
Hari mulai gelap saat Nadira hendak pergi dari rumah kontrakannya. Dia sama sekali tidak berpamitan pada Ibu Nurul dan Pak Gahar demi untuk mengikuti permintaan Nera serta ibunya. Namun, meskipun Nadira tidak berpamitan pada keluarga itu, tapi pada kenyataannya mereka mengetahui kepergian Nadira dan itu cukup membuat Andri kecewa karena Nadira memilih menuruti permintaan Ibu Kamila.
"Pak, apa kita akan diam saja melihat Nera dan Ibunya bersikap seperti itu pada orang lain?" tanya Andri yang sedang melihat Nadira mengangkuti barang-barang miliknya ke dalam mobil sambil diperhatikan oleh Ibu Kamila.
"Hal ini terjadi karena salahmu juga, Ndri. Seandainya kamu tidak mendekati Nadira dan masih bersikap biasa pada Nera ... Bapak yakin, dia juga tidak akan melakukan semua ini pada Nadira," jawab Pak Gahar tanpa mengalihkan pandangannya dari Nadira.
"Pak, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Lagi pula, bukankah sejak awal Andri sudah mengatakan kalau Andri tidak mau menikah dengan Nera, tapi Bapak justru terus memaksa Andri," sahut pemuda itu sambil menatap bapaknya. Dia sungguh berharap pria paruh baya itu datang menghampiri Ibu Kamila dan menghentikan Nadira yang hendak pergi dari sana.
"Bapak tahu, Ndri. Itulah sebabnya kenapa Bapak memintamu untuk mulai mendekati Nera dan mengenalnya lebih jauh. Tapi ... nyatanya keinginan Bapak tidak sesuai dengan apa yang kamu lakukan sekarang." Terlihat raut wajah Pak Gahar tampak kecewa pada putranya itu.
"Aku tidak bisa, Pak. Maaf ...," ucap Andri penuh sesal karena dia tidak bisa menuruti permintaan orang tuanya. Selain karena Andri juga tidak mempunyai perasaan pada Nera, dia tahu apa yang keluarga itu inginkan, yaitu harta kedua orang tuanya dan Andri tidak menyukai hal itu. Makanya dia berusaha menjauhi Nera dengan membuat wanita itu kesal sehingga mengurungkan niat untuk menikah dengannya. Namun, nyatanya perkiraan itu salah dan malah membuat orang lain terkena imbas sikapnya.
Mendengar jawaban Andri, Pak Gahar pun hanya bisa menarik napas panjang. Seandainya aku tidak mempunyai hutang nyawa dan janji pada keluarga Nera, mungkin aku tidak akan melibatkan putraku dalam hal ini, batinnya penuh sesal.
Sebenarnya Pak Gahar tahu kalau keluarga calon besannya itu hanya menginginkan hartanya saja, tapi dia tetap harus melakukan perjodohan itu karena sudah berjanji pada mendiang kakeknya Nera yang akan menjadikan gadis itu bagian dari keluarganya sebagai ganti pernah mendonorkan ginjal pada ayahnya, meskipun pada akhirnya operasi itu tidak membuat sang ayah bisa sembuh dari penyakitnya.
"Sudahlah ... semua sudah terjadi, lebih baik sekarang kamu robah sikapmu itu dan kembali seperti biasa lagi pada Nera. Jangan sampai ada Nadira lain yang bernasib sama atas ulah kedua wanita itu."
__ADS_1
Andri cukup terkejut dengan perintah bapaknya yang menurut dia tidak masuk diakal. "Pak, bagaimana bisa Bapak memintaku untuk tetap menikahi wanita itu, meskipun Bapak tahu bagaimana buruknya dia?" tanyanya dengan kesal.
"Kalau menurutmu dia kurang baik, maka minta dia untuk berubah. Nera seperti sekarang karena dia mencintaimu, Ndri. Mungkin jika kamu yang meminta dan menuntun dia untuk merobah sikapnya, dia akan menurutimu," ucap Pak Gahar sebelum dia berbalik meninggalkan putranya yang masih terkejut dengan ucapannya.
"Bapak masih mau memaksaku?"
"Ini perintah Bapak, Ndri. Buktikan jika kamu anak yang bisa berbakti pada Bapak dengan menuruti perintah Bapak yang terakhir ini. Bapak jamin ... Bapak tidak akan menuntut apapun lagi darimu," sahut pria paruh baya itu.
