
Nadira menceritakan semua yang dialaminya pada Ibu Arum tanpa ada yang dia tutup-tutupi karena wanita itu yang memintanya. Sementara itu, Pak RT masih mengintrogasi Danu dan keluarganya. Anggota keluarga itu sangat sulit untuk mengakui kesalahan yang sudah mereka perbuat, hingga Pak RT beberapa kali menghela napas Panjang. Apalagi saat Nia yang dengan tidak tahu malu mengatakan kalau Nadira sudah memperlakukan putranya dengan semena-mena.
“Mbak Nia, saya sedang bertanya pada Mas Danu, kenapa Mbak Nia terus menyela?” tanya Pak RT pada Wanita yang merupakan kakak dari Danu itu.
“Tapi ‘kan, Pak … Bapak juga pasti butuh keterangan dari saya untuk mendapatkan informasi lebih,” sahut Nia sambal menunjuk dadanya, serta ikut diangguki oleh Erhan, suaminya.
“Mbak Nia, jangan sembarangan bicara, ya! Saya juga bersedia jadi saksi mata untuk membela Nadira atas semua yang dialaminya!” Ibu Rumi turut angkat bicara karena dia merasa gemas pada Nia yang terlalu banyak gaya.
“Ibu Rumi itu tahu apa tentang Nadira, hah?” Nia maju satu langkah dan berdiri di hadapan Ibu Rumi. “Ibu Cuma orang asing yang kebetulan dekat dengan Nadira, jadi Ibu Rumi tidak perlu ikut campur dengan keluargaku!” sambung wanita itu lagi karena tidak terima tetangganya itu lebih memihak Nadira.
Pak RT bangkit dari tempat duduknya dengan kesal dan langsung meminta Erhan agar membawa Nia pulang.
“Mas Erhan, saya tidak mau tahu … pokoknya Anda harus bawa Mbak Nia keluar dari rumah ini! Dari tadi dia hanya ikut campur rumah tangga Mbak Nadira dan Mas Danu saja. Kalau dia hanya bisa merecoki, kapan masalah selesai?” geramnya tanpa mempedulikan penolakan dari Nia.
“Ta—tapi, Pak?” Erhan hendak menolak perintah Pak RT, tetapi para pemuda yang tadi ikut masih berada di sana hingga akhirnya, merekalah yang menggusur Nia untuk keluar dari rumah itu. Karena tidak bisa menolah perintah Pak RT, akhirnya mau tidak mau, Erhan pun keluar dan menyusul Nia yang masih berdiri di depan pagar rumah tersebut.
Kini di rumah Pak RT sudah lebih tenang dari sebelumnya. Danu pun hanya tertunduk saat Pak RT Kembali melayangkan beberapa
pertanyaan terkait kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh Danu pada Nadira. Sementara itu, Ibu Susan pun hanya diam sambal menatap iba putranya. Dia tidak pernah menyangka, citranya sebagai keluarga baik dan harmonis berujung memalukan seperti malam ini.
__ADS_1
“Mas Danu, apa sekarang ada yang ingin Mas Danu pertanyakan?” tanya Pak RT setelah sesi tanya jawab mereka usai
Danu menggelengkan kepalanya dalam diam. Entah apa yang dipikirkan pria itu karena sejak Nadira di bawa pergi ke ruangan lain oleh Ibu Arum, dia mendadak jadi diam.
“Anda yakin?” tanya Pak RT lagi.
Danu kembali menganggukan kepalanya hingga membuat Pak RT tidak melayangkan pertanyaan lagi.
“Baiklah kalau memang seperti itu.” Pak RT bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke ruang keluarga untuk memanggil Nadira yang saat ini sedang bersama istrinya.
Sementara itu, Ibu Susan langsung menghampiri putranya saat melihat Pak RT sudah masuk ke ruangan lain.
baya itu pada putranya yang babak belur, dia juga menoleh ke arah pria asing yang sebelumnya tidak dia ketahui.
“Apa, Bu?” tanya Danu yang seakan enggan untuk menjawab pertanyaan sang ibu. Sudah pasti wanita itu akan mengatainya bodoh karena diam saja saat Nadira meminta tolong pada Pak RT menguruskan perceraian mereka. Ditambah lagi sekarang orang-orang sudah mengetahui keburukan sikapnya pada Nadira.
“Kamu kenapa malah berurusan dengan Pak RT, hah? Bukankah seharusnya sekarang Nadira dan Tiara ada digenggaman tangan kita? Bukankah kamu yang mengatakan kalau kita bisa memanfaatkan istrimu dengan menggunakan Tiara?” tanya Ibu Susan lagi yang tentunya hanya sekedar berbisik di telinga Danu. Dia juga tidak ingin ada orang-orang yang mengetahui niat terselubung mereka.
Raka masih memasang wajah dinginnya saat melihat ibu dan anak di hadapannya saling berbisik. Dia tidak tahu apa yang sedang kedua orang itu bicarakan, hanya saja tadi dia sempat mendengar kalau Ibu Susan menyinggung nama Tiara dan Nadira, yang itu tandanya kalau mereka sedang merencanakan sesuatu lagi.
__ADS_1
Sepertinya suami dan Ibu mertua Nadira memang sedang
merencanakan sesuatu … tapia pa? batin Raka bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, Nadira, Pak RT dan Bu RT kembali ke ruangan itu. Mereka duduk tenang di sana. Begitu pula Ibu Susan yang mati-matian menahan diri untuk tidak memaki menantunya yang lagi-lagi membuat keluarga dia malu.
“Dasar menantu kurang ajar, tidak tahu malu, tidak tahu di untung! Padahal aku sudah berusaha untuk memanfaatkannya, tapi dia malah ingin terlepas dari kami,” geram Ibu Susan dalam hatinya. Tatapan wanita itu sangat tajam pada Nadira, seakan dia ingin sekali menerkam dan mencabiknya.
“Bu Susan, tatapannya tolong dikondisikan, ya! Di sini yang berbuat salah itu anak Ibu, bukan Nadira!” seru Ibu Arum pada Ibu Susan saat melihat tatapan tajam yang dia layangkan ke Nadira.
Ibu Susan tersentak kaget mendengar perkataan Ibu Arum. Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena para pemuda yang ada di sana pun turut memperhatikannya.
“Ehem.” Pak RT berdehem untuk menarik perhatian semua warganya yang hadir di sana. “Sebelumnya tadi saya dan istri sudah berbicara dengan Mbak Nadira di dalam,” ucap Pak RT setelah orang-orang di sana kembali tenang. “Saya meminta pendapat Mbak Nadira atas kejadian ini dan saya juga sudah
menimbang mana yang benar dan mana yang seharusnya kami hindari. Mbak Nadira sudah menceritakan apa sebab dan alasan dia untuk meminta perceraian dengan Mas Danu,” sambungnya lagi.
Ibu Susan lantas menoleh dan lagi-lagi menatap menantunya dengan tajam. Bagaimana bisa Nadira mengatakan alasannya berpisah dengan Danu pada Bu Arum secara terang-terangan? Apa yang sudah dia katakana pada Bu RT? Jangan-jangan Nadira menjelek-jelekan keluargaku? Ibu Arum itu adalah orang yang paling anti membicarakan tentang perceraian. Bahkan jika ada
warganya yang berniat bercerai, dia secara suka rela menjadi pendengar dan penasihat untuk mencegah perceraian itu
__ADS_1
terjadi. Lalu, kenapa saat Nadira mengatakan perceraian dengan Danu, dia langsung mengiyakannya? batin wanita itu bertanya-tanya.