Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 60


__ADS_3

"Mas, sekarang apa yang harus kita lakukan? Ayah dan Ibuku sepertinya tidak peduli lagi. Kamu tidak mungkin membiarkanku hamil tanpa seorang suami 'kan?" tanya Anita saat kedua orang tuanya sudah pergi dari kosannya.


"Tentu saja aku juga tidak ingin membiarkanmu menjalani hari-hari berat nanti sendirian, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Kedua orang tuamu tidak mengizinkanku menikahimu sebelum urusanku dengan Nadira selesai, sementara aku sendiri tidak tahu di mana sekarang dia berada," jawab Danu sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa frustasi sendiri karena dirinya tidak bisa menemukan keberadaan Nadira dan Tiara, sementara kedua orang tua kekasihnya terus mendesak dia untuk segera menyelesaikan urusan mereka.


Di mana aku harus mencari Nadira? Bahkan Ibunya pun malah menanyakannya padaku. Padahal mereka keluarga intinya, batin Danu merasa kesal.


Anita mencebik saat mendengar jawaban dari kekasihnya. Dia turut kesal karena melihat dan seperti orang yang bimbang dan terus-menerus menunda-nunda pernikahan mereka sementara perutnya akan semakin besar seiring berjalannya waktu.


"Mas, kamu bisa mencarinya! Jangan hanya diam dan bertanya saja. Atau kamu bisa desak keluarganya Nadira supaya mereka mau memberitahukan keberadaan wanita itu. Aku yakin, mereka hanya mencoba menutupi keberadaan mantan istrimu sekarang dan bersikap seolah-olah kalau mereka tidak mengetahui keberadaan Nadira," sahut Anita sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Mereka tidak mungkin berbohong, Anita. Apalagi Ibu Risma sampai mendatangi Ibuku, hanya untuk mencari keberadaan anaknya," kilah Danu.


"Tapi meskipun seperti itu, rasanya tidak masuk akal kalau mereka benar-benar tidak mengetahui keberadaan Nadira, Mas. Kamu itu harusnya jadi laki-laki yang pintar sedikit dong! Usaha, Mas!" bentak Anita.


"Aku sudah usaha, Nit. Tapi–"


"Usaha di bagian mananya? Kamu hanya menghubungi pengacara wanita itu lewat panggilan telepon saja, sementara pengacara itu terus-menerus berusaha menutupi keberadaan Nadira." Napas Anita mulai terengah-engah karena menahan emosi, sementara Danu hanya diam dan terus berusaha membela dirinya kalau dia sudah berusaha menemukan keberadaan Nadira dan Tiara.


***


Sementara itu, siang ini Nadira sedang sibuk-sibuknya bekerja di rumah orang tua Nera. Dia juga terpaksa menitipkan Tiara pada Ibu Nurul. Awalnya Nadira menolak untuk menitipkan putrinya itu pada Ibu Nurul dan berniat untuk membawanya ke rumah kedua orang tua Nera, tapi Ibu Nurul berusaha meyakinkan Nadira kalau dia bisa menjaga Tiara dengan baik. Alhasil, setelah membujuk Nadira untuk mempercayainya selama satu jam, barulah wanita paruh baya itu bisa membawa Tiara ke rumahnya.


Ya Tuhan ... sudah siang. Apa Tiara tidak menangis di rumah Ibu Nurul? batin Nadira saat menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.


"Nad, sebaiknya kamu pulang dulu dan beristirahat sebentar. Di sini biar Ibu dulu yang tangani. Ini tinggal digoreng saja, bukan?" saran Bu Nani yang turut membantu kedua orang tua Nera untuk memasak bersama Nadira.


"Oh, iya, Bu. Tinggal goreng itu saja. Tapi, apa tidak masalah kalau saya pulang lebih dulu?" Nadira kembali bertanya karena merasa tidak enak hati jika harus meninggalkan rekan kerjanya. Apalagi dia yang langsung dimintai tolong oleh calon besan Ibu Nurul itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Nad. Ibu bisa goreng lauk ini sendirian, menggantikan kamu. Nanti setelah kamu kembali, baru kita kerjakan sama-sama lagi,” jawab Bu Nani.


Nadira pun mengangguk dan segera mencuci tangannya yang penuh dengan tepung itu. Dia akan menemui kedua orang tua Nera dulu sebelum pergi dari sana. Namun, baru saja Nadira keluar dari tenda yang merupakan dapur sementara itu, dia berpapasan dengan Nera. Entah gadis itu yang memang menghampirinya atau hanya sebuah kesengajaan. Yang pasti, Nadira tahu kalau Nera memang berniat menemuinya.


“Mbak Nad, boleh kita bicara sebentar?” tanyanya.


“Ada apa, Ner? Apa penting sekali?” sahut Nadira yang merasa kurang nyaman karena selama ini dia berusaha untuk tidak berurusan dengan Nera atau Andri sekalipun. Bukan tanpa alasan, Nadira hanya tidak ingin Namanya di sana jadi jelek jika terjadi sesuatu pada hubungan sepasang kekasih itu.


“Iya, Mbak. Ini penting. Tolong ikut aku sebentar!” pinta Nera sambil berlalu tanpa menunggu persetujuan Nadira hingga membuat ibu satu anak itu mau tak mau harus mengikutinya.


Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju ruangan lain rumah itu dengan Nera yang memimpin langkah mereka.


“Ner, kalau bisa, jangan lama-lama, ya! Aku harus segera pulang dan melihat Tiara,” pinta Nadira sambil terus mengikuti langkah Nera dengan bingung. Ya, tentu saja dia bingung kerena tidak tahu Nera akan membawanya pergi ke mana.


“Mbak Nadira tenang aja. Kalaupun lama, Mama dan Papaku tidak akan marah karena mereka tahu, kamu pergi denganku,” sahut Nera tanpa menghentikan langkahnya.


“Mbak ikut saja,” jawab Nera dengan singkat.


Mendengar jawaban gadis di depannya yang sangat singkat dan padat, mau tidak mau akhirnya Nadira hanya bisa terus membuntuti langkahnya saja tanpa bertanya-tanya lagi.


Setelah melewati pintu keenam, akhirnya Nera berhenti. Dia berbalik dan menatap Nadira dalam diam.


“Ada apa, Ner? Kenapa diam saja? Bukankah ada yang ingin kamu katakan?” tanya Nadira saat melihat Nera yang


hanya menatapnya dalam diam.


Nera masih diam. Namun, kini pandangan gadis itu tertunduk hingga membuat Nadira semakin bingung.

__ADS_1


“Ner, kamu kenapa? Apa—”


“Bisa tidak, Mbak Nadira pergi dari kampung ini? Jika Mbak tidak bisa pergi kembali ke tempat asal, setidaknya pergi ke mana pun ke tempat yang tidak akan diketahui orang-orang di sini?” tanya Nera secara tiba-tiba.


Nadira terdiam sesaat ketika mendengar pertanyaan Nera. Dia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan gadis itu.


“Nera, apa maksudmu bertanya seperti itu? Bahkan aku tinggal di sini baru sepuluh hari, tapi kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanyanya.


“Mbak tidak akan mengerti keadaanku. Jikalau pun aku mengatakannya, Mbak tidak akan mengerti. Jadi, lebih baik Mbak


tidak tahu alasannya dan pergi saja dari sini,” jawab Nera yang semakin membuat Nadira terheran-heran.


Namun, karena Nera tidak memberikan alasan yang jelas, maka Nadira pun menolak permintaan gadis itu. Dia juga sudah merasa


nyaman tinggal di sana, jadi tak ada alasan untuknya menuruti keinginan Nera.


“Maaf, aku tidak bisa menuruti keinginan kamu, Nera. Jika memang kamu tidak menyukaiku, kamu bisa menghindar setiap kali kita bertemu. Kamu tidak punya alasan yang jelas memintaku pergi dari sini dan aku juga tidak punya alasan untuk mengikuti keinginanmu itu,” jawab Nadira sambil menatap lurus gadis dihadapannya.


“Tapi, Mbak—” Nera menengadah dan menatap balik Nadira.


“Katakan!” perintah Nadira dengan tegas agar Nera mengatakan alasan gadis itu mengusirnya dari sana.


“Aku … tidak bisa mengatakannya.” Nera kembali menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, aku tidak akan pergi dan kamu juga sudah membuang waktu istirahatku dengan percuma.” Nadira berbalik,


berniat pergi meninggalkan Nera. Namun, baru beberapa langkah wanita berjalan, tiba-tiba Nera kembali mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat mustahil.

__ADS_1


“Jika Mbak Nadira tidak pergi dari sini, maka pernikahanku dengan Andri terancam batal!”


__ADS_2