
Berbeda dengan Nadira yang sibuk menidurkan Tiara di kamar, Raka saat sedang bersantai sembari menatap
langit-langit kamarnya. Bahkan, bibir pria itu sama sekali tidak berhenti tersenyum saat mengingat kalau Nadira-nya sekarang ada di tempat yang sama dengannya.
“Akh, setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan dia tinggal di mana lagi sekarang,” gumamnya.
“Tapi … aku juga merasa sedih, meskipun kami satu atap, tapi kami bukan siapa-siapa dan tidak memiliki
hubungan spesial,” lanjut Raka sembari bangkit dan duduk di atas kasur menatap pintu yang tertutup rapat. Jika sebelumnya ia masih ragu untuk mendekati Nadira dan Tiara, maka sekarang keraguan itu sudah berganti dengan semangat. Ya, dia bersemangat untuk mengambil hati Nadira.
“Oh, ya … apa sekarang dia sudah selesai dengan pekerjaannya? Akh, sayang sekali dia berada di sini untuk bekerja,” ucap Raka penuh sesal. “Tunggu saja, Nadira. Aku akan segera mengatakan perasaanku pada Mama. Aku harap, dia merestui kita dan menerima kamu serta Tiara di keluarga kami,” sambungnya lagi. Pria itu pun turun dari tempat istirahatnya dan berjalan menuju pintu sambil bersiul. Dia akan menemui Nadira sekarang.
Namun, baru saja Raka membuka pintu kamar, dia dikejutkan oleh seseorang yang sedang berdiri tepat di depan
pintu itu.
“Mama? Apa yang sedang Mama lakukan di depan pintu kamarku?” tanya Raka sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.
Ibu Santi menatap sang anak yang tampak sumringah. Bahkan, dia juga tahu kalau Raka tidak biasa bersiul, apalagi di dalam rumah.
“Mau ke mana kamu, Raka?” tanyanya dengan penuh selidik.
“Hmmm? I—itu ….” Raka tampak gugup saat hendak menjawab pertanyaan mamanya.
“Ke mana?” ulang Ibu Santi tanpa mengubah pandangannya dari sang putra.
“Aku … aku mau ke taman belakang! Ya, taman belakang, Ma,” jawab Raka dengan cepat agar mamanya itu tidak lagi bertanya.
Raka tidak tahu saja kalau sebenarnya sang mama sudah mengetahui niatnya untuk bertemu Nadira. Namun, Ibu
__ADS_1
Santi enggan untuk ikut campur dengan perasaan putranya, selama Raka baik-baik saja dan tidak membawa pengaruh buruk apapun, maka dia akan tetap mendukungnya.
“Apa kamu sedang tidak membohongi Mama?” tanya Ibu Santi yang tentu saja membuat Raka semakin salah
tingkah.
“A—apa maksud Mama bertanya seperti itu? Tentu saja aku memang akan pergi ke halaman belakang!” kilah Raka
dengan tegas.
Melihat putranya yang masih enggan jujur, Ibu Santi pun memilih untuk mengalah dan mengiyakan ucapan Raka. Meskipun sedikit kecewa karena Raka tidak berkata jujur padanya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Hmmmm, baiklah. Kalau begitu, Mama juga akan ke kamar dulu!" ucap Ibu Santi seraya menepuk bahu putranya.
"O–oh ... iya, Ma. Mama istirahatlah dulu."
Pesan Ibu Santi lagi.
"Hah? Apa yang ingin Mama bicarakan dengan Nadira?" tanya Raka terkejut ketika mendengar pesan sang mama.
Ibu Santi mengangkat kedua bahunya dan menjawab, "Hanya pembicaraan wanita saja. Bukan hal penting."
Setelah menjawab pertanyaan Raka, Ibu Santi pun berlalu meninggalkan putranya yang penuh tanda tanya.
Apa yang ingin Mama bicarakan dengan Nadira? Kenapa kelihatannya sangat serius? batin pria itu bertanya-tanya.
Tidak bisa dipungkiri, Raka sedikit khawatir dengan permintaan sang mama untuk berbicara dengan Nadira, karena wanita paruh baya itu selalu memperingatkan wanita manapun yang terlihat dekat dengannya. Maka dari itu, Raka sedikit menjaga jarak dan bersikap acuh pada wanita.
"Akh, sudahlah. Sebaiknya sekarang aku temui Nadira dulu sebenarnya," sambungnya lagi.
__ADS_1
Raka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat dia tadi mau minta bertemu dengan Nadira.
...****************...
Sementara itu, Nadira yang baru saja selesai menidurkan Tiara langsung bergegas turun secara perlahan dari atas tempat tidur. Dia juga sedikit penasaran dengan ucapan Raka tadi yang memintanya untuk berbicara berdua.
Apa yang ingin Pak Raka katakan padaku, ya? Apa dia akan marah dan memintaku pergi dari sini? gumamnya. Nadira merasa resah dengan pemikirannya sendiri, jikalaupun Raka memang memintanya untuk pergi dari sana, maka dia harus siap angkat kaki dari rumah Ibu Santi.
"Hah, sudahlah ... sebaiknya aku harus segera menemui Pak Raka sekarang juga sebelum dia merasa kesal karena aku sudah membuatnya menunggu lama," putus Nadira. Ibu satu anak itu segera merapikan penampilannya dan berjalan keluar dari kamar.
Saat membuka pintu kamar, di lorong itu tak ada satupun orang sehingga membuat Nadira bisa menghela napas lega.
Akh, syukurlah di sini tidak ada orang, batinnya seraya mengusap dada. Nadira pun melanjutkan langkahnya menuju tempat di mana tadi Raka memintanya untuk bertemu.
Sesampainya di taman belakang, rupanya Raka sudah duduk di bangku yang berada tak jauh dari tempat dia berdiri. Sebenarnya Nadira merasa sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia kembali berbicara empat mata dengan Raka setelah sekian lamanya. Bahkan jantungnya sedari tadi benar-benar tidak bisa diajak kompromi karena berdegup dengan kencangnya, sampai-sampai membuat Nadira beberapa kali mengepalkan tangan untuk menetralkan perasaannya sendiri.
"Ya Tuhan ... kenapa aku merasa sangat gugup sekali?" gumam Nadira sambil terus menatap punggung Raka yang terlihat tegap dan gagah hingga membuat dia membayangkan bagaimana rasanya bersandar di punggung itu.
"Astaga ... ada apa denganku!" Nadira bergumam sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya, dia benci dengan pemikirannya saat ini.
Raka yang saat itu mendengar gumaman Nadira, langsung berbalik dan memanggilnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana, Nadira? Cepatlah kemari!" perintah Raka yang langsung membuat Nadira menegakkan tubuhnya.
"O–oh, i–iya, Pak ...," jawab Nadira dengan terbata-bata.
Meskipun sedikit gugup dan takut, Nadira tetap melangkahkan kakinya menghadap Raka. Dalam pikirannya, biarlah meskipun Raka ingin mengusirnya dari rumah itu, toh dia hanya sekedar bekerja di sana. Namun, hal yang tak Nadira duga justru terjadi. Raka tiba-tiba menyambar tangan dan menarik dia ke dalam pelukannya. Bahkan, Nadira bisa merasakan hembusan nafas pria itu di puncak kepalanya.
"Aku sungguh merindukanmu. Mungkin aku tidak sopan melakukan hal ini padamu, tapi aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku."
__ADS_1