumamnya lagi.


***


Di tempat lain, Nadira terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Dia memang terbiasa bangun disaat seperti itu, mungkin alasan lainnya karena dia juga merasa cemas dengan keberadaannya saat ini yang tidak diketahui oleh keluarganya.


"Ibu, Kak Faisal, apa kalian sudah mendengar berita kepergianku dari sana? Apa kalian bisa menebak keberadaanku di sini? Apa kalian ada niatan untuk menyusulku kemari?" tanya Nadira sambil menatap wajah putrinya yang tengah tertidur lelap. Mungkin karena kecapean di jalan, bayi itu sangat pulas dan sama sekali tidak rewel.


Nadira bangun dari tempat tidurnya dan memilih untuk duduk di sana. Dia sudah tidak dapat memejamkan matanya lagi setelah terbangun. Suasana di kampung itu begitu sunyi hingga rasanya Nadira bisa mendengar suara hembusan angin dari luar jendela.


"Astaga ... seharusnya aku bisa beristirahat malam ini karena sudah terlalu lelah di jalan siang tadi, tetapi kenapa rasanya mata ini sama sekali tidak mengantuk?" Nadira mengusap wajahnya dengan kasar.


Wanita itu beranjak menuju yang dia simpan di samping tempat tidur. Dia memilih untuk melakukan salat malam dan mengadu pada Yang maha kuasa saja.


***

__ADS_1


Suara adzan subuh berkumandang. Nadira langsung menutup Al-Qur'an yang tadi dibacanya dan lekas melakukan salat dua rakaat itu. Saat ini dirinya sedang berada di rumah orang lain, jadi Nadira harus sigap dan lebih tahu diri ketika berada di sana.


Selesai salat subuh, Nadira pun segera merapikan kembali peralatan salatnya dan memasukkan semua barang-barang yang tadi sempat dia sempat keluarkan ke dalam tasnya. Setelah semuanya kembali rapi, Nadira keluar dari kamar itu dan menghampiri Ibu Nurul yang rupanya sudah berada di dapur.


"Maaf, Bu ... ada yang bisa aku bantu?" tanya Nadira ketika melihat wanita paruh baya itu sedang sibuk.


"Tidak ada, Mbak Nadira. Terima kasih atas tawarannya, tetapi Mbak Nadira tidak perlu melakukan apapun. Biar saya saja," tolak Ibu Nurul.


"Tidak apa-apa, Bu. Mumpung putri saya masih terlelap, jadi biarkan saya membantu Ibu dulu," ucap wanita itu lagi.


Ibu Nurul pun tersenyum dan menerima bantuan tenaga dari Nadira. Dia meminta wanita muda itu untuk membantunya memasak. Kebetulan setiap hari Jumat, di sana akan diadakan bersih-bersih lingkungan bersama warga yang lain. Jadi, Ibu Nurul yang akan menyiapkan semua hidangan untuk para pekerja.


"Sebelumnya, terima kasih karena sudah membantu Ibu, Mbak Nadira. Semoga nanti kalau sudah ada rumah yang mau Mbak tinggali, Mbak bisa merasa nyaman di kampung ini," ucap Ibu Nurul.


"Terima kasih doanya, Bu. Saya pun berharap demikian," sahut wanita muda itu.


"Mbak, maaf saya tinggal dulu sebentar. Sepertinya itu suami dan anak pertama saya," ucap Ibu Nurul pada Nadira.


"Oh, iya silakan, Bu."


Nadira kembali fokus pada pekerjaannya yang saat ini sedang menggoreng tempe dan membiarkan pemilik rumah untuk menemui suami dan putranya yang baru datang.


"Oh, iya ... aku lupa untuk bertanya, apa di sini sudah ada yang berjualan nasi kuning?" gumam wanita itu.


Tadinya Nadira berniat menggunakan uang sisa tabungannya untuk dia gunakan modal usaha membuka warung nasi kuning serta gorengan. Dia harus memikirkan cara bertahan hidup di sana sambil menjaga putrinya yang masih bayi sendirian. Jadi apapun akan dilakukan oleh wanita itu.

__ADS_1


Sementara itu ....


"Bu, tadi aku lihat pintu kamar tamu terbuka, di sana ada bayi yang masih tidur, itu anak siapa?" tanya putra Ibu Nurul yang bernama Andri, dia hampir seusiaan dengan Nadira hanya berbeda beberapa bulan saja.


"Oh, itu ... cucunya almarhum Ibu Endang. Dia berniat untuk pindah ke sini bersama putrinya," jawab Ibu Nurul.


"Cucunya Ibu Endang? Maksudnya Nadira?" tanya Pak Gahar yang merupakan suami dari Ibu Nurul. Dia adalah sahabatnya Ayah Nadira, jadi dia ingat putri sahabatnya itu bernama Nadira.


"Iya, Pak," sahut Ibu Nurul membenarkan pertanyaan suaminya.


"Oh. Ada apa dia datang kemari?" tanya Pak Gahar lagi.


"Ibu juga kurang tahu pastinya. Tapi dia hanya mengatakan ingin mencari rumah kontrakan dan tinggal di sini," jawab Ibu Nurul.


Pak Gahar dan Andri hanya mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar jawaban wanita paruh baya itu. Tak lama setelah ketiga anggota keluarga itu mengobrol, dari arah dapur Nadira datang menghampiri ketiganya.


"Eh ... maaf, kedatangan saya mengganggu pembicaraan kalian," ucap Nadira yang merasa tidak enak hati pada keluarga itu saat dia tiba-tiba datang dari dapur.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kami tidak sedang membicarakan masalah penting," sahut Ibu Nurul sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri Nadira. Dia membawa wanita itu ke hadapan putra serta suaminya untuk diperkenalkan.


"Mbak Nadira, kenalkan ini suami dan putra pertama Ibu, namanya Andri," kata Ibu Nurul.


Nadira mengangguk sambil tersenyum ramah pada sepasang ayah dan anak itu. "Nama saya Nadira. Saya dan putri saya berniat untuk tinggal di desa ini," ucapan itu sambil mengutarakan maksud kedatangannya.


"Oh, iya ... iya, Mbak. Nama saya Pak Gahar. Saya kenal sama mendiang Papamu dan mendiang Ibu Endang. Jadi kamu tidak perlu sungkan," jawab Pak Gahar.

__ADS_1


Nadira pun menunduk, mengiyakan perkataan Pak Gahar. Berbeda hanya dengan anda yang hanya menatap Nadira tanpa mengatakan sepatah katapun. Pria itu yang diam-diam memperhatikan penampilan Nadira. Namun, itu hanya sesaat karena Pak Gahar langsung menyadari tingkah putranya.


"Jangan macam-macam, Ndri!" bisik pria paruh baya itu di telinga putranya.


__ADS_2