Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
bab 50


__ADS_3

Keesokan harinya, Nadira beraktifitas seperti biasa. Dia akan bangun sebelum subuh dan menyiapkan semua keperluan Tiara lebih dulu, sebelum keperluannya sendiri. Sambil menunggu air


untuk memandikan Tiara hangat, Nadira membereskan ruangan kosan yang kemarin langsung ditinggalkannya begitu saja. Memang tidak terlalu berantakan, tapi tetap saja itu terasa mengganggu ruang geraknya. Rencananya hari ini Nadira akan


mengundurkan diri dari pabrik. Dia tidak mungkin terus-menerus tinggal di kota itu, sementara Danu dan keluarganya terus mengincar dia dan Tiara. Nadira hanya takut keluarga Danu akan melukai Tiara saja, jadi dia memilih pergi dari kota itu.


“Semoga saja uang ini cukup untukku dan Tiara sebelum aku menemukan pekerjaan di sana,” gumam Nadira sambil menatap buku tabungannya yang tidak seberapa itu. Namun, Nadira sudah


memperkirakan semuanya, jadi mungkin uang itu akan cukup untuk mengontrak selama beberapa bulan dan masih ada sisa untuk modal berjualan nasi kuning di sana.


“Ya Tuhan … semoga saja jalan yang aku pilih ini adalah jalan yang benar. Seandainya saja Ibu dan Kakak mempedulikanku, mungkin nasibku dan Tiara tidak akan seberat ini,” sambung


Nadira lagi saat dia mengingat anggota keluarganya. Sungguh, Nadira ingin pulang ke rumahnya yang dulu dan berkumpul kembali dengan keluarganya, tapi dia tidak siap jika nantinya malah diusir lagi oleh sang kakak seperti sebelumnya.


Karena terlalu lama melamun, hampir saja wanita itu lupa kalau dirinya sedang memanaskan air untuk mandi Tiara. Setelah sadar dari lamunannya, Nadira bergegas mematikan kompor itu dan menyimpan air mendidihnya di kamar mandi. Selesai menyiapkan air hangat untuk mandi Tiara, Nadira pun membangunkan putri kecilnya. Dia harus bergerak dengan cepat agar tidak semakin membuang-buang waktunya.


“Sayang, maafkan Mama yang harus memandikanmu pagi-pagi begini,” ucap Nadira pada putinya.


Tiara seakan mengerti dengan ucapan sang mama, bayi itu sama sekali tidak menangis ataupun rewel. Dia hanya menatap mamanya dengan lidah kecil yang dimainkannya. Melihat Tiara yang anteng seperti itu, Nadira pun mempercepat acara mandi bayi itu.


“Tiara anak Mama yang pintar, ya?” gumam Nadira yang saat dia mendapatkan sambutan sebuah senyuman hangat dari bayi itu.


Seandainya saja saat ini dirinya tidak sedang terburu-buru, tentu saja Nadira tidak akan tega memandikan putrinya yang masih bayi itu di pagi hari seperti ini. Namun, karena niatnya untuk mengundurkan diri dari pabrik, Nadira tidak bisa menunda-nunda lagi waktunya.

__ADS_1


Selesai memandikan Tiara, Nadira pun menitipkan bayi itu ke tempat penitipan biasa. Akan tetapi, hari ini dia akan menitipkannya sebentar saja. Nadira akan membawa Tiara ke pabrik karena khawatir Danu dan keluarganya akan kembali mengambil bayi itu dari dekapannya.


"Mbak, aku titip Tiara sebentar. Aku hanya akan bersiap dan nanti langsung mengambilnya lagi!" ucap Nadira pada salah satu pengasuh harian yang ada di sana.


"Memangnya Mbak Nadira tidak akan bekerja?" tanya pengasuh itu karena mendengar Nadira hanya akan menitipkan Tiara padanya sementara saja.


"Tidak. Aku akan resign hari ini. Aku juga akan membawa Tiara ke pabrik bersamaku karena khawatir keluarga suamiku akan mengambilnya lagi seperti kemarin," jawab Nadira disertai dengan senyuman kecil.


Pengasuh itu mengganggu-ganggu kan kepalanya. Dia mengerti bagaimana perasaan Nadira saat ini. Tak ada satupun ibu yang rela ditinggalkan oleh putrinya, meskipun itu bersama keluarga suaminya sendiri. Nadira benar-benar tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.


"Aku mengerti perasaan Mbak Nadira. Aku akan menjaga Tiara dengan baik pagi ini," sahut gadis itu.


"Terima kasih banyak, Mbak Dina."


