Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 85


__ADS_3

Nadira masih mematung di balik pintu hingga beberapa saat, sebelum kesadarannya kembali tertarik setelah ia merasakan Tiara yang menggeliat di gendongannya. Sepertinya bayi itu tahu kalau sang ibu sedang melamun, makanya ia segera menyadarkannya.


“Akh, sayang … maafkan Mama. Sepertinya tadi Mama melamun,” ucap Nadira seraya membaringkan Tiara di kasur.


Setelah memastikan putrinya aman, Nadira pun segera membuka bungkus makanan yang tadi dibelinya sebelum dingin. Dia memilih untuk mengalihkan perasaannya yang masih tak karuan dengan hal lain.


“Setelah ini, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku tidak bekerja karena aku dan putriku harus bertahan hidup,” ucapnya dengan sayu. Nadira tidak bisa kembali berjualan karena di sana sudah banyak yang berjualan makanan. Meskipun rezeki sudah ada yang mengatur, tapi Nadira tidak bisa mengambil kesimpulan itu karena saat ini dia punya keterbatasan dana. Bagaimana jika nanti dagangannya tidak laku terjual, sementara dia tidak punya tambahan modal.


“Ayo berpikir, Nadira! Pasti ada suatu hal yang bisa kamu lakukan!” gumamnya lagi. Dia benar-benar berpikir dengan keras, hingga tiba-tiba saja sebuah pikiran terlintas di benaknya.


“Ibu Santi!” seru Nadira. “Aku harap, beliau bisa membantuku,” sambungnya lagi seraya menyambar ponsel yang disimpannya di samping tempat tidur. Dia akan menghubungi wanita paruh baya itu untuk menanyakan pekerjaan yang mungkin tersedia di rumah makan milik beliau.


Suara dering panggilan yang tersambung membuat jantung Nadira berdegup kencang. Dia sangat khawatir Ibu Santi tidak bisa membantunya saat ini. Akan tetapi, Nadira terus berusaha meyakinkan hatinya untuk berpikir


positif dan berharap Ibu Santi bisa membantunya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya suara Ibu Santi pun terdengar di telinga Nadira.


“Assalamu’alaikum, Nad. Ada apa?” tanya Ibu Santi.


“Wa’alaikum salam, Bu. Maaf sebelumnya jika aku mengganggumu.”


“Tidak. Kamu tidak mengganggu Ibu. Katakan saja, ada apa? Apa ada yang bisa Ibu bantu?” tanya Ibu Santi lagi.


Dengan suara yang sedikit bergetar, Nadira berusaha untuk tetap mengatakan niatannya.

__ADS_1


“Maaf jika aku kurang sopan, Bu. Tapi … saat ini aku sedang kebingungan. Aku tidak bisa berjualan lagi karena aku sudah pindah tempat tinggal. Dan di sini aku tidak melihat peluang untuk membuka usaha lagi. Jadi, apa Ibu bisa membantuku mencari pekerjaan? Aku bisa mengerjakan apapun,” terang Nadira panjang lebar.


Ibu Santi mendengarkan perkataan Nadira dalam diam. Dia benar-benar menyimak ucapan wanita muda yang pernah menolongnya itu.


“Apa sekarang kamu sedang butuh pekerjaan, Nadira?” tanyanya setelah beberapa saat diam.


“I—iya, Bu.”


“Lalu, bagaimana dengan putrimu? Kamu tidak mungkin bisa bekerja sambil membawa Tiara, bukan?”


Nadira menundukkan kepalanya sambil menoleh pada Tiara yang sedang menatapnya dengan mata bulat. Sungguh, itu membuat Nadira gemas pada bayinya.


“Aku tahu, Bu. Makanya aku bermaksud mencari pekerjaan yang bisa kulakukan sambil membawa Tiara bersamaku,” jawab wanita muda itu pelan. Sebenarnya dia juga tidak tega membawa Tiara bersamanya, tapi dia juga tidak mungkin hanya tinggal diam.


Keheningan terjadi untuk beberapa saat setelah Nadira menjawab pertanyaan Ibu santi.


“Ti—tidak, Nadira. Bukan itu. Hanya saja … Ibu merasa kasihan pada Tiara jika dia dibawa kerja olehmu,” kata Ibu Santi. “Sebenarnya di restoran milik Ibu, ada lowongan pekerjaan, jadi pelayan. Tapi ….”


“Aku bisa melakukannya, Bu!” potong Nadira dengan cepat, bahkan sebelum Ibu Santi menyelesaikan perkataannya.


“Masalahnya bukan kamu tidak bisa melakukannya, Nad. Tapi, Ibu bingung dengan Tiara. Kamu tidak mungkin membawa atau meninggalkan Tiara dengan orang lain ‘kan?”


Kekecewaan tampak jelas di wajah Nadira, meskipun Ibu Santi tidak melihatnya, tapi dia merasakan kalau penolongnya itu saat ini tengah kecewa.

__ADS_1


“Nad, bagaimana jika kamu membantu pekerjaan Ibu saja di rumah? Di sana kamu bisa melakukan pekerjaan rumah sambil menjaga Tiara?” tanya Ibu Santi. Sebenarnya dia tidak terlalu membutuhkan pekerja rumah karena sudah ada beberapa pekerja yang mempunyai tugasnya masing-masing, tapi karena tidak ingin membuat Nadira kecewa, akhirnya ia pun menawarkan hal itu pada Nadira.


“Apa sungguh ada pekerjaan di rumah Ibu Santi?” tanya Nadira dengan antusias. Hal itu terdengar sangat jelas di telinga Ibu santi.


“Iya, Nad. Bagaimana, apa kamu bersedia?”


“Iya, Bu. Tidak masalah untukku bekerja di mana pun!” sahut Nadira dengan riang karena yang saat ini ia inginkan adalah pekerjaan. Seperti apapun pekerjaan itu, akan ia lakukan dengan sungguh-sungguh.


“Baiklah. Jika kamu memang bersedia bekerja di rumah Ibu, kirimkan alamatmu saat ini. Biar sopir Ibu yang menjemput kamu!” perintah Ibu Santi.


“Hah? Menjemput?” tanya Nadira dengan heran.


“Iya. Bukankah kamu akan bekerja di rumahku? Jadi, kamu akan tinggal di sana supaya kamu tidak perlu pulang pergi lagi,” jawab Ibu Santi.


Senyum Nadira semakin berkembang setelah mendengar ucapan Ibu Santi. Dia sungguh senang karena selain bisa mendapat pekerjaan, dia juga mendapatkan tempat tinggal gratis.


“Ba—baiklah. Saya akan mengirimkan alamatnya sekarang dan segera berkemas,” sahut Nadira.


“Hmmm. Baiklah. Aku akan menunggumu dan Tiara di rumah.”


Nadira mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali meskipun Ibu Santi tidak melihat apa yang dia lakukan. “Baik, Bu. Terima kasih banyak. Terima kasih karena sudah menolongku,” ucapnya.


“Sama-sama, Nadira. Semoga itu bisa sedikit mengurangi bebanmu.”

__ADS_1


“Iya, Bu.”


Setelah mengucapkan kata terima kasih lagi, Nadira pun berpamitan untuk kembali mengemas barang-barang yang sempat ia keluarkan tadi malam.


__ADS_2