
Amukan besar pecah dari Danu di rumah Ibu Susan. Bagaimana tidak sejak pagi hingga sore ini Nadira masih belum pulang juga ke kontrakan. Belum lagi ponselnya yang hilang sampai saat ini tidak bisa ditemukan dan hal itu semakin membuat Danu frustasi. Meskipun Danu sudah meminta Anita untuk melacak ponsel itu, dia tidak bisa menemukannya.
"Akh, ini benar-benar membuatku geram! Di mana aku kehilangan ponsel itu?" Dan wanita itu pula, kemana dia pergi? Lancang sekali pergi tanpa seizinku dari pagi sampai sekarang tidak pulang-pulang!" omel Danu sehingga membuat Ibu Susan, Nia serta Erhan diam, sementara itu Vino melihat omnya yang sedang marah-marah sangat ketakutan.
"Dan, apa menurutmu wajar, kamu marah-marah di sini? Kami tidak tahu apa-apa tentang kamu dan istrimu! Pulanglah ke rumah kontrakan dan beri Nadira pelajaran setelah dia pulang!" usir Erhan yang kesal pada adik iparnya karena sudah marah-marah di depan dia dan putranya.
"Diamlah, Bang! Kalau Bang Erhan tidak mengetahui permasalahan kami, Abang diam saja!" sergah Danu seraya menatap tajam kakak iparnya itu. Terkadang Danu merasa heran dengan kakaknya yang memilih untuk menikahi Erhan. Padahal pria itu tidak bisa diandalkan dalam hal apapun. Dia juga tidak memiliki keterampilan yang bisa membuatnya menghasilkan uang. Bahkan selama bertahun-tahun Nia menikah dengan Erhan, pria itu hanya menumpang makan dan tidur di tempat ibunya. Tak jarang pulang gara-gara Erhan, dia harus merelakan uangnya pada sang ibu untuk membeli semua kebutuhan rumahnya.
Melihat Danu yang sedang menatapnya tajam, nyali Erhan menciut. Dia menyenggol bahu istrinya untuk mengajak adik iparnya berbicara dan menyuruh dia pulang ke rumah kontrakan. Erhan benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Danu yang sedang tidak bisa diajak berbicara dengannya.
"Ni, suruh adikmu pulang sana! Aku tidak tahan lagi dengannya!" bisik Erhan di telinga istrinya.
"Ish, susah, Mas. Kalau Danu sedang marah-marah seperti ini, dia paling susah untuk diajak berbicara. Kita diamkan saja dia sampai emosinya mereda, baru setelah itu kita minta dia untuk pulang ke rumahnya," sahut nia yang menolak untuk mengusir adiknya.
"T–tapi?"
"Shut!" Ibu Susan menyimpan jari telunjuknya di depan bibir dan menyuruh anak serta menantunya itu untuk diam. Mereka akan membiarkan Danu meluapkan emosinya dulu tanpa menyahuti apapun.
__ADS_1
"Ck." Erhan berdecak kesal. Ini semua gara-gara Nadira. Lagi pula kenapa juga dia harus pergi tanpa pamit pada suaminya sendiri? Apa wanita itu sudah tidak memikirkan kami lagi sehingga sikapnya mulai melunjak? tanya Erhan dalam hatinya.
Berbeda halnya dengan Ibu Susan yang diam-diam tersenyum melihat amukan putranya. Padahal kemarin sore dia berpikir kalau Nadira tidak akan pernah meninggalkan putranya dengan mudah karena wanita itu begitu mencintai Danu, tetapi saat pagi harinya dia mendengar kalau Nadira sudah tidak ada lagi di kontrakan. Bahkan wanita itu tidak menitipkan cucunya pada tetangga mereka.
