
Sudah satu minggu ini kehidupan Nadira terasa damai. Seperti yang direncanakan wanita itu diawal pelariannya, dia menyewa rumah kecil yang nyaman untuk ditinggali berdua dengan Tiara, Nadira juga menjual nasi kuning di pagi hari, lanjut membuat makanan ringan untuk di titip di warung sekitar yang ada di kampung itu. Meskipun peghasilan jualan itu tidak sebesar saat bekerja di pabrik, tapi Nadira tetap mensyukurinya karena hari-harinya kini terasa lebih damai.
Seperti pagi ini, tepat pukul lima pagi, Nadira baru saja selesai menanak nasi kuning yang akan dia jual. Tak hanya nasi kuning saja, ada bebrbagai macam gorengan yang turut dijualnya di sana. Cukup merepotkan memang, apalagi Nadira juga harus terus mengawasi Tiara yang kini sudah mulai belajar tengkurap. Hal itu membuatnya bahagia sekaligus khawatir di saat bersamaan.
“Pagi, Nad!” sapa Andri yang saat itu baru hendak pergi ke tempatnya kerja. Nadira tidak tahu pria itu kerja di mana karena dia memang tidak berniat untuk mengetahui hal itu. Bahkan, Nadira juga terkesan menjaga jarak dengan anak Pak Gahar itu.
“Ada yang mau kamu beli?” tanya Nadira to the point seperti kemarin-kemarin. Dia enggan beramah tamah dengan Andri
karena selain statyusnya yang masih digantung, serta masih merupakan penduduk baru di sana, Nadira juga mengetahui pemuda itu mempunyai tunangan yang tidak akan segan-segan melabrak siapapun yang tampak menggoda Andri. Jadi, Nadira
memilih untuk bersikap demikian supaya tak ada orang yang menyampaikan macam-macam tentangnya pada tunangan Andri itu.
“Ish, kamu kenapa selalu bersikap seperti itu padaku, Nad? Apa aku punya salah padamu? Atau ….”
“Cepatlah selesaikan urusanmu di sini, Ndri! Apa kamu tidak melihat seseorang yang sedang mengintaimu itu?” tunjuk Nadira dengan dagunya ke arah seseorang yang sedang bersembunyi di balik pihon pisang.
Andri melihat ke arah Nadira menunjuk, di sana memang ada seseorang yang menggunakan pakaian yang begitu dikenalnya.
“Astaga Nera …,” gumam Andri yang kesal dengan tunangannya itu. Pemuda itu berlalu dari depan dagangan nasi kuning Nadira untuk menghampiri tunangannya, Nera.
Sementara itu, Nadira menggelengkan kepalanya ketika melihat sepasang muda mudi itu beradu argument. Dia yang tidak ingin mengetahui dan terbawa-bawa masalah anak Pak RT serta tunangannya, memilih untuk kembali fokus dengan Tiara yang kini sedang belajar tengkurap. Ya, itulah aktifitas Nadira di pagi hari, menanti pembeli dagangannya sambil menjaga putriya.
“Mbak Nadira, saya mau nasi kuning. Tolong bungkusin tiga bungkus, ya!” seru Ibu Wanda yang merupakan istri dari RW
setempat.
“Oh, iya, Bu. Saya siapkan dulu,” sahut Nadira seraya membenarkan kembali putrinya untuk terlentang, sebelum menyiapkan pesanan milik Ibu Wanda.
__ADS_1
“Wah, Tiara sekarang sudah belajar tengkurap, ya?” Bu Wanda menghampiri Tiara dan memangkunya.
“Iya, Bu. Baru beberapa hari ini dia belajar tengkurap seperti itu,” sahut Nadira dengan tangan yang sibuk
menyiapkan pesanan Ibu Wanda.
“Oh. Mudah-mudahan makin pintar, ya, Nad.” Ibu Wanda kembali menidurkan Tiara saat melihat Nadira yang sudah selesai
membungkus pesanannya.
“Amiin. Mudah-mudahan saja, Bu,” jawab ibu muda itu.
Setelah itu, Ibu Wanda pun memberikan uang pada Nadira dan berterimakasih, sebelum pergi meninggalkan ibu dan anak itu. Nadira cukup beruntung karena para warga di sana menerimanya dengan tangan terbuka tanpa Nadira harus menjelaskan jati dirinya. Meskipun begitu, Nadira juga selalu berusaha agar namanya di sana tidak buruk seperti saat tinggal bersama Danu.
Akh, kenapa aku tiba-tiba mengingatnya? batin Nadira saat dia sedang melamun, tiba-tiba saja kenangan bersama suaminya itu saling berkelebatan. Ya, memang tidak mudah melupakan seseorang yang pernah hadir di hidupnya. Apalagi Danu pernah menjadi bagian dari hari-harinya selama lima tahun terakhir, sebelum pria itu sendiri yang menghancurkan mahligai rumah tangga mereka. Jangan tanyakan apakah Nadira masih
menyayanginya? Karena semenjak Nadira dituntut untuk mandiri hingga wanita itu beralih fungsi menjadi tulang punggung, perasaan Nadira sudah perlahan mati,
Nadira menoleh pada Tiara, bayi yang kini sedang sibuk memainkan jari-jari mungilnya itu menjadi alasan Nadira
sampai di titik ini. Jika saja saat itu Danu dan Ibu Susan tidak mengambil Tiara secara paksa dan membuat Nadira pergi, mungkin sampai saat ini dia masih tinggal di Bandung, tak jauh dari keluarganya. Namun, karena ancaman Danu dan Ibu Susan, Nadira harus menguatkan dirinya di tempat lain seorang diri.
“Nak, Mama harap kamu tidak kecewa pada Mama karena sudah membuatmu berjauhan dengan Nenek dan Ayahmu. Tapi … Mama
harap kamu mau mengerti posisi Mama saat ini,” ucap wanita itu.
Waktu terus berputar dan matahari semakin meninggi, serta sinarnya yang tadii hangat, kini sudah berubah menjadi lebih panas. Nadira segera merapikan kembali barang dagangnnya. Hari ini dagangan nasi uduk dia tidak terjual habis dan masih tersisa sekitar tiga porsi lagi. Jika tersisa seperti itu, Nadira menjadikan dagangannya sebagai menu makan siang dan makan malamnya nanti. Kejadian seperti ini baru dua kali terjadi, tapi Nadira tidak pernah kembali menjualnya karena dia tidak ingin
__ADS_1
menyajikan makan sisa kemarin.
Pendapatan hari ini lumayan. Meskipun tidak habis seperti pertama berjualan, tapi setidaknya aku tidak mengalami
kerugian dan masih bisa menabung, meskipun sedikit, batinnya seraya menghitung uang hasil jualannya.
Setelah menghitung pendapatan, Nadira pun segera merapikan semua peralatan yang tadi di simpan di luar untuk berdagang dan membawanya lagi ke dalam rumah. Tentunya setelah dia memindahkan Tiara ke kamar. Saat Nadira sedang merapikan peralatan dapur tang tadi dipakai untuk berjualan, tiba-tiba Ibu Nurul dating menghampirinya.
“Sudah mau tutup, Nad?” tanya wanita paruh baya itu sembari mendekat ke teras kontrakan rumah Nadira.
“Iya, Bu. Sudah siang juga,” sahut Nadira sambil tersenyum tipis.
“Hmmm. Iya juga, sih. Di mana Tiara? Apa dia sedangn tidur?” tanya Ibu Nurul lagi karena tidak melihat keberadaan Tiara di sana.
“Tidak, Bu. Tiara ada di dalam kamar. Aku tinggal sebentar untuk membereskan barang-barang. Setelah ini, aku akan mengolah singkong yang kemarin belum selesai aku goreng.”
Ibu Nurul mengangguk-anggukan kepalanya. “Berarti sekarang ini kamu sedang sibuk, ya, Nad?”
“Tidak terlalu, Bu. Apa ada yang bisakahku bantu?” tanya Nadira lagi karena dia merasa kedatangan Ibu Nurul ke sana bukan
hanya sekedar menyapanya saja.
“Iya. Ibu datang ke sini untuk minta tolong padamu. Calon adik iparnya Andri akan di sunat. Dan … Ibunya Nera meminta Ibu untuk mencarikan tambahan orang yang mau bantu-bantu memasak di rumahnya. Jadi, Ibu pikir pekerjaan ini bisa kamu ambil, Nad,” jawab Ibu Nurul.
Nadira terdiiam sesaat. Jika yang dimaksud Ibu Nurul itu adalah orang Tua Nera, otomatis selama seharian besok dia akan lebih sering beremu dengan Nera di rumah gadis itu. Nadira merasa sedikit tidak nyaman dengan hal tersebut. Namun, jika ditolak pun akan saying karena bayaran memasak di kampung itu cukp tinggi, bisa dia gunakan untuk menambah modal dagangannya.
“Bagaimana, Nad?” tanya Ibu Nurul lagi karena melihat Nadira yang tengah terdiam.
__ADS_1
“Hmmm … biar aku pikir-pikir dulu, ya, Bu. Terima kasih karena sudah menyampaikan berita ini padaku dan Ibu junstru mempercayakannya juga.”
“Tidak apa-apa. Sudah sepantasnya Ibu melakukan hal ini. Lagi pula, Andri tipe orang yang selalu pilih-pilih makan, jadi mungkin dia akan bisa makan Bersama jika mengetahui kamulah yang menjadi juru masak di sana,” ucap ibu Nurul yang langsung membuat Nadira mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti kenapa Ibu Nurul tiba-tiba membicaraka Andri padanya, seakan Nadira perlu mengetahui hal itu.