
Di tempat lain, Ibu Santi bru saja tiba di rumahnya. Dia tadi pulang tanpa diantarkan oleh Nadira karena wanita muda itu hanya menemani sampai salah satu pekerja rumahnya datang.
"Ibu silakan istirahat dulu. Saya akan mengambil air minum," ucap wanita yang merupakan asisten rumah tangganya.
"Iya, Bi. Terima kasih!" sahut Ibu Santi seraya mendudukkan dirinya dengan perlahan di sofa yang berada di ruang tamu. Sungguh, kejadian di pasar tadi membuatnya sedikit trauma. Bagaimana tidak, dia yang awalnya berniat menolong orang itu karena hampir dipukuli orang-orang, justru malah jadi korban jambret itu.
Setelah mendengar jawaban Ibu Santi, asisten rumah tangga itupun berlalu pamit ke dapur sambil memikirkan bagaimana dia harus menghadapi pertanyaan dari anak majikannya itu.
"Astaga, ya Tuhan ... apa yang harus aku katakan nanti pada Den Raka kalau Ibu jadi korban jambret karena pergi ke pasar sendirian?" gumamnya bingung. Dia tidak menyangka kalau hal seperti ini akan menimpa majikannya. Makanya tadi dia memperbolehkan Ibu Santi pergi ke pasar sendirian.
Sementara itu, ketika sang asisten tadi pergi ke dapur, telpon rumah yang berada di pojok ruangan itu berdering. Ibu Santi pun bangkit perlahan untuk menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Ma!" sapa seseorang dari seberang sana.
"Wa'alaikum salam. Ini kamu, Ka?" tanya Ibu Santi saat mendengar suara khas putranya yang bernama Raka.
Ya, orang yang Nadira tolong tadi merupakan ibu dari mantan atasannya saat bekerja di pabrik. Nadira tidak mengetahui hal utu, begitupun dengan Ibu Santi yang juga tidak mengetahui kalau wanita yang sudah menolongnya tadi adalah wanita yang berhasil mencuri hati putranya sampai gelisah, galau, merana saat mengetahui wanita itu pergi tanpa berpamitan padanya.
"Kenapa Mama tidak menjawab panggilanku? Apa Mama sedang sibuk di sana?" tanya Raka karena tadi dia sempat menelpon sang ibu ke ponselnya, tapi tidak mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Anu ...." Ibu Santi tampak sedikit bingung karena sudah dipastikan Raka akan langsung pulang ke kampung halamannya saat mengetahui kalau dirinya baru aaja mengalami hal yang membahayakan. Tentu saja Ibu Santi tidak ingin kejadian seperti itu terjadi karena dia tahu kalau Raka juga mempunyai tanggung jawab di perusahaan tempatnya bekerja sampai akhir pekan nanti.
Ya, Raka memilih untuk mengundurkan diri setelah meyakini kalau Nadira tidak akan dia temui lagi di sana. Setelah Raka tidak menemukan jejak apapun tentang keberadaan Nadira dan Tiara, Raka memutuskan untuk resign dan mengajak sang mama kembali ke tempat asal mereka tinggal.
"Kenapa Mama tidak menjawab pertanyaanku? Mama baik-baik saja 'kan?" tanya Raka dengan sedikit khawatir.
"Itu ... sebenarnya tadi Mama kena musibah, Ka! Mama–"
"Apa? Bagaimana bisa? Mama kena musibah apa?" tanya Raka dengan cepat. Bahkan, dia langsung menghentikan perkataan mamanya, sebelum wanita yang sudah melahirkannya itu usai bicara.
"Ish! Kamu ini kenapa memotong pembicaraan Mama, Ka!" gerutu Ibu Santi.
"Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya, tapi aku refleks karena mendengar Mama terkena musibah."
"Mama baik-baik saja, Ka. Tadi Mama hanya terkena jambret saja. Tapi tidak terjadi hal yang serius karena ada seseorang yang sudah menolong Mama," jelas Ibu Santi yang kini bisa membuat Raka sedikit tenang.
"Syukurlah kalau memang tidak terjadi hal serius. Tapi, bagaimana bisa Mama terkena jambret? Apa yang sedang Mama lakukan?"
"Mama hanya sedang pergi ke pasar untuk berbelanja, tapi karena Mama melihat ada seseorang yang hampir dipukuli karena ketahuan mencuri dagangan, Mama berinisiatif untuk menolongnya dan ... ya, untuk selanjutnya bisa kamu tebak," ucap Ibu Santi.
__ADS_1
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi ... kenapa Mama pergi ke pasar sendirian? Bukankah biasanya yang pergi ke pasar itu adalah asisten rumah tangga?" tanya Raka lagi.
"Iya. Biasanya memang dia yang pergi. Hanya saja, kali ini Mama tidak menyangka kalau akan mendapat pengalaman seperti itu, Ka."
"Ya sudah. Lalu bagaimana dengan kondisi Mama?"
"Kondisi Mama sudah tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir, Ka. Selesaikan saja dulu urusanmu di sana. Mama pasti akan baik-baik saja berada di sini!"
"Tapi, Ma–"
"Jangan berpikir untuk pulang lebih cepat karena hal sepele ini, Ka. Mama hanya ingin kamu tidak menunda-nunda waktu saja. Lagi pula, bukankah jika pekerjaanmu di sana sudah selesai, kamu bisa datang kemari dengan tenang?" katanya Ibu Santi sebelum Raka memutuskan untuk menyusulnya saat ini juga.
Raka terdiam beberapa saat, sepertinya pria itu sedang memikirkan lagi perkataan mamanya.
"Baiklah. Aku tidak akan langsung pulang sekarang, tapi aku harap Mama lebih berhati-hati lagi setelah ini. Dan ... tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada seseorang yang sudah menolong Mama itu," pesan Raka
"Tentu saja, Ka. Mama akan menyampaikan rasa terima kasih kamu nanti. Sekarang kamu juga harus fokus pada kerjaanmu dulu supaya kamu bisa cepat selesai dan cepat menyusul mama kemari!" sahut Ibu Santi.
Setelah memastikan keadaan mamanya baik-baik saja, mengakhiri panggilan itu dan kembali pada pekerjaannya.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan oleh Mama, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini agar lebih cepat pulang ke Surabaya, batin pria itu sambil kembali duduk di depan komputernya. Sudah menjadi kebiasaan Raka setelah kepergian Nadira, dia menjadi seseorang yang lebih sibuk di ruangan yang ketimbang mengecek lapangan produksi secara langsung.
Nadira, di mana sekarang kamu berada? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu? Di mana kamu dan Tiara berada sekarang? gumam Raka saat mengingat wanita yang disukainya.