
Hari mulai siang saat Nadira pulang ke rumah kontrakannya. Di sana dia tidak mendapati Tiara dan Ibu Nurul yang menunggunya.
Sepertinya Tiara di bawa oleh Ibu Nurul pergi ke rumahnya, gumam Nadira sambil meletakkan barang belanjaannya.
Aku pulang terlalu siang, jadi tidak sempat masak. Sepertinya hari ini libur jualan lagi. Nadira kembali bergumam.
Wanita muda itu segera menyimpan barang belanjaan miliknya dan kembali ke luar rumah untuk memberikan barang titipan milik Ibu Nurul sekaligus menjemput putrinya pulang.
Setelah menempuh perjalanan berapa menit, akhirnya Nadira pun sampai di depan rumah Ibu Nurul. Rupanya di sana ada Andri yang sedang menggendong putrinya. Nadira sedikit canggung saat melihat putra pertama Ibu Nurul itu. Sebenarnya dia yang enggan untuk bertemu dengannya, apalagi setelah mendengar pernyataan Ibu Nurul tempo hari lalu. Namun, Nadira tetap berusaha bersikap biasa karena tidak mungkin untuknya mendadak pergi dari sana.
"Eh, Nad ... kamu sudah datang?" sapa Andri saat melihat Nadira yang sudah berdiri di depan pintu pagar rumahnya yang terbuka. Dia segera membaringkan Tiara di atas lantai yang sudah dilapisi kasur bayi.
"I–iya, Ndri. Maaf karena sudah membuat kamu repot untuk menjaga Tiara," sahut Nadira sambil melangkah mendekati putrinya.
"Tidak apa-apa. Oh ya, apa itu barang titipan milik Ibuku?" tanya Andri lagi saat melihat beberapa kantong kresek yang dibawa Nadira.
"Iya. Ini milik Ibu Nurul."
"Biar aku saja yang memberikan itu pada Ibu." Andri mengambil alih kantong kresek yang Nadira bawa dan segera masuk ke rumah untuk memberikannya pada sang ibu.
Sementara itu, Nadira segera menggendong Tiara. Dia merasa bersalah karena sudah membiarkan putrinya itu menunggu lama.
__ADS_1
"Maafkan Mama karena sudah membuatmu menunggu lama, Nak," ucap Nadira pada putrinya.
"Kamu sudah mandi, ya? Apa Oma Nurul yang sudah memandikanmu?" tanya Nadira lagi saat dia mencium aroma minyak telon dari tubuh putrinya. Sungguh, untuk sesaat Nadira merasa terharu karena apa yang dilakukan Ibu Nurul pada putrinya, jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Ibu Susan dulu.
Ternyata benar kata orang, meskipun putriku tidak mendapatkan kasih sayang dari Nenek kandungnya, dia masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang Nenek itu dari orang lain, batin wanita muda itu.
Saat Nadira sedang memangku Tiara, Ibu Nurul keluar dari rumahnya sendirian. Tampaknya wanita paruh baya itu sedang mengerjakan pekerjaan rumah karena terlihat dari baju lengan panjangnya yang tampak digulung.
"Rupanya kamu sudah datang, Nadira," sapa Ibu Nurul sambil menghampiri ibu muda itu.
"Iya, Bu. Maaf karena aku sudah membuat Ibu menunggu lama. Tadi ada sedikit kejadian yang tidak mengenakkan, tapi Ibu tidak perlu khawatir karena semuanya baik-baik saja," ucap Nadira yang merasa bersalah.
"Benarkah? Memangnya ada kejadian apa?" Ibu Nurul duduk di samping kasur Tiara. Dia lebih memilih untuk menemani Nadira lebih dulu daripada membereskan pekerjaan rumahnya.
"Sungguh? Tapi kamu tidak sampai terluka 'kan?" tanya Ibu Nurul khawatir.
"Tidak, Bu. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau kamu tidak ikut terluka."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Setelah beberapa saat berbicara, Nadira pun memilih pamit dari rumah Ibu Nurul karena dia juga tidak ingin berlama-lama di sana. Bukan tidak nyaman Nadira ada di sana, tapi karena Nadira tahu kalau Andri diam-diam masih memperhatikannya dari dalam rumah. Ya, Nadira menyadari kalau pemuda itu memperhatikannya karena instingnya merasakan seseorang yang sedang mengawasinya.
"Bu, sepertinya aku harus segera pulang," ucap Nadira seraya membenarkan gendongan putrinya.
"Lho, kenapa buru-buru sekali, Nad? Sebaiknya kamu ikut sarapan di sini!" ajak Ibu Nurul.
Nadira tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Terima kasih atas ajakannya, Bu. Tapi, itu tidak perlu. Kebetulan aku juga sudah membeli makanan untuk sarapan dari pasar," tolak Nadira dengan hati-hati karena tidak ingin membuat Ibu Nurul tersinggung.
"Oh, begitu .... Baiklah, Ibu tidak akan memaksamu. Tapi, lain kali kamu jangan menolak ajakan Ibu, ya!" pesan Ibu Nurul sebelum Nadira beranjak.
"InsyaAllah, Bu. Mungkin lain kali." Nadira pun pergi dari sana setelah berpamitan pada Ibu Nurul.
Setelah kepergian Nadira, Ibu Nurul masuk ke rumahnya dan mendapati putranya yang sedang duduk di kursi dengan tatapan mata mengarah ke luar jendela. Ibu Nurul mengikuti arahan mata Andri dan dia bisa langsung mengetahui apa yang sedang dilihat oleh putranya itu.
"Ndri, jangan berpikir macam-macam! Ingat pesan ayahmu!" seru Ibu Nurul sembari menepuk bahu putranya.
Andri sempat terkesiap karena terkejut mendapatkan tepukan dari sang ibu. Bahkan, sepertinya pemuda itu tidak mendengar penuturan ibunya tadi.
"Ya? Apa Ibu mengatakan sesuatu?" tanyanya.
Ibu Nurul menggelengkan kepalanya pelan. "Lupakan. Ayo kita sarapan dulu!" ajaknya.
__ADS_1
Andri mengangguk dan mengikuti langkah sangat ibu, sambil sesekali menoleh ke belakang, tepat ke pintu pagar yang baru saja dilewati oleh Nadira.
Salah, ini salah! Apa yang aku rasakan ini salah. Tapi, kenapa aku tidak bisa menghentikannya?