
Kegiatan pagi ini tidak terlalu banyak yang bisa dilakukan oleh Nadira. Dia hanya mencuci baju bekas sehari kemarin dan segera mengurus putrinya yang baru bangun tidur, sebelumnya Nadira juga sudah mandi terlebih dulu karena dia tidak mungkin meninggalkan Tiara di waktu bayi itu bangun. Senyuman tipis terus tercetak di bibir Nadira, dia tidak perlu khawatir kesiangan lagi hari ini karena jarak dari kontrakan baru ke pabrik hanya cukup ditempuh dengan perjalanan waktu sepuluh menit.
Setelah selesai mendandani Tiara, Nadira pun segera menyiapkan susu formula untuk ia bawa ke tempat pengasuhan putrinya yang berada tak jauh dari kontrakan. Ya, setidaknya sekarang dia tidak perlu khawatir putrinya akan diperlakukan kasar dan jika hal itu kembali terjadi Nadira tidak akan segan-segan untuk membawanya ke jalur hukum. Tidak seperti saat dengan mertuanya yang hanya bisa menerima apa yang mereka lakukan tanpa bisa memberontak.
"Bu, saya titip Tiara untuk dijaga di sini selama saya kerja," ucapkan Nadira pada wanita paruh baya yang merupakan pemilik tempat penitipan anak itu.
"Iya, Mbak Nad. Mbak tenang saja, kami pasti akan mengurus putrimu dengan baik," jawab wanita paruh baya itu.
"Terima kasih, Bu." Nadira melepaskan Tiara dari gendongannya dan menyerahkan bayi itu pada sang pemilik tempat penitipan anak.
Setelahnya, wanita muda itu pun berpamitan sebelum ia pergi bekerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nadira kini sudah sampai di gerbang pabrik. Dia belum masuk ke area sana karena melihat Danu baru saja menurunkan seorang wanita dari kendaraan motornya. Nadira cukup terkejut karena dia tidak menyangka kalau suaminya akan datang ke sana dengan mengantarkan selingkuhannya.
Ya Tuhan ... mereka benar-benar tidak mempunyai pikiran dan rasa malu. Berani-beraninya menunjukkan hubungan terlarang mereka di depan publik tanpa malu seperti ini. Sekarang aku benar-benar merasa bahagia karena keputusanku untuk bercerai dengan Mas Danu sudah tepat, batin Nadira sambil terus mengawasi ke sepasang sejoli itu.
Meskipun awalnya Nadira kira mereka tidak akan langsung mengungkapkan hubungannya di depan umum, tapi ternyata hanya di tempat Danu saja mereka menjaga jarak, sedangkan di tempat lain mereka tidak malu-malu untuk menunjukkan hubungannya.
Perasaan Nadira untuk Danu benar-benar sudah mati, wanita itu bukan lagi merasa sakit hati saat melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh pria yang masih berstatuskan suaminya dengan wanita lain, melainkan dia merasa jijik pada mereka berdua.
Astaga ... cepatlah kalian pergi dari sana! Aku muak melihat kalian bersikap tidak tahu malu seperti itu, gerutu Nadira di dalam hatinya. Sebenarnya Nadira juga tidak ingin berlama-lama bersembunyi di balik pagar pabrik, tapi dia tidak ingin Danu maupun Anita melihat keberadaannya. Jadi, yang bisa dilakukannya sementara ini adalah bersembunyi.
Setelah jam masuk kerja tinggal lima menit lagi, barulah sepasang kekasih haram itu berpisah. Kini Nadira hanya bisa mempercepat langkahnya supaya dia tidak terlambat sampai di gedung tempatnya kerja.
Dengan napas yang masih terengah-engah, Nadira mendudukkan dirinya di salah satu kursi milik temannya bekerja. Saat itu Emma langsung menghampiri Nadira begitu melihat wanita itu datang.
"Nad, kamu kenapa terengah-engah seperti itu? Seperti dikejar hantu saja," gurau Emma sambil menyenggol bahu wanita itu.
"Iya, Em. Tadi aku melihat dua hantu gentayangan. Makanya aku datang terlambat seperti ini," kelakar Nadira yang menyebut Danu dan selingkuhannya adalah hantu.
"Ck, aku serius, Nad!"
__ADS_1
"Iya, aku juga serius, Em. Kamu pasti mengerti dengan apa yang aku maksud,"sahut Nadira sambil bangkit dari tempat duduk itu dan menuju tempatnya bekerja, tadi dia hanya menumpang istirahat saja.
Emma mengikuti langkah Nadira. Dia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada temannya itu karena hari ini Nadira terlihat lebih fresh dan lebih bersemangat dari biasanya.
