Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 28


__ADS_3

Erhan tercengang saat mendapatkan perkataan pedas dari adik iparnya yang menyuruh dia untuk pergi dari rumah sang mertua. Memang selama ini dia menyadari kalau dirinya hanya numpang makan dan tidur di sana tanpa menghasilkan apapun, tapi erham juga tidak terima kalau dirinya diusir begitu saja oleh Danu.


"Danu, jaga ucapanmu!" bentak pria itu dan langsung menurunkan putranya dari gendongan. "Apa kamu tidak tahu, semenjak aku menikah dengan Kakakmu, semua kesialan mulai bermunculan di hidupku! Aku juga dulu selalu bekerja keras deminya saat kami masih sedang berpacaran. Dan aku rasa wajar sekarang aku sedikit bersantai karena gara-gara dia juga aku dikeluarkan dari tempatku bekerja," sambungnya yang menyalahkan Nia.


Danu tampak maju selangkah dan menarik kerah baju Erhan. Dia saja yang merupakan pria pemalas.


"Mas berani menyalahkan Kakakku? Lelaki macam apa kamu yang hanya bisa memanfaatkan keluarga istrinya untuk bertahan hidup, hah?" bentaknya tepat di depan wajah Erhan hingga membuat Vino ketakutan dan menangis.


Sementara itu, dari dalam rumah, Nia serta Ibu Susan bergegas menghampiri dua pria yang mereka temukan sedang beradu otot dengan Vino yang sedang menangis di antara mereka.


"Anakku!" Nia bergegas mengambil Vino dan memeluk anak yang sedang menangis ketakutan itu.


"Erhan, Danu, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ibu Susan pada menantu serta putranya.


Danu segera melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Erhan dengan kasar sehingga membuat pria itu memundurkan tubuhnya beberapa langkah.


"Untuk saat ini kamu masih aman," tunjuk Danu pada kakak iparnya.


"Heh, kamu pikir aku takut padamu? Bukankah kamu juga memanfaatkan kebaikan Nadira selama ini? Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sudah berselingkuh dengan wanita lain saat Nadira sedang mengandung?" tanya Danu dengan seringai tipis di wajahnya. Dia mendekat dan kembali berbisik, "Jangan berlaga suci di depanku, Danu. Kita sama-sama pria yang suka menyusahkan istri, bukan?"


Setelah mendengar perkataan Erhan, tanpa berpikir panjang Danu langsung menghantamkan sebuah tinjuan tepat di wajah kakak iparnya. Meskipun dia memperlakukan Nadira seperti itu, tapi tetap hatinya tidak rela kalau Erhan pun berniat melakukan hal yang sama terhadap Nia dan ibunya.


"Jangan pernah membanding-bandingkan ku dengan dirimu!" ucap Danu sambil kembali mendorong tubuh kakak iparnya hingga membuat suami Nia itu jatuh tersungkur.

__ADS_1


"Aku hanya berbicara sesuai kenyataan. Kalau kamu belum bisa menjadi kepala keluarga yang benar untuk keluargamu, jangan pernah menasihatiku seperti tadi. Aku tidak suka." Erhan bangkit dan menepuk bahu Danu sebelum kembali masuk ke rumah mertuanya tanpa rasa malu sedikit pun.


Ibu Susan yang melihat keributan putra dan menantunya hanya diam dengan perasaan yang sulit ia ungkapkan. Namun, satu hal yang pasti, dia menyalahkan Nadira atas semua kekacauan yang terjadi pada keluarganya. Selama hampir lima tahun ini mereka selalu hidup rukun dan tentram karena Nadira menerima semua perlakuan keluarga Danu tanpa membantah, sementara saat ini wanita itu memilih mundur dan pergi, hingga akhirnya kekacauan pun tak bisa dihindarkan.


Nadira, gara-gara kamu ... anak dan menantuku jadi bertengkar! Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja saat sudah melakukan kekacauan ini? Benar-benar wanita yang tidak punya pikiran! geram Ibu Susan dalam hatinya. Dia juga berjanji kalau sampai Nadira kembali ke rumah kontrakannya, Ibu Susan tidak akan pernah membiarkan Nadira pergi lagi.


"Dan, apa kamu sudah mengetahui di mana keberadaan Nadira?" tanya wanita paruh baya itu pada putranya.


Danu menggelengkan kepala. "Belum, Bu. Padahal aku sudah mencarinya ke sana kemