Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 24


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi. Nadira menghubungi Emma, dia berniat meminta izin pada pengawasnya itu untuk memberikannya libur selama satu hari ini, dia juga mengatakan alasan kenapa dirinya tidak akan masuk kerja.


"Jadi, bagaimana, Em? Apa aku boleh bolos satu hari ini saja?" tanya Nadira pada temannya itu.


"Hmmm. Kalau memang seperti itu kejadiannya, aku akan mencoba berbicara dengan Pak Raka. Semoga saja dia memperbolehkanmu untuk mengurusi urusan keluargamu dulu supaya cepat selesai dan kamu bisa kembali bekerja dengan tenang," jawab Emma setelah mendengar penjelasan dari Nadira.


"T–tunggu! Apa Pak Raka sudah kembali dari luar kota?" Nadira cukup terkejut dengan jawaban yang Emma berikan. Bukan apa-apa, dia hanya malu saja pada atasannya itu karena secara tidak langsung Raka juga mengetahui retaknya mahligai rumah tangga Nadira.


"Iya. Dia baru masuk hari ini."


"Tidak bisakah kamu mau minta izin pada Mr-nya langsung? Aku rasa Pak Raka tidak perlu mengetahui hal ini."


"Tidak, Nad. Pak Raka harus mengetahuinya, dia juga yang akan menyampaikan hal ini pada Mr. Gerald," jawab Emma apa adanya.


"Tapi–"


"Kamu tidak usah khawatir, Pak Raka juga tidak akan membeberkan masalah rumah tanggamu ini. Jadi, kamu tidak perlu memikirkannya," ucap Emma yang sudah mengerti dengan pikiran Nadira.


"Aku hanya malu, Em. Aku tidak mau dia berpikiran buruk tentangku dan keluargaku."


"Jangan berpuasa seperti itu, toh dia juga bukan siapa-siapamu selain atasan. Kecuali kalau kamu berharap padanya," goda Emma disertai dengan kekehan kecil.


"Emma! Kamu jangan berbicara seperti itu! Bagaimana kalau ada orang sensitif yang mendengarnya? Bukankah itu akan semakin membenarkan gosip yang pernah menyebar waktu itu?" tegur Nadira. Dia merasa segan saja untuk digosipkan dengan Raka. Menurut Nadira, Raka terlalu baik untuknya. Jadi, pria itu tidak pantas untuk menerima gosip tentang kedekatan mereka.


"Akh, iya .... Maaf, Nad. Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Ya sudah. Tolong bantu aku itu saja, ya, Em. Hanya sehari ini saja, besok aku akan kembali bekerja," ucap Nadira sebelum ia mengakhiri panggilannya dengan Emma.


Nadira sudah mendapatkan pengacara yang akan membantu untuk mengurus perceraiannya dengan Danu. Dia juga sudah mengirimkan bukti yang berisi chat serta foto-foto yang ada di ponsel milik suaminya itu. Nadira hanya berharap proses perceraian dia dan Danu berjalan dengan lancar.


Kini wanita itu sudah bersiap untuk keluar rumah dengan Tiara di gendongannya. Nadira tidak akan menitipkan Tiara pada tetangga ataupun mertuanya lagi karena dikhawatirkan mereka melukai putrinya itu.

__ADS_1


Semoga saja tidak ada orang yang melihat kepergianku pagi ini, batin Nadira yang belum siap ditanya-tanyai oleh para tetangga.


Saat pintu kontrakannya terbuka, Nadira memperhatikan sekeliling. Mungkin karena biasa orang-orang sibuk di pagi hari mengantarkan anak mereka ke sekolah, jadi tempatnya tinggal itu terlihat sepi. Setelah mengamati sekitar, akhirnya Nadira pun keluar dari rumah kontrakannya dan segera mengunci pintu. Satu hal lagi yang dia harapkan, semoga ada tukang ojek yang sudah ada di pangkalan depan gang agar dia tidak perlu menunggu lama lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Danu kembali ke rumah kontrakannya bersama dengan Nadira. Pria itu sudah mencoba untuk mencari ponsel miliknya di rumah sang ibu, tapi tidak ditemukan dan Danu curiga kalau ponsel itu sudah disembunyikan oleh istrinya.


"Aku harus cepat menemukan ponsel itu sebelum Nadira menemukannya. Lancang sekali wanita itu menyembunyikan barang pribadi milikku," gumam Danu sambil melangkah lebar menuju rumah kontrakannya. Dia yakin kalau istrinya itu saat ini sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Langkahnya terhenti kala melihat rumah kontrakannya terlihat sepi. Bahkan lampu serta tempat sandal yang ada di depan rumah pun sudah kosong.


