Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 49


__ADS_3

Setelah kepergian Nadira serta Raka dari rumah Pak RT, Danu serta Ibu Susan pun turut pulang ke rumah mereka. Danu tidak pulang ke rumah kontrakannya melainkan pulang ke rumah sang ibu. Rupanya sesampai di sana dia sudah ditunggu oleh kakak serta kakak iparnya, siapa lagi kalau bukan Nia dan Erhan.


"Dan, mana Nadira? Jangan bilang kalau kamu gagal membawa dia kembali lagi ke keluarga ini?" tanya Nia begitu dia melihat adiknya membuka pintu dan masuk bersama Ibu Susan.


Danu tidak menggubris pertanyaan sang kakak, dia langsung melipir masuk ke kamarnya dengan wajah yang dingin. Sementara itu, Nia yang tidak mendapatkan jawaban dari adiknya, langsung menghampiri sang ibu untuk kembali mempertanyakan hal yang sama.


"Bu, Nadira mana? Kenapa dia tidak ikut bersama kalian?"


Ibu Susan menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Nia. "Hah ... Adik iparmu tetap memilih bercerai dengan Danu. Dia mengatakan kalau tekadnya itu sudah bulat."


"Hah?" Niat terkejut. "Lalu, bagaimana bisa kalian menyerah begitu saja? Kenapa kalian tidak menggusurnya?" tanyanya lagi dengan kesal. Ya, Nia merasa kesal karena adik serta ibunya tidak berhasil membawa Nadira kembali ke keluarga mereka. Dia kesal karena niatnya untuk membalas perbuatan Nadira tadi di rumah Pak RT, harus gagal. Dia tidak bisa membiarkan Nadira merasa menang atas perdebatan yang terjadi di antara mereka tadi.


"Menggusur? Apa kamu kira Pak RT dan juga orang-orang yang ada di sana akan membiarkan kami melakukan hal itu terhadap Nadira? Jangan bodoh, Nia!" sahut Ibu Susan tak kalah kesannya dari sang anak.


"Ma–maksudku bukan seperti itu, Bu. Tapi—"


"Sudahlah. Ibu capek. Ibu mau istirahat. Jangan ganggu Ibu!" potong Ibu Susan sambil melangkah masuk menuju kamarnya yang ada di ujung.


"Bu, bagaimana dengan Vano? Hari ini aku ini akan pulang ke rumah orang tua Mas Erhan dulu! Aku titip Vano," ucap Nia tanpa tahu malu.


"Vano itu putra kalian. Jadi, urus saja sendiri!" sahut Ibu Susan dari dalam kamarnya. Bahkan wanita paruh baya itu mengunci pintu kamarnya agar tidak diganggu siapapun.


Mendengar jawaban sang ibu, Nia mendengus kesal. Dia tidak mau acaranya bertandang ke rumah sang mertua harus membawa Vano.


Apa kata adik iparku nanti kalau aku membawa anakku datang ke reunian? batin Nia. Ya, Nia dan adiknya Erhan merupakan satu angkatan. Mereka pernah bersekolah di SMA yang sama. Hanya saja Nia tidak melanjutkan pendidikannya ke universitas, sedangkan adiknya Erhan melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.


"Mas ...." Nia hendak merajuk pada suaminya agar Erhan mau menjaga Vano saat dirinya pergi nanti.


"Tidak. Aku sudah ada janji dengan Beni!" sahut Erhan dengan tegas sambil berlalu masuk kamar, meninggalkan istrinya sendirian di ruangan depan.

__ADS_1


Kini yang ada di sana hanyalah Nia. Wanita itu berpikir keras bagaimana caranya agar acara yang sudah dia rencanakan dari kemarin tetap berjalan dengan mulus. Tadinya Nia akan meminta Nadira untuk menjaga Vano seperti dulu, sebelum Nadira memiliki anak, tapi sekarang tidak ada adik iparnya itu hingga dia sedikit kesulitan.


"Apa aku minta tolong Danu saja, ya? Dia bisa membawa Vano sambil menarik penumpang besok. Jadi, tidak akan mengganggu acaraku nantinya, batin Nia setelah beberapa saat berpikir.


Wanita itu pun melangkah mendekati kamar yang berada di tengah antara kakaknya dan kamar sang ibu. Kamar tengah itu adalah milik adiknya, Danu.


'Tok ... tok ... tok ....'


Nia mulai mengetuk pintu kamar Danu.


"Dan, ini Mbak. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Nia dari luar kamar sang adik.


"Ada apa, Mbak?" sahut Danu sambil membukakan pintu dengan wajah yang kusut. Saat ini dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun sebenarnya, tetapi jika tidak membukakan pintu untuk Nia, tentunya wanita itu tidak akan diam dan akan terus memanggil namanya hingga dia menghampirinya.


"Kemari! Ikut aku sebentar, kita bicara di depan!" Nia menarik tangan Danu untuk mengikutinya ke ruangan depan rumah.


"Ada apa, Mbak?" tanya Danu lagi dengan kesal karena waktu istirahatnya diganggu oleh sang kakak.


"Duduk dulu!" perintah Nia tanpa menggubris pertanyaan Danu sedari tadi.


Setelah duduk seperti perintah Nia, wanita itu turut duduk di sampingnya.


"Dan, kamu harus membantuku!" ucap Nia secara tiba-tiba.


"Membantu apa, Mbak?" tanya Danu dengan wajah malasnya.


"Bantu aku untuk menjaga Vino. Besok aku ada keperluan. Jadi, tolong jaga dia, ya!" pinta wanita itu dengan wajah melasnya menatap sang adik berharap dan mau mengikuti permintaannya.


"Memangnya Mbak ada keperluan apa sampai-sampai tidak bisa menjaga Vino sendiri?"

__ADS_1


"Aku ada urusan di luar rumah pokoknya. Kamu harus membantuku!"


Danu mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Nia. "Sejak kapan Mbak punya urusan di luar rumah? Bukankah biasanya juga Mbak hanya kumpul-kumpul bersama teman Mbak saja? Kalau memang untuk melakukan hal itu, Mbak bisa bawa Vino. Jangan menitipkannya padaku! Aku itu masih pusing dengan masalahku sendiri. Apa Mbak tidak mengerti?" kesal Danu yang sudah bisa menebak permintaan kakaknya.


Enak saja mau terus-menerus merepotkanku, cibir Danu dalam hatinya .


"Eh, tapi ini lain, Dan! Aku–"


"Aku tidak mau tahu! Jangan menggangguku!" potong Danu sambil berdiri dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Nia. Dia merasa frustasi sendiri karena kakaknya itu seperti tidak mempedulikan bagaimana kondisinya saat ini.


***


Sementara itu, Nadira, Tiara serta Raka baru saja sampai di kosan wanita itu. Hari sudah sangat larut sekarang. Bahkan, angin pun mulai terasa sangat dingin menusuk kulit.


"Pak Raka, saya berterima kasih karena Bapak sudah menolong saya tadi. Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika Bapak tidak masuk ke rumah dan mencegah Mas Danu untuk melukai saya," ucap Nadira sebelum dia masuk ke kamar kosannya.


"Tidak usah dipikirkan. Aku juga tidak akan tinggal diam jika kamu sedang kesulitan. Sekarang kamu dan Tiara segera masuklah. Ini sudah sangat malam, sudah waktunya kalian beristirahat," sahut Raka sambil tersenyum kecil pada wanita di hadapannya yang masih menggendong Tiara.


"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak." Nadira sedikit menundukkan kepalanya.


Raka hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Pria itu mulai kembali mengenakan helmnya setelah melihat Nadira yang hendak membukakan pintu kamar kosnya.


"Masuklah dulu, Aku akan pergi setelah memastikan kamu dan Tiara benar-benar masuk ke dalam," ucap Raka saat melihat Nadira yang menoleh padanya.


"Baiklah," gumam Nadira seraya melangkah masuk dengan membawa tas yang tadi di bekalnya dari rumah kontrakan bersama Danu.


Setelah pintu kamar kosan Nadira terdengar dikunci dari dalam, barulah Raka melajukan motornya menuju rumah pria itu sendiri.


"Semoga setelah ini urusanku dan Mas Danu cepat terselesaikan," gumam Nadira yang sudah menidurkan Tiara di kasur lantainya. Dia juga ikut beristirahat karena besok masih harus kembali kerja.

__ADS_1


__ADS_2