"Nad, apa yang terjadi pada keluargamu?" tanya Emma setelah melihat Nadira duduk di mesin tempatnya bekerja. Nadira bekerja di pabrik itu sebagai penjahit.
Nadira terdiam saat mendengar pertanyaan dari Emma. Saat ini dia tidak ingin membahas masalah keluarganya dulu karena dia ingin menjalani hari-harinya dengan tenang.
"Kita harus siap-siap bekerja sebelum Mr. Gerald kemari dan menemukan kita sedang mengobrol!" sahut Nadira yang memilih untuk menghindar dari pertanyaan Emma.
Emma berusaha mengerti dengan apa yang terjadi pada temannya, ia pun mengangguk dan membiarkan Nadira fokus pada pekerjaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang ini Nadira memilih untuk tidak datang ke kantin karena dia akan pulang ke kosannya melihat keadaan Tiara. Mulai sekarang dia akan memanfaatkan waktu istirahatnya itu untuk meluangkan waktu bersama putri kecilnya. Meskipun Nadira akan merasa kelelahan karena harus bolak-balik ke pabrik, tapi itu tidak menjadi masalah.
"Bu Irma, saya datang kemari untuk menemui Tiara!" kata Nadira setelah sebelumnya ia mengucapkan salam.
"Oh, iya, Mbak. Tapi sekarang Tiara–nya sedang tidur. Dia baru saja meminum susu dan langsung terlelap beberapa menit yang lalu," jawab ibu Irma sambil mempersilakan Nadira masuk ke area penitipan anak itu.
Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya kedua wanita berbeda usia itu pun sampai di ruangan tempat Tiara terlelap. Nadira bersyukur karena hari ini dan kemarin dia tidak mendapati tangis rewel ataupun kesakitan yang dirasakan oleh putrinya.
Nak, maafkan Mama yang selama ini tidak benar-benar memperhatikanmu. Sekarang, meskipun kita hanya akan berdua, Mama akan sepenuh hati menjagamu hingga kamu tidak pernah merasa sedih karena sudah kehilangan kasih sayang Bapakmu, batin Nadira sambil mengecup kening putrinya.
Ibu Irma melihat kedekatan ibu dan anak itu tampak terharu. Meskipun banyak bayi-bayi yang dirawat di sana, tetapi sangat jarang ada ibu yang merelakan waktu istirahatnya hanya untuk melihat buah hati mereka terlelap.
"Mbak ... Mbak tidak usah khawatir selama bekerja, Tiara pasti akan kami rawat dengan baik di sini," ucap Ibu Irma saat menyadari ibu dari putri yang diasuhnya tampak sedih.
"Iya, Bu. Saya percaya kalau Ibu bisa menjaga putri saya dengan baik di sini," sahut Nadira sambil tersenyum.
Meskipun bukan bagian dari keluarganya yang menjaga Tiara, tapi Nadira merasa bersyukur karena putrinya itu kini ada di tangan orang yang tepat. Nadira juga hanya bisa berharap suami serta mertuanya tidak lagi mengganggu kehidupan dia dan putrinya.
"Bu, saya ingin berpesan suatu hal yang penting," kata Nadira tiba-tiba.
__ADS_1
Ibu Irma menoleh dan menatap wanita muda di hadapannya dengan pandangan heran. "Hal penting apa itu?" tanyanya.
"Jika ada seseorang yang mencari Tiara kemari dan mengaku sebagai Bapak ataupun Neneknya, tolong Ibu segera hubungi saya! Saya mohon Ibu jangan mudah memberikan Tiara pada mereka!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi novel hari ini, gengs! Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak, ya!
Alex hanya seorang anak jalanan, untuk memenuhi hidupnya alex terpaksa
mencuri hingga suatu hari alex bertemu dengan mafia dan di besarkan di
lingkungan mafia, hingga di umurnya yang ke 30 tahun alex di angkat untuk mengantikan ayah angkatnya sebagai ketua mafia.
Suatu hari alex mengetahui siapa kedua orang tuanya dan lenyebab
kematiannya, ternyata alex adalah keturuna dari D’devil, D’devil adalah
anggota mafia yang sudah berdiri puluhan tahun. Sehingg alex
membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dengan menikahi putri
dari pembunuh tersebut.
Laura gadis yang kurang beruntung karena hidup sebagai anak angkat dari
keluarga gunawan dan lebih menyedihkan lagi ia harus mau menikah dengan
Alex sebagai balas budi karena telah menyelamatkan gunawan.
Apakah alex akan berhasil membalas kematian kedua orang tuanya?
Apakah akan ada cinta di antara alex dan laura?
__ADS_1
Bagaimana reaksi alex jika tau laura bukan putri dari gunawan?