
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Danu pun sampai di rumah kontrakannya Bersama
Nadira. Dia segera membawa Tiara masuk ke sana dan memberikannya pada Nadira.
“Ini, susui dia! Sepertinya dia lapar,” ucap pria itu pada wanita yang sedang duduk di sofa.
Nadira segera menerima Tiara dan membawanya ke dalam pelukan. Lagi-lagi dugaan Nadira benar kalau ibu mertuanya itu sama sekali tidak memperhatikan Tiara dengan benar, bahkan seakan tidak mempedulikannya. Bukan tanpa sebab Nadira beranggapan seperti itu, tapi karena melihat baju Tiara serta popok yang dikenakan bayi itu masih sama dengan yang dilihatnya pagi, popok Tiara pun sudah penuh dan tidak ada yang menggantikannya.
“Tega sekali mereka membiarkan putriku dalam keadaan seperti ini,” geram Nadira seraya membawa Tiara masuk ke kamar untuk digantikan baju serta popok bayi itu. Dia tidak menghiraukan Danu yang saat ini sedang duduk santai di sofa.
“Hei, apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya pria itu saat pendengarannya tak sengaja menangkap suara Nadira yang berbisik tadi, Namun, dia tidak terlalu menndengar jelas gerutuan istrinya itu.
Nadira mengabaikan pertanyaan Danu. Dia tetap melangkah menuju kamar yang dulu sesalu menjadi tempatnya
beristirahat bersama Danu.
“Nadira, apa kamu tidak mendengar pertanyaanku?” ulang Danu yang kini sedang berdiri di ambang pintu kamar sambil memperhatikan istrinya yang sedang mengganti baju putri mereka.
Ya, beruntung saat itu Nadira tidak membawa baju-baju Tiara saat mereka pergi, jadi sekarang dia bisa mengenakan baju lama itu pada putrinya.
“Apa? Memangnya aku mengatakan apa?” tanya wanita itu tanpa menatap Danu yang sudah sangat muak di matanya.
__ADS_1
“Aku tidak mendengar jelas apa yang kamu katakana. Tapi, aku yakin kalau kamu sedang memprotesku, atau mamaku,” jawab Danu.
Nadira menarik napasnya dalam-dalam sebelum menyahuti perkataan Danu.
“Rasanya aku tidak perlu menjelaskan bagaimana kekesalanku pada keluargamu, Mas. Bukankah kamu juga sudah mengetahuinya?” tanya Nadira dengan kesal.
Danu mendengus kesal setelah mendengar jawaban Nadira. “Dia yang sekarang benar-benar berbeda dengan Nadira yang aku kenal dulu,” batinnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Danu lekas pergi meninggalkan Nadira dan Tiara. Meskipun saat ini hatinya sedang panas, tapi Danu harus bisa menahannya. Jangan sampai niatnya memperbudak Nadira mengurus Anita nanti, bisa gagal kalau dia terlalu keras pada wanita itu.
Nadira tidak mempedulikan Danu yang pergi meninggalkannya keluar dari rumah. Justru dia merasa lega karena tadi sempat ketakutan kalau Danu sampai masih bertahan hingga larut malam dan bisa saja Danu melakukan apa yang tidak ingin dilakukannya. Entahlah … tapi Nadira sangat takut akan hal itu. Meskipun mereka adalah suami istri, tapi Nadira tidak ingin disentuh oleh orang yang sudah pernah menyentuh orang lain. Pantang untuknya berbagi dengan orang lain.
“Bagaimana, sayang … apa sekarang kamu sudah merasa nyaman?” tanya Nadira pada putrinya setelah ia selesai mengganti baju serta popok bayi itu.
***
Sementara itu, Danu pergi ke kosan tempat Anita berada. Dia memang tidak peduli dalam keadaan apapun, pasti akan datang pada kekasihnya itu jika benar menginginkannya. Dalam perjalanan menuju kosan Anita, Danu juga tidak lupa membelikan makanan yang menjadi kesukaan wanita hamil itu. Namun, Danu tiba-tiba teringat kalau dia juga tidak menyediakan makan di kontrakan dan mungkin Nadira saat ini sedang kelaparan. Danu yakin, kalau Nadira pergi ke rumahnya begitu wanita itu pulang kerja dan tidak memikirkan makanan.
"Apa aku belikan sekalian untuknya, ya?" pikir Danu.
"Akh, sudahlah, biarkan saja dia kelaparan. Suruh siapa dia tidak menuruti perkataanku. Biar aku hukum dia kali ini," batin Danu yang memilih mengurungkan niatnya membelikan makanan untuk Nadira.
__ADS_1
Setelah pesanan makanannya selesai, Danu pun kembali melajukan kendaraannya menuju tempat kekasihnya berada.
"Anita pasti akan senang karena aku membawa makanan kesukaannya," gumam Danu seraya tersenyum, membayangkan reaksi Anita nantinya.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit, akhirnya Danu pun sampai di persimpangan terakhir. Akan tetapi, dia tidak sengaja bertemu teman lamanya yang baru saja keluar dari gerbang tempat kosan Anita.
"Hai, Ben!" sapa Danu pada pria yang bernama Beni. Dia adalah teman sekolahnya dulu. Jadi, Danu cukup mengenalinya.
Beni segera menghentikan laju kendaraanya saat melihat Danu. "Hai juga, Dan! Lama tidak bertemu!" Kedua pria itu bersalaman.
"Iya, nih. Kamu dari mana?" tanya Danu berbasa-basi.
"Biasalah, Dan. Aku baru pulang cari hiburan. Maklum, masih belum punya istri, jadi lagi puas-puasin main," sahut Beni yang langsung diangguki oleh pria itu.
Tentu saja Danu mengerti dengan maksud Beni tadi karena tempat kosan kekasihnya itu tempat yang biasa menerima 'tamu' pria. Danu juga pernah khawatir pada Anita yang turut tinggal di sana, tapi setelah mendengar janji wanita itu, mau tidak mau, Danu pun hanya bisa mengiyakan saja Anita tinggal di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gengs, jangan lupa menampilkan novel rekomendasiku hari ini, ya!
__ADS_1
Perjuangan seorang wanita bernama Aracelia Daneen Gunawan untuk meluluhkan hati seorang karyawan biasa di kantor ayahnya. Hingga ia mengubah penampilannya demi menutupi identitas sebenarnya bahwa dia pernah ada dalam kejadian masa kelam pria itu. Ali Danish Mahendra, nama pria yang terpaksa menikahi gadis culun. Putri sang bos di tempatnya bekerja. Lalu bagaimanakah perjuangan Ara untuk meluluhkan hati Danish?