
Pertengkaran diantara Danu dan Raka terus berlangsung. Nadira yang merasa tidak bisa melerai kedua pria itu akhirnya memilih untuk keluar dari rumah itu. Dia akan ke rumah RT yang berada di seberang jalan. Namun, sebelum ke sana Nadira akan menitipkan Tiara di rumah Ibu Rumi dulu yang berada tak jauh di belakang rumah kontrakannya.
“Assalamu’alaikum …. Bu Rumi! Bu …,” panggil Nadira dari
halaman rumah wanita itu.
“Wa’alaikum salam. Ya Tuhan, Nad!” Ibu Rumi bergegas menghampiri Nadira saat mendengar suara tetangganya itu. “Kamu kenapa, Nad? Keningmu sampai berdarah seperti itu! Apa Danu yang melakukannya?" cecar Ibu Rumi saat melihat penampilan Nadira yang berantakan dengan luka di keningnya. Bahkan Ibu Rumi bisa melihat darah yang terdapat di sana sudah mengering, menempel dengan anak rambut.
“Maaf, Bu. Bisakah aku titip Tiara dulu? Aku mau ke rumah
Pak Rt dulu!” pinta Nadira seraya menyerahkan Tiara ke pangkuan Ibu Rumi.
“Ada apa, Nad? Apa yang terjadi?” tanya Ibu Rumi lagi dengan
khawatir.
“Mas Danu dan atasanku sedang berkelahi di rumah, Bu. Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Mereka harus segera dilerai.”
“Ya Tuhan … tapi lukamu juga perlu diobati, Nad! Biar Ibu
obati dulu, ya?”
“Jangan, Bu. Aku baik-baik saja. Sekarang aku harus—”
“Ibu akan meminta Reynan untuk ke rumah Pak Rt. Sekarang
kamu masuk dulu!” perintah Ibu Rumi seraya menarik tangan Nadira agar mengikutinya.
“Tapi, Bu—”
“Tidak apa-apa. Ibu akan panggilkan Reynan dulu.” Ibu Rumi
__ADS_1
beranjak dari sofa sembari membawa Tiara ditangannya. Dia juga pergi ke kamar putra sulungnya untuk ia mintai tolong.
Reaksi Reynan tidak berbeda jauh dengan Bu Rumi saat pertama
kali melihat penampilan Nadira.
“Lho, ini ada apa, Ma? Mbak Nadira kenapa?” tanya pemuda itu.
“Rey, tolong kamu pergi ke rumah Pak Rt, ya!” perintah Ibu Rumi tanpa menjawab pertanyaan Reynan.
“I—iya, Bu. Aku akan pergi sekarang,” sahut pemuda itu
meninggalkan Nadira dan mamanya.
Selepas kepergian Reynan, Ibu Rumi pun mengambil sebuah
kotak obat untuk mengobati luka kening Nadira.
“Tidak apa-apa, Nad. Ibu akan pelan-pelan,” tolak Ibu Rumi tanpa menggubris penolakan Nadira.
Sementara itu, di rumah kontrakan Danu, kini kedua pria yang
tadi beradu otot itu sudah dipisahkan oleh RT setempat bersama beberapa pemuda lainnya yang turut ikut. Danu masih menatap Raka dengan pandangan mematikan. Berbeda halnya dengan Raka yang tampak lebih santai. Bahkan terkesan tidak peduli
dengan tatapan Danu padanya.
Sial sekali hari ini! Niat pulang hanya untuk mengambil uang
Nadira, aku jadi harus berurusan dengan RT, batin Danu yang kesal. Pria itu juga khawatir Anita akan marah karena dia mungkin tidak akan bisa datang tepat waktu. Apalagi Danu juga janji akan membawakan makanan pesanan Anita tadinya.
“Mas Danu dan Mas ….” Pak Rt menunjuk Raka. Dia tidak
__ADS_1
mengenali pria yang sudah membuat keributan dengan salah satu tetangganya itu.
“Nama saya Raka, Pak. Saya datang kemari karena khawatir
pada Tiara. Tadi sore saya melihat Nadira pergi dengan terburu-buru. Jadi, saya memutuskan untuk mengikutinya,” terang Raka tanpa melihat bagaimana reaksi wajah Danu yang sudah merah padam menahan amarah.
“Jangan jadikan Tiara sebagai alasan! Aku tahu, kamu pasti
selingkuhan istriku, iya ‘kan?” tuduh Danu seraya menunjuk-nunjuk ke arah Raka. Danu tidak peduli di tempat itu ada siapa saja karena saat ini yang ada di pikirannya adalah, gara-gara Raka, dia telat kembali ke kosan Anita, serta gara-gara pria itu pula sekarang namanya tercoreng buruk.
Raka menarik sudut bibirnya saat mendengar tuduhan Danu. Dia
tidak menyangkal kalau kedatangannya ke sana karena khawatir pada Nadira dan Tiara, tetapi kalau untuk dikatakan dia sebagai selingkuhan Nadira, tentu saja itu tidak benar.
“Saya selingkuhan Nadira?” tanya Raka seraya menunjuk dirinya sendiri.
“Iya. Kamu pasti selingkuhan dia karena tidak mungkin akan
ada orang yang dengan tanpa alasan menjadi pahlawan untuk wanita murahan i—”
‘Brak’
Raka menggebrak meja yang ada di depannya hingga membuat
semua orang yang ada di sana terkejut. Tatapan pria itu begitu menyorot tajam, menandakan kalau dirinya tidak sedang main-main.
“Berhenti menyebut Nadira ‘Wanita murahan’! Dia sama sekali
tidak murahan! Justru kamu sebagai suami, yang malah menyia-nyiakan dia!” geram Raka dengan napas yang naik turun. Dia benar-benar kesal saat Danu membuka suara dan berbicara sembarangan wanita itu itu.
“Hah. maksud kamu apa?"
__ADS_1