Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 35


__ADS_3

Setelah selesai kerja, Nadira berniat untuk segera pulang ke kosannya. Namun, langkah wanita muda itu melambat saat tiba-tiba saja dia mendengar seseorang sedang membicarakannya dengan tatapan mata mereka langsung mengarah pada Nadira. Awalnya Nadira berniat untuk tidak mempedulikan mereka, tapi justru karena dia yang mendiamkannya, wanita itu malah semakin dengan berani membicarakan dia keras-keras hingga membuat Nadira naik pitam.


"Aku heran, kenapa wanita seperti dia yang justru didekati oleh Pak Raka. Padahal, dia cuma wanita biasa yang bahkan statusnya pun belum jelas," ucap wanita itu secara terang-terangan.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti alasannya apa. Mungkin dia pakai sesuatu yang menurutnya bisa menarik perhatian seseorang," sahut lawan bicaranya sambil mendelik pada Nadira.


"Iya, bisa jadi memang seperti itu. Kalau bisa dapatkan Pak Raka 'kan bagus. Dia yang cuma janda anak satu bisa ke angkat derajatnya," kata wanita itu lagi hingga membuat Nadira kesal dan memilih untuk menghampiri mereka. Setidaknya dia harus tahu kenapa para wanita itu berani sampai membicarakannya seperti itu.


"Seli, Dina, aku tidak tahu apa masalah kalian denganku, tapi apa menurut kalian bagus menyindir seseorang didepannya langsung?" tanya Nadira dengan kesal.


"Kenapa? Apa kamu merasa tersinggung?" tantang wanita yang bernama Seli. Padahal, dia merupakan seorang gadis muda yang masih cantik, tapi kenapa dari gaya bicaranya dia serahkan takut kalau pesonanya kalah saing dengan Nadira?


"Aku tidak merasa tersinggung dengan ucapanmu, tapi ucapan Dina lah yang membuatku marah karena mengira aku memakai sesuatu untuk menarik perhatian orang lain. Padahal aku sendiri tidak menggunakan apa-apa. Kalaupun memang dia kesal karena Pak Raka mendekatiku, seharusnya kalian cari tahu penyebabnya apa dan tanyanya hal itu pada diri kalian. Apa kalian sudah lebih baik dariku sampai-sampai Pak Raka justru malah mendekatiku?" geram Nadira dengan suara tertahan. Ingin rasanya dia meneriaki dua gadis di depannya itu, tapi Nadira terlalu malu untuk menjadi pusat perhatian orang-orang. Belum lagi dia yang saat ini sedang ditimpa gosip, jika Nadira sampai tidak bisa menjaga sikapnya, mungkin orang-orang akan semakin membicarakannya habis-habisan.


"Lho, kenapa Mbak Nadira marah padaku? Itu 'kan hanya tebakanku saja dan kalau tidak merasa melakukannya, kenapa Mbak tersinggung?" tanya Dina.


"Ucapan kamu itu bisa membuat orang salah paham, Dina! Apa kamu tidak berpikir bagaimana jika orang-orang mempercayai ucapanmu dan semakin menggunjingku?"


"Ya itu resiko kamu, Mbak. Lagi pula siapa suruh jadi wanita kegatallan? Mbak masih punya suami 'kan, kenapa harus mendekati Pak Raka? Atau ... jangan-jangan suami Mbak selingkuh karena Mbak sudah tidak menarik lagi di matanya? Kasihan sekali ...," cibir Dina dengan tatapan yang menatap jijik pada Nadira.

__ADS_1


Nadira mengepalkan tangannya dengan erat. Andai di sekitaran gedungnya sudah sepi, ingin sekali dia menjambak rambut Dina sekeras mungkin. Akan tetapi, hal itu tidak Nadira lakukan.


