Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 71


__ADS_3

Sesampainya di rumah Ibu Susan, Danu pun segera menggedor pintu rumah itu karena rupanya rumah itu dikunci dari dalam.


"Anita, ini aku. Cepat buka pintunya!" teriak Danu dari luar.


Anita yang mendengar suara teriakan Danu, lekas bangun dari tempat dia duduk dekat Ibu Susan tadi dan membukakan pintu.


"Kenapa kamu lama sekali, Mas? Ibu sudah pingsan selama hampir 2 jam setengah, tapi kamu malah mengembalikan semua pesan dan panggilanku!" oceh Anita sambil membukakan pintu.


"Aku tidak ada alasan untuk menjawab pertanyaanmu sekarang. Lebih baik kamu diam dan tolong panggilkan mantri untuk segera datang ke sini!" perintah pria itu sambil membopong ibunya masuk ke dalam kamar.


"Apa? Kamu memintaku untuk memanggilkan mantri? Kamu gila, ya? Apa kamu lupa kalau aku sekarang sedang hamil?" tanya Anita dengan menggebu-gebu saat mendengar perintah ayah dari bayi yang tengah dikandungnya.


"Ck. Memangnya apa yang salah kalau kamu membantuku untuk memanggilkan mantri itu?"


"Tentu saja salah. Aku tidak mau keluar dari rumah. Dan lagi pun aku juga tidak tahu mantri di sini!" sahut Anita sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Danu menarik napasnya dengan kasar serta mengusap wajahnya menggunakan sebelah tangan setelah dia membaringkan sang ibu di tempat tidur. Pria itu tampak frustasi.


"Anita, aku tidak memintamu untuk keluar rumah dan mencari mantri. Aku memintamu untuk menghubunginya saja. Kenapa pikiranmu tidak sinkron seperti itu?" tanyanya.


Mendengar pertanyaan dari Danu, Anita pun tertawa kecil karena sudah salah paham dengan permintaan pria itu tadi.


"O–oh. Aku kira kamu akan menyuruhku untuk berjalan di tengah panas terik seperti ini hanya untuk mencari tenaga kesehatan," cicitnya.


"Memangnya jika aku memintamu untuk melakukan hal itu, apa kamu akan bersedia?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak," jawabnya dengan cepat. "Ya sudah, mana nomor manteri itu biar aku yang telepon kan!" Anita mengangsurkan tangannya di depan Danu untuk meminta ponsel pria itu.


Sementara Anita memanggilkan tenaga kesehatan, Danu segera mengambil minyak angin yang ada di atas meja rias sang ibu.


"Bu, tolong segera sadar! Apa yang terjadi pada Ibu?" tanya Danu dengan tangan yang sibuk membalurkan minyak angin ke telapak tangan Ibu Susan, telapak kaki, serta kening wanita paruh baya itu.


"Bu ...." Lagi-lagi Danu memanggil Ibu Susan, berharap sang ibu lekas sadar dan siuman.


Tak lama setelah Danu selesai membalurkan minyak angin, Anita pun datang dan duduk di kursi meja rias.


"Nit, apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu? Sebelumnya dia tidak pernah sampai seperti ini!" tanya Danu yang meminta penjelasan pada Anita.


"Mana aku tahu, Mas. Aku juga kaget saat ibu tiba-tiba jatuh di hadapanku," sahut Anita.


Danu mencoba untuk memperhatikan lebih jelas mimik wajah wanita hamil itu, dia yakin kalau saat ini Anita tidak sedang mengatakan hal yang sebenarnya.


Anita langsung menatap Danu dengan tajam saat mendengar nada bicaranya yang tampak tidak mempercayai jawaban tadi.


"Kamu tidak mencurigaiku 'kan, Mas? Jika memang 'Iya', maka kamu sudah kelewatan!" sergah Anita dengan kesal karena Danu susah berani mencurigainya.


"Jadi kamu sungguh melakukan sesuatu pada Ibu?" Danu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Anita sambil menudingkan telunjuk.


"Apa-apaan kamu, Mas?" Anita balik membentak. "Aku bahkan tidak melakukan apapun pada Ibu. Tadi dia sungguh pingsan dengan sendirinya!"


"Lalu, kenapa tadi kamu mngatakan seolah ka–"

__ADS_1


"Danu ...."


Belum sempat Danu menyelesaikan ucapannya, dia sudah lebih dulu berbalik ke arah Ibu Susan berbaring karena mendengar suara lirih wanita paruh baya itu.


"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir.


"Ibu pusing, Dan. Ibu dari pagi belum makan apapun," jawab Ibu Susan lirih.


"Bagaimana bisa Ibu belum makan apapun sampai jam segini? Kemarin aku sudah membawakan makan dan cemilan ke rumah ini!" ucap Danu dengan bingung sambil melirik Anita yang langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Di rumah ini tidak ada makan, Dan. Di dapur juga tidak ada beras. Ibu tidak punya uang untuk ke warung. Ditambah, Ibu malu bertemu dengan tetangga lain," jelas Ibu Susan seraya menggenggam tangan putranya.


Danu melepaskan tangan Ibu Susan. Dia kembali bangkit dan menghampiri Anita. Pria itu langsung menarik tangan wanita keluar dari kamar Ibu Susan dan membawanya ke depan pintu.


"Nit, apa kamu yang menyimpan semua makanan yang aku belikan kemarin? Bukankah aku memintamu untuk berbagi dengan Ibu?" tanya Danu dengan setengah berbisik.


"Kalau memang iya aku yang menyimpannya, kenapa, Mas? Bukankah semua makanan yang kamu kirim itu untukku saja?"


"Aku tidak menyuruhmu untuk menyimpan semuanya sendirian! Itu juga makan untuk Ibu," geram Danu dengan kesal karena Anita tidak membagi makanan yang dia kirimkan kemarin dengan ibunya. Padahal dia sudah membelikan makanan yang cukup untuk dua orang, tapi justru wanita hamil itu malah menyimpannya untuk diri sendiri.


Anita diam. Dia tahu kalau saat ini Danu sedang kesal padanya. Anita memang sengaja menyimpan makanan itu untuk dirinya sendiri karena dia merasa kalau itu semua adalah hal yang wajar dilakukannya, sebab dia sedang mengandung anak dari Danu.


"Anita, sekarang keluarkan makanan yang aku kirimkan kemarin dan simpan kembali ke tempat yang seharusnya!" perintah Danu dengan tegas.


"Apa? Tapi makanan itu milikku, Mas! Bukankah kamu tahu kalau aku tidak bisa dia hanya duduk diam tanpa mengunyah makanan, apalagi saat ini aku sedang hamil. Aku butuh banyak makanan juga. Ini juga untuk anakmu! Kalau kamu ingin memberikan makanan untuk Ibumu, kamu belikan saja yang baru. Jangan minta yang sudah ada padaku!" tolak Anita panjang lebar.

__ADS_1


"Saat ini aku tidak ada uang, Anita! Kamu harus memberikan makanan itu sebagian untuk Ibu!"


"Tidak akan. Kalau kamu tidak punya uang, kamu ngutang dulu ke warung! Sekalian belikan juga makanan lagi untukku!" sahut Anita dengan mudahnya seraya berbalik pergi meninggalkan Danu yang masih berdiri di depan pintu kamar Ibu Susan.


__ADS_2