Huh, aku pikir Nadira tidak akan mudah meninggalkan Danu karena wanita itu tidak bisa melakukan apapun tanpa putraku, tetapi ternyata dia benar-benar nekat pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku maupun suaminya. Tapi kalau memang Nadira benar-benar ingin berpisah dengan Danu, bagaimana keadaan ekonomi kami selanjutnya? Danu sibuk mengurus wanitanya yang sedang hamil, sementara Erhan tidak bisa kuandalkan, Nia juga tidak bekerja apa-apa, batin Ibu Susan yang khawatir kalau Nadira benar-benar akan menggugat cerai putranya.
Sepertinya aku harus membuat wanita itu takut padaku! Ya, kalau Danu tidak bisa mengancamnya, maka aku sendiri yang akan mengancamnya, sambung wanita paruh baya itu lagi.
"Bu, apa yang sedang Ibu pikirkan sampai-sampai tersenyum tipis seperti itu, di saat Danu sedang marah-marah seperti ini?" bisik Nia pada ibunya.
"Diamlah! Ibu punya rencana bagus untuk membuat Nadira tetap di sini sementara kita bisa bebas melakukan apapun padanya," jawab Ibu Susan yang semakin membuat Nia penasaran.
"Aku tidak akan mengatakannya padamu, tapi lihat saja nanti apa yang aku lakukan padanya," sahut Ibu Susan.
Nia mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal sang Ibu mulai bermain rahasia-rahasiaan dengannya. Padahal dia juga sangat ingin membuat adik iparnya itu jera dan tidak lagi bersikap angkuh serta sembarangan seperti ini. Bagi mereka, Nadira hanyalah wanita penghasil uang. Meskipun dia baru bekerja di pabrik selama satu bulan ini, tetapi sebelumnya dia juga selalu bekerja menjadi buruh cuci di tetangga mereka dan hasil buruh cuci itu akan diminta oleh sang ibu untuk keperluan Nia dan keluarganya dengan alasan dia mempunyai Vino yang sedang banyak-banyaknya jajan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah ruangan kosong, Nadira menatap tempat itu dengan senyum merekah. Dia sudah memutuskan akan pindah dari kontrakan sebelumnya dan memulai semuanya dari awal bersama Tiara. Nadira juga sudah memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena dia yakin kalau saat ini Danu dan keluarganya sedang menunggu kedatangannya.
Nadira sengaja memilih kontrakan yang dekat dengan pabrik dan di sana juga ada tempat penitipan anak, itu yang terpenting karena dia harus menitipkan Tiara. Nadira sudah menjual ponsel milik Danu dan menggunakan uang itu untuk modal kehidupannya selama sebulan di kontrakan baru. Nadira juga tidak membawa baju banyak dan hanya mengambil barang-barang penting seperti surat nikah, serta akte milik Tiara. Dia akan merelakan barang-barang besar yang dibelinya selama menikah bersama Danu.
Saat ini Nadira dan Tiara sedang membaringkan tubuhnya di sebuah kasur lantai yang berukuran pas untuk ditiduri oleh mereka berdua. Meskipun di kontrakan itu tidak ada barang apapun, tetapi Nadira merasa tenang karena sebentar lagi dia akan pisah dengan orang yang sudah membuatnya kecewa. Mungkin memang caranya ini salah, tapi Nadira juga butuh waktu untuk menenangkan hatinya sebelum dia kembali menghadapi Danu dan keluarganya.
"Tiara, maafkan Mama yang membawamu dengan cara seperti ini dari keluarga Bapakmu. Tapi mama harap suatu saat nanti kamu mengerti karena Mama juga melakukan ini untukmu," ucap Nadira pada putrinya yang sedang terlelap dalam pelukannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi novel pagi ini gengs! Jangan lupa mampir, ya!
Sebuah kisah tentang kehidupan rumah tangga
Pernikahan Tidak hanya cukup karena cinta tetapi butuh kedewasaan diri dan komitmen panjang untuk saling menghargai dan bertanggung jawab pada keluarga.
Bila salah satu atau semua unsur tadi tidak ada maka bukan pernikahan impian dan kebahagiaan yang kita dapatkan tetapi Neraka dunia.
__ADS_1