Setelah menitipkan Tiara ke tempat pengasuh, kini giliran Nadira yang mempersiapkan dirinya. Dia terlebih dulu mengemas semua barang-barangnya termasuk berkas-berkas, serta pakaiannya ke dalam tas yang berukuran cukup besar. Selesai berkemas, barulah wanita itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum nanti bersiap pergi ke pabrik. Nadira tahu kalau peraturan di pabrik memang tidak memperbolehkan dia membawa bayi masuk ke area sana, tetapi Nadira juga tidak bisa meninggalkan Tiara di tangan orang lain terlalu lama.


"Mbak Nadira serius mau keluar dari pabrik?" tanya Dina saat melihat ibu dari salah satu anak asuhnya datang menjemput putrinya.


"Iya, Mbak Dina. Aku akan resign hari ini. Mudah-mudahan di lain waktu kita bisa ketemu lagi. Terima kasih banyak karena selama ini sudah membantuku untuk menjaga Tiara," jawab Nadira sebelum pergi dari sana.


"Iya, sama-sama, Mbak."


Nadira meninggalkan tempat rumah asuhan anaknya. Kini Tiara pun sudah berada dalam pangkuannya dan akan dia bawa ke pabrik. Nadira hanya berharap semoga saja para sahabat petugas keamanan di sana tidak melarangnya untuk membawa bayi itu masuk. Dia hanya akan pergi ke kantor HRD-nya saja tanpa masuk ke gedung produksi.

__ADS_1


Sesampainya di depan pabrik, ternyata dugaan Nadira benar, dia diberhentikan oleh salah satu petugas keamanan yang sedang berjaga di sana.


"Mbak, kenapa mau kerja bawa anak?" tanya petugas itu pada Nadira karena melihat salah satu karyawan pabriknya masuk kerja sambil membawa bayi. Nadira pun dikirim untuk masuk ke dalam pos keamanan di sana.


"Maaf kalau saya menyalahi aturan, Pak. Saya hari ini berencana untuk resign dari pabrik ini," jawab Nadira dengan tenang.


"Apa? Resign? Apa Mbak yakin?" petugas itu seakan tidak percaya atas jawaban yang wanita itu berikan. Bahkan, dia juga terlihat meragukan niatan Nadira yang hendak mengundurkan diri dari sana.


"Iya, Pak. Saya tidak bisa memberitahukan alasan kenapa saya resign mendadak, tapi pada kenyataannya memang saat ini saya sedang dalam keadaan yang sangat mendesak."


"Alasannya apa? Mbak tahu 'kan, zaman sekarang sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan?"


"Saya tahu, Pak. Tetapi saya juga tahu. Tapi, saya melakukan hal ini karena terpaksa. Ada sebuah alasan besar yang tidak bisa saya jelaskan pada Bapak," jawab Nadira saat petugas keamanan itu meminta alasannya resign mendadak.


Petugas itu mengangguk-ganggukan kepalanya samar. Tidak mungkin untuknya yang mengetahui lebih rinci alasan Nadira resign mendadak, sementara wanita itu sendiri tidak ingin menceritakannya.


"Baiklah. Kalau memang seperti itu, silakan tunggu di sini dan saya yang akan memanggil petugas HRD kemari!" perintah satpam itu sebelum berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Nadira bersama Tiara yang masih berada di pos.


Sepeninggalan petugas keamanan itu, Nadira pun mengusap Tiara. Dia pun merasa sedih karena tidak bisa berpamitan dengan benar pada para teman-temannya yang ada di gedung produksi, tapi jika tidak seperti ini, Nadira tidak yakin di kemudian hari dia akan tetap bersama dengan Tiara.


Tak berselang lama, petugas itu datang kembali dengan salah satu HRD yang bertugas di gedung tempat Nadira bekerja. Dia meminta beberapa berkas penting milik perusahaan yang di saat ini masih dipegang oleh Nadira. Setelah semua berkas-berkas penting perusahaan pindah ke tangannya, petugas HRD itu pun memberikan surat pemutusan hubungan kerja untuk Nadira. Kini wanita itu sudah resmi keluar dari pabrik tempatnya bekerja, yang beberapa bulan kemarin membantu dia untuk memenuhi semua kebutuhannya.


"Aku hanya berharap Emma dan juga teman-teman yang lainnya tidak kesal padaku karena sudah keluar dari pekerjaan ini secara tiba-tiba," batin Nadira sambil tersenyum tipis menatap bangunan pabrik itu.

__ADS_1


Setelah urusannya di pabrik usai, Nadira pun kembali mengambil pakaian yang sudah dia kembar serta mengembalikan kunci kosan pada sang pemilik. Dia akan langsung pergi dari sana ke luar kota tanpa memberitahukan siapapun, termasuk Raka serta kedua orang tuanya.


"Maafkan aku yang pergi secara tiba-tiba seperti ini," gumam wanita itu


__ADS_2