Andri benar-benar kecewa dengan ucapan Pak Gahar. Pemuda itu menundukkan kepalanya dalam sambil berpikir bagaimana cara meminta maaf pada Nadira. Ya, dia merasa bersalah pada ibu satu anak itu karena sudah membuatnya masuk dalam masalah yang tengah ia alami.
"Jika memang Bapak tetap memaksaku menikahi Nera, akan aku lakukan. Tapi ... tolong hentikan Nera dan Ibunya saat ini yang sedang mengusir Nadira. Aku sungguh tidak tega melihat Tiara yang akan tidur di luar ruangan malam ini. Setidaknya biarkan dia tinggal satu malam lagi di sini dan baru pergi besok pagi!" pinta Andri.
"Pak, ingat ... Bapak masih ketua RT di sini, apa Bapak tidak tega melihat salah satu warganya akan diusir oleh warga Bapak yang lainnya?" tanya Andri lagi saat melihat Pak Gahar yang tampak bingung.
Pak Gahar tidak menjawab pertanyaan Andri, tapi dia langsung berbalik dan menghampiri Ibu Kamila dan Nera. Sementara itu, Andri hanya berdiam diri di tempatnya tadi memperhatikan saja. Bukan dia tidak ingin menemui Nadira dan minta maaf langsung padanya, tapi dia tidak ingin membuat Nera semakin kesal pada Nadira hingga membuat gadis itu nekad melakukan hal buruk lain nantinya.
Maafkan aku Nadira. Aku tidak tahu kenapa kamu memilih kampungku sebagai tempat pelarianmu. Aku minta maaf karena ternyata tempat ini tidak membuatmu merasa nyaman dan malah mungkin membuatmu lebih terganggu. Maaf, aku sungguh-sungguh menyesal, batin Andri sambil menatap Nadira yang kini sedang berbicara dengan bapak, serta Ibu Kamila dan Nera.
__ADS_1
***
“Ibu Kamila, saya tidak tahu kenapa Ibu melakukan hal ini pada Nadira. Tapi, sebagai ketua RT dan calon besan Anda, saya merasa sedikit malu dengan apa yang Anda lakukan ini,” ucap Pak Gahar.
Ibu Kamila sejak tadi hanya diam sambil menatap sengit pada Nadira, dia merasa kalau Nadira sudah mengadu pada calon besannya itu dan membuat tindakannya diketahui oleh Pak Gahar.
“Mmmh, anu, Pak ….” Nera angkat bicara karena melihat mamanya hanya diam saja, padahal saat ini mereka sedang ditatap tajam oleh Pak Gahar. “Aku … aku dan Mama melakukan ini karena Nadira. Dia sedang berusaha membuat pernikahanku dan Andri gagal,” adunya pada calon mertuanya. Dia yakin kalau Pak Gahar akan mempercayai ucapannya, maka dari itu Nera menjelekkan Nadira di depan Pak Gahar.
Sementara itu, Nadira hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. “Wah, apa kamu kira aku benar-benar melakukan hal itu, Nera?” pancingnya dengan sengaja.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Nadira, Pak Gahar pun menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan calon menantunya itu.
“Kalau memang kamu tidak berniat merebut Andri dariku, kamu tidak akan mendekatinya, Andri tidak akan membandingkanmu denganku! Dia pasti hanya akan melihatku saja!” jawab Nera dengan setengah berteriak hingga membuat Tiara yang sedang berada di pangkuan Nadira terbangun.
"Hey, tidak bisakah kamu sedikit mengecilkan suaramu? Kamu sudah membangunkan putriku!" ucap Nadira kesal. Dia bahkan tidak mengindahkan perkataan Nera yang menyalahkannya.
"Sudah, sudah!" Pak Gahar melerai Nadira dan Nera. "Nera, Ibu Kamila, sebaiknya kalian pulang ke rumah dan biarkan Nadira untuk bermalam di sini karena tidak mungkin dia melakukan perjalanan malam hari dengan membawa Tiara," kata Pak Gahar.
__ADS_1
"Tidak," tolak Ibu Kamila dengan tegas. "Nadira harus pergi malam ini juga!" sambungnya lagi.