Kenapa rumahnya sepi sekali? Tidak mungkin kalau dia berangkat kerja pagi ini karena tidak ada yang menjaga Tiara. Atau ... jangan-jangan dia menitipkan Tiara pada Bu Rumi lagi, batin Danu.


Pria itu pun pergi ke rumah Ibu Rumi, dia yakin kalau Tiara dititipkan di sana seperti sebelum-sebelumnya. Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Danu pun sampai di rumah Ibu Rumi yang berada tepat di belakang rumah kontrakannya.


"Bu, apa Tiara bersama Ibu?" tanya Danu pada Ibu Rumi yang sedang menjemur pakaian.


"Tidak ada, Bu. Nadira tidak menitipkan Tiara pada Ibuku."


"Bagaimana bisa? Bukankah itu keluargamu? Kenapa kamu sampai tidak mengetahui kemana keluargamu sendiri pergi sepagi ini?"


"Itu ...." Danu mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Ibu Rumi karena dia pasti akan semakin disudutkan oleh wanita paruh baya itu.


"Jangan hanya berdiam diri di sini, cepat cari anak dan istrimu sebelum rumor buruk tentang kalian menyebar. Bukankah ibumu sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga?" sindir Ibu Rumi yang langsung membuat Danu pergi begitu saja dari hadapannya.


Kini pria itu segera kembali ke kontrakan dan mencoba untuk membuka pintu. Bahkan sesekali Danu juga menggedor kaca berharap Nadira ada di dalam dan mau membukakan pintu untuknya. Namun, setelah hampir satu jam lamanya dia berdiri di luar rumah, tak ada sedikitpun tanda-tanda kalau kontrakan itu berpenghuni. Akhirnya Danu pun memilih untuk pergi ke kosan Anita. Dia akan meminjam ponsel milik wanita itu untuk melacak keberadaan ponselnya.


Akh, aku baru ingat kalau aku bisa melacak ponselku dengan menggunakan ponsel Anita, gumamnya merasa bodoh sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sementara itu, Nadira baru saja sampai di kantor tempat dia dan pengacaranya melakukan janji temu.


"Terima kasih karena Ibu sudah mau menjadi pengacaraku," ucap Nadira sambil menundukkan diri di salah satu sofa yang tersedia di sana sambil menyalami wanita yang lebih dewasa darinya. Ya, Nadira memilih untuk menggunakan pengacara wanita agar pengacara itu bisa lebih memahami dirinya dan mempercepat proses perceraiannya.


"Sama-sama, Mbak. Saya juga sebagai perempuan merasa tidak nyaman kalau terus-menerus memaksakan pernikahan yang memang sudah hancur. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kalian. Saya juga akan berusaha untuk mendapatkan hak-hak yang perlu Anda dapatkan darinya."


Nadira tersenyum tipis saat mendengar jawaban dari sang pengacara. Dia tidak berharap kalau Danu mau memberikan hak-haknya sebagai ibu dari putrinya, Nadira hanya berharap bisa lepas dari kekangan pernikahannya dengan pria itu.


"Terima kasih atas bantuannya, Bu." Nadira pun memberikan berkas-berkas serta bukti yang sudah ada di tangannya tentang perselingkuhan Danu. Nadira tidak khawatir Danu akan menemukan ponselnya karena dia sudah mengganti akun email ponsel itu.


Selamat tinggal Mas Danu. Aku tidak akan membiarkan kamu untuk mengganggu kehidupanku lagi, batinnya sambil tersenyum puas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi novel hari ini, gengs! Jangan lupa mampir ya!


Kejadian masa lalu membuat Hasna harus bertemu dengan pria dingin yang menurutnya begitu menakutkan.


Namun, pada akhirnya dia sendiri yang malah terjebak dengan pesona pria dingin itu.


Bima, seorang asisten pengusaha muda yang cukup terkenal. Dia adalah si genius perusahaan Walton.Corp yang terkenal dengan sikap dingin dan tegasnya.


Dengan sikap dinginnya, Bima seolah membangun dinding besar yang kuat untuk tidak bisa orang lain menyentuhnya.


Namun, masa lalu Tuannya telah mempertemukan dia dengan gadis manis yang siap menggoyahkan hatinya yang beku.


"Aku masih menunggu gadis di masa laluku"


Kata yang membuat seorang Hasna mundur dan melupakan perasaanya pada pria dingin yang dia cintai itu. Bima yang telah menolak perasaannya secara terang-terangan, bahkan sebelum Hasna sempat mengungkapkannya.


Kisah cinta dengan masa lalu yang rumit..

__ADS_1



__ADS_2