"Dina, kamu tidak mengetahui permasalahan rumah tanggaku. Jadi, Jangan sembarangan mengira-ngira–"


"Aku sama sekali tidak mengira-ngira, Mbak Nadira. Orang-orang juga mengetahui tentang perselingkuhan suami Mbak Nadira dengan salah satu anak pabrik ini yang berada di gedung lain. Dan aku juga tahu nama wanita itu," kata Dian lagi dengan menggebu-gebu. Bahkan, gadis itu berani menyela ucapan Nadira.


Nadira bungkam. Ini bukan saatnya untuk dia menghadapi Dina yang seperti ini. Emosinya akan semakin menjadi jika di Nadira terus-menerus berhadapan dengan Dina. Jadi, wanita yang merupakan ibu dari Tiara itu memilih untuk beranjak pergi meninggalkan dua gadis yang tadi sempat membicarakannya. Biarlah, dia tidak peduli lagi orang-orang mau berbicara tentangnya. Nadira akan belajar untuk tidak mempedulikan ucapan orang lain.


Seli dan Dina tersenyum puas saat melihat Nadira yang beranjak pergi dari hadapan mereka. Keduanya mengira kalau saat ini Nadira sudah terlalu malu untuk berhadapan langsung dengannya. Padahal, Nadira tidak malu untuk membela dirinya yang tidak salah, hanya saja dia terlalu lelah menghadapi omongan orang-orang yang selalu merasa dirinya paling benar.


Setelah tadi sempat menghadapi Seli dan Dina, Nadira pun pergi meninggalkan keduanya dengan langkah yang begitu cepat dan terburu-buru, perasaannya mendadak sedih serta hampa, seakan-akan dia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


Wanita itu lantas mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di tempat penitipan anak. Dia tidak peduli pada orang-orang yang tidak sengaja ditabraknya, pikirannya saat ini hanya tertuju pada Tiara.


Ya Tuhan ... semoga apa yang aku takutkan ini tidak terjadi. Jangan sampai Ibu dan Mas Danu mengambil Tiara dariku, batin Nadira.


Beberapa orang sempat menegur Nadira saat wanita itu berjalan dengan terburu-buru, tapi dia tetap tidak menggubrisnya. Biasanya perjalanan dari gedung tempat Nadira bekerja sampai ke kosan itu memakan waktu sekitar sepuluh menit lamanya, tetapi saat ini Nadira hanya menggunakan waktunya sekitar tujuh menit saja.


Dengan napas yang masih terengah-engah, Nadira segera mencari Ibu pemilik tempat penitipan anak. Namun, yang terjadi di depannya justru membuat jantung Nadira semakin berdengup kencang, ibu itu sedang menangis di kasur yang biasa Tiara gunakan, sementara bayi itu sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


"B–bu, Ti–Tiara mana?" tanya Nadira dengan terbata-bata.


Mbak Mina selaku pengasuh Tiara langsung menghambur ke hadapan Nadira. Dia membungkuk sambil menangis dan meminta maaf.


"Bu Dira, saya ... saya minta maaf. Saya kami sudah berusaha untuk menjaga mereka membawa Tiara seperti yang Ibu katakan sebelumnya. Tapi, tapi mereka membawa Tiara dengan paksa sampai-sampai bayi itu menangis kesakitan karena saya mencoba untuk menahannya."


'Degh'


Jantung Nadira seakan-akan berhenti berdetak saat mendengar penuturan Mbak Mina.


"Ti–tiara ... anakku ...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo Kakak-kakak 👋👋 Sambil nunggu ini up, baca juga novel karya temanku, ya!


Menapaki Jejak di Madyapada yang penuh cerita yang tak terduga, sesosok Rehan dengan beribu harap dalam benak dan Sejuta mimpi dalam sepi, meniti asa pada cahaya senja, menitip doa pada Sang Penguasa Semesta.


Berharap bisa bersanding dengan Rena perempuan anggun berparas rupawan dan berdarah Ningrat yang baik hati, seutas senyum ramah selalu menghiasi wajahnya, namun dalam riangnya tersimpang selaksa pilu yang membiru.

__ADS_1



__ADS_2