
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Nadira tiba di depan rumah kontrakannya. Suasana di sana nampak sepi karena hari mulai larut, ditambah suasana dingin karena hujan masih setia menemani.
Alhamdulillah, akhirnya aku sampai di sini, batin Nadira sambil menatap bangunan yang pernah menjadi tempatnya bernaung dari panasnya matahari dan derasnya hujan selama beberapa tahun terakhir. Suka dan duka sudah dilewatinya selama hampir lima tahun ini. Seandainya saja sikap Mas Danu tidak berubah, mungkin aku akan menjadi salah satu dari wanita bahagia yang memiliki keluarga hangat, sambungnya lagi.
Nadira menarik napas dalam-dalam. Dia mencoba untuk menghilangkan sesak yang ada di dadanya sebelum menghadapi Danu dan Ibu Susan. Nadira harus jadi wanita kuat, keputusan sudah diambilnya dan tidak mungkin ia mau kembali merajut kasih dengan pria yang sudah tidak mengharapkannya lagi, bahkan hanya bisa menyakitinya saja.
Semangat, Nadira! Ada anak yang harus kamu perjuangkan kebahagiaannya di dalam sana! Nadira menyemangati diri sendiri agar tidak takut menghadapi Danu dan Ibu Susan yang mungkin sudah menunggu kedatangannya.
Wanita muda itu mulai mengangkat sebelah tangannya untuk mengetuk daun pintu yang dulu selalu ia buka untuk menyambut kedatangan Danu.
Akh, lagi-lagi tanpa sadar aku mengenang masa lalu rumah tanggaku bersama Mas Danu, batin Nadira yang tampak ragu saat hendak membuat satu suara ketukan. Namun, wanita itu sekarang tidak bisa menyerah dengan perasaan sedihnya, Nadira harus ingat kalau selama di rumah itu pula, dia merasakan capek serta sakit hati yang diberikan oleh Ibu Susan, mertuanya sendiri.
'Tok ... tok ... tok ....
Nadira mengetuk pintu rumah itu tiga kali. Dia berharap baik Danu maupun Ibu Susan segera membukanya agar tidak ada orang yang mengetahui kedatangannya. Bukan apa-apa, Nadira belum siap mendengar cibiran dari para tetangga yang hanya menilai sebelah pihak saja.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu rumah kontrakan itu dibuka oleh seseorang.
"Kenapa kamu lama sekali, Nadira?" tanya seseorang dengan suara yang sangat dikenalnya, suara dari orang yang pernah membuat dia bahagia dan orang yang sama pula menorehkan luka batin dalam padanya, siapa lagi kalau bukan Danu. Kini pria itu terlihat lebih kurus dengan wajah yang sudah dipenuhi jambang, serta baju yang dikenakannya pun tampak lusuh.
"Mana Tiara, Mas?" tanya Nadira tanpa basa-basi dan tidak menggubris pertanyaan Danu sebelumnya.
"Kamu berani mengabaikan pertanyaanku, hah?" bentak Danu dengan suara nyaring, sepertinya dia memang sengaja untuk menarik perhatian para tetangga agar menghampirinya.
__ADS_1
Akan tetapi, reaksi yang ditunjukkan Nadira tetap sama, yaitu memasang wajah dingin dan seakan tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan pria itu terhadapnya. Tentu saja hal itu berbeda dengan hatinya yang saat ini gemetar ketakutan.
"Aku tidak peduli dengan pertanyaanmu, Mas! Aku hanya ingin tahu di mana Tiara!" sahut Nadira yang tidak kalah tegasnya dengan Danu. Dia sudah tidak peduli lagi kalau sampai ada tetangga mereka yang keluar dari rumah dan menghampirinya.
"Kalau kamu memang ingin mengetahui kondisi Tiara sekarang, sebaiknya kamu masuk ke rumah dan diam di sana. Jangan pernah berpikir untuk keluar lagi dari rumah ini!" jawab Danu seraya menarik tangan Nadira dengan kasar hingga membuat wanita muda itu meringis kesakitan.
"Berhenti memperlakukanku dengan kasar! Aku bukan barang yang bisa kamu miliki dengan bebas dan bisa kamu perlakukan sesuka hati kamu, Mas. Aku sudah tidak mau lagi mempunyai ikatan dengan keluargamu. Jadi, aku harap kamu mengerti dan mau melepaskanku."
Danu sedikit menarik ujung bibirnya saat mendengar perkataan Nadira. Tentu saja dia tidak akan mengabulkan permintaan wanita itu karena Danu sudah bertekad sampai kapanpun dia tidak akan pernah menceraikan Nadira.
