Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 34


__ADS_3

Setelah puas bermain dengan Raka, Tiara pun akhirnya terlelap di pangkuan pria itu. Sementara Nadira tidak Raka biarkan menyentuh putrinya karena dia ingin lebih lama menguasai gadis kecil itu.


"Pak, sepertinya Bapak sekarang harus memberikan Tiara padaku. Lihatlah, dia sudah tampak mengantuk seperti itu!" tunjuk Nadira pada wajah gadis kecilnya.


"Tidak, tunggu dulu sebentar aku masih ingin menimangnya," tolak Raka tanpa memberikan Tiara pada Nadira.


"Tapi, Pak–"


"Oh, ayolah, Nad. Tidak bisakah kamu membiarkanku menghabiskan waktu bersama Tiara tanpa mengganggunya?"


Nadira mengernyitkan kening dengan sedikit mata yang menyipit. Bagaimana bisa Raka berniat memonopoli Tiara sendirian. Padahal bayi itu adalah miliknya.


"Pak, Tiara itu anak saya, tapi kenapa aku yang harus memohon untuk menimbang anakku sendiri?" tanya wanita muda itu.


Raka terdiam seketika saat mendengar pertanyaan Nadira. Dia baru sadar kalau apa yang dikatakan oleh wanita itu ada benarnya, Tiara adalah putrinya sedangkan dia bukan siapa-siapa bagi mereka.


"Akh, maaf kalau begitu. Aku terlalu senang bisa menghabiskan waktu bersama Tiara. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Raka sambil menyerahkan Tiara ke pangkuan Nadira.


Melihat wajah Raka yang tampak sedih, Nadira merasa sedikit tidak enak hati. Dia tidak bermaksud untuk menghalangi pria itu menghabiskan waktu bersama putrinya, tapi Nadira hanya mengkhawatirkan putrinya yang sudah mengantuk dan juga dia tidak ingin terlalu merepotkan Raka. Namun, ternyata niat hatinya ditanggapi lain oleh pria itu.


"Pak, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk melarang Bapak menghabiskan waktu bersama Tiara. Aku ... aku hanya merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan bapak untuk menjaga Tiara," kata Nadira lagi.


"Tidak apa-apa. Aku yang salah. Silakan kamu keloni Tiara. Sebentar lagi jam istirahat akan segera selesai," sahut Raka sambil menetap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu kurang.


Nadira masih meringis saat melihat bagaimana ekspresi yang ditunjukkan oleh Raka. Akan tetapi, dia juga tidak punya waktu lagi karena dia harus kembali ke pabrik.


Sudahlah, biarkan saja. Nanti mungkin Pak Raka akan kembali seperti biasa lagi, batin Nadira yang mulai memberikan Tiara ASI di ruangan lain. Sementara Raka menunggui Nadira di ruangan lain tanpa beranjak dari sana.


Uh, kenapa aku merasa tidak enak hati, ya? Padahal, tadi aku melihat keceriaan Tiara yang tidak biasa. Seharusnya aku senang dan lega karena anakku bisa kembali tertawa dengan bebas, batinnya lagi.

__ADS_1


Tak perlu memerlukan waktu lama untuk membuat Tiara tertidur. Setelah lima menit Nadira menyusui Tiara, akhirnya bayi itu tertidur pulas. Setelah memastikan Tiara benar-benar tidur, Nadira pun bangkit dari tempatnya dan segera keluar dari ruangan itu untuk menghampiri Raka yang masih menunggunya di ruangan lain.


"Sudah beres, Nad?" tanya Raka pada wanita yang baru saja keluar dari ruang tidur Tiara.


"Sudah, Pak. Aku pikir Bapak akan pulang lebih dulu, ternyata Bapak masih menungguku di sini," jawab Nadira seraya mendekati Raka.


"Kita berangkat bersama-sama, jadi pulang pun sudah wajar kalau kita masih bersama-sama," sahut Raka dengan mudah. Berbeda halnya dengan Nadira yang tiba-tiba tersipu malu dengan jawaban pria itu.


Apa sih, kenapa Pak Raka tiba-tiba jadi begini? gumamnya sambil terus memperhatikan pria yang kini sedang kembali memakai sepatunya.


***


Setelah berpamitan dengan ibu pemilik penitipan anak, Nadira serta Raka pun mulai kembali melangkah bersama menuju pabrik. Suasana masih ramai karyawan-karyawan yang selalu sengaja datang terlambat saat beristirahat. Namun, berbeda dengan Nadira yang mempercepat langkahnya karena dia tidak ingin terlambat. Apalagi dia menjaga agar tak ada orang yang melihat kebersamaannya siang ini bersama Raka, bisa-bisa dia kembali di gonjang-ganjing oleh gosip yang tidak berbobot seperti sebelumnya.


Dengan napas yang masih terengah-engah, Nadira duduk di bangku kerjanya, di depan mesin jahit.


"Kamu baru datang, Nad?" tanya Emma dan Feni yang datang menghampirinya.


Emma dan Feni membiarkan Nadira untuk melepas dahaganya. Keduanya tampak saling berbisik dan berpandangan sambil menoleh ke arah Nadira berada.


"Ada apa?" tanya Nadira yang merasa aneh dengan gelagat kedua wanita di depannya.


"Mmmmh, anu, Nad ...." Feni tampak ragu-ragu saat akan mengucapkan kata-katanya.


"Ada apa, Fen? Kenapa kamu ragu-ragu seperti itu?" tanya Nadira sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Itu, Nad ... sepertinya ada orang yang mulai menggosipkan kamu lagi. Dia berkata kemarin melihat kamu berjalan sambil mengobrol dengan Pak Raka," lirih Feni yang merasa tidak enak hati karena sudah menyampaikan gosip yang didengarnya dari orang-orang. "Mereka juga terus bertanya-tanya tentang statusmu yang sekarang. Ada yang mengatakan kalau kamu sudah resmi cerai dari suamimu, tapi sebagian juga ada yang mengatakan kalau kamu masih istrinya Mas Danu dan belum bercerai, tapi sudah menjalin hubungan lagi dengan Pak Raka," sambungnya lagi.


Nadira segera menutup botol tempat minumnya dengan kasar. Dia memang tidak menampik kalau kemarin sempat bertemu dan mengobrol sesaat dengan Raka, tapi kenapa dia bisa sampai digosipkan mempunyai hubungan dengan pria itu sementara dirinya masih merupakan istri orang.

__ADS_1


Siapa orang yang sebenarnya sudah menyebarkan gosip ini? Kenapa dia tampaknya sangat ikut campur sekali dalam kehidupanku? Apalagi aku tidak merasa sudah menyusahkan orang lain, batin Nadira dengan geram.


Wajah Ibu dari Tiara itu tampak memerah menahan kesal. Dia baru saja sampai dengan terburu-buru ke tempat kerjanya dan langsung mendapatkan tuduhan gosip seperti itu, sungguh dunia yang penuh kejutan. Padahal dirinya bukan seorang selebriti maupun pabrik figur lainnya, tetapi kehidupannya benar-benar disoroti oleh orang-orang.


"Nad, aku minta maaf karena sudah menyampaikan gosip ini padamu, tapi aku tidak tahan melihat orang-orang berbicara aneh di belakangmu," ucap Emma yang merasa bersalah karena dia lah yang meminta Feni untuk menyampaikan gosip itu pada Nadira secara langsung.


"Sudahlah, Em. Sepertinya tidak ada gunanya lagi aku menjelaskan gosip ini. Toh kamu juga tahu bagaimana kehidupanku yang sekarang," sahut Nadira sambil menyembunyikan wajahnya di balik mesin jahit yang ada di depannya.


"Nadira ...," lirih Emma merasa kasihan pada salah satu anak buahnya.


Feni menyenggol-nyenggol bahu Emma dan berbisik, "Mbak, memangnya gosip itu benar? Melihat Nadira yang menanggapinya seperti itu, aku jadi tidak tahu gosip itu benar atau tidak."


"Tentu saja gosip itu tidak benar. Nadira tidak mempunyai hubungan lebih dengan Pak Raka. Dia juga masih dalam proses perceraian dengan suaminya itu. Jadi Nadira tidak mungkin bermain-main dengan pria lain untuk saat ini," jelas Emma yang mengetahui kehidupan Nadira.


Feni mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Kini gadis itu sudah mengerti kebenarannya dan bermaksud untuk pergi dari hadapan Nadira dan Emma. Karena kekepoannya sudah terobati, dia pun akhirnya pergi dari sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo Kakak-kakak, jangan lupa mampir ke novel rekomendasiku hari ini, ya! Ceritanya seru dan menarik lho 😁


Gilang, seorang pemuda masih duduk di bangku SMA menyukai seorang janda beranak tiga.


Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan pertama kali mereka bertemu pada waktu yang tidak tepat.


Mampukah Gilang, meluluhkan hati seorang janda yang baru berpisah dengan suaminya Karena kekerasan dalam rumah tangga.


Mampukah Gilang meluluhkan hati ketiga satpam janda itu?


Ataukah Gilang memilih mundur?

__ADS_1



__ADS_2