"Apa kamu pikir setelah semua ini terjadi, aku akan melepaskanmu begitu saja?" tanya pria itu sambil mencengkram rahang Nadira.
Dengan sekuat tenaga wanita itu berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Danu. Nadira juga benar-benar tidak mengerti kenapa sikap Danu benar-benar berubah menjadi lebih kasar seperti ini padanya. Meskipun beberapa minggu yang lalu Danu juga melakukan kekerasan padanya, tapi kalau untuk mencengkram seperti ini, Nadira sangat terkejut dibuatnya.
"Sakit? Tapi, ini tidak seberapa Nadira ... aku bahkan belum melakukannya dengan tenagaku. Lalu, bagaimana bisa kamu mengatakan kalau ini sakit?"
Nadira jadi sedikit merinding saat mendengar nada bicara Danu yang seakan dingin menusuk. Baru kali ini dia melihat ekspresi suaminya yang seperti ini.
"Kamu gila, Mas!" maki Nadira dengan suara lirih.
"Gila?" ulang Danu. "Kalau aku gila, aku tidak akan pernah memiliki anak dan tidak akan mempunyai selingkuhan di belakangmu." Tiba-tiba saja Danu mendorong Nadira hingga wanita muda itu tersungkur dan punggungnya menabrak lemari tempat menyimpan pajangan.
"Akh!" pekik Nadira kesakitan sambil memegangi tulang punggungnya.
__ADS_1
"Dasar wanita lemah! Kamu sungguh tidak cocok hidup denganku," cibir Danu yang merasa bangga karena tenaganya bisa sampai membuat Nadira tersungkur ke belakang.
"Iya, aku memang tidak cocok dengan pria kasar sepertimu. Jadi, sebaiknya kamu tanda tangani surat perceraian kita hingga kamu dan aku sudah tidak mempunyai hubungan apapun lagi!" sahut Nadira yang turut merasa kesal dengan ucapan suaminya.
"Cerai? Dalam mimpi pun aku tidak akan pernah menceraikanmu!" sahut Danu yang kini sedang mencengkram erat rambut Nadira dan menariknya ke belakang." Jangan pernah berpikir kalau aku akan menceraikanmu! Aku tidak akan sudi melihat kamu bahagia setelah bercerai denganku!" teriak Danu tempat di samping wajah Nadira hingga membuat wanita itu memejamkan matanya.
Demi apapun, Nadira benar-benar tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Padahal, dulu dan dulu sama sekali bukan orang yang suka bermain tangan, tapi Danu yang sekarang sudah jauh berbeda dengan yang diingatkan Nadira dulu.
Ya Tuhan, Mas ... sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memaafkan sikap kasarmu ini! Suatu hari kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal dari apa yang kamu lakukan terhadapku, doa Nadira di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi novel lagi, kakak-kakak! Jangan lupa mampir, ya!
Beribu cerita indah telah kita lewati, pahit manis telah kita lampaui, dan segalanya yang pernah ku perjuangkan kini harusku akhiri. Sulit rasanya jika harus kehilangan lembaran kisah lama. Dan kini meski memulainya dengan lembaran baru. Tapi itulah keputusan yang sudah ku buat, setelah kau dapati seseorang yang baru untuk singgah. Seseorang yang mungkin bisa menyayangimu lebih dari aku. Tentunya tidak seperti aku, yang hanya mencintaimu dengan penuh kekurangan. Semua keputusan sudah ada di tanganku. Kamu tidak bisa lagi mengelak! Sesuatu yang pernah ku genggam erat memang sudah seharusnya aku lepas.
'Aku akan berusaha untuk meninggalkan ini semua, meski akhirnya semua tak mungkin bisa ku lupa. Aku akan berusaha merelakan, meski sebenarnya aku tak mau kehilangan. Aku akan berusaha untuk tak lagi mengingatmu, meski sebenarnya masih terselip namamu dalam setiap doaku. Dan sekarang aku akan lepaskan kamu, biarkan aku masih tetap belajar untuk ikhlas' ... gumam Tika di dalam hati sambil menangis sesegukan. Betapa sakit dan hancurnya hati Tika dengan peristiwa yang di alaminya dalam berumah tangga.
'Akankah Chandra, menceraikan Tika, saat istrinya meminta cerai? Atau justru akan mempertahankan rumah tangganya, dan berubah menjadi suami yang bertanggung jawab?
Lalu bagaimana dengan Andrew, ternyata diam-diam selama ini menyimpan rasa kepada Tika?'
'Yuk simak, dan mampir ceritanya, hanya disini.'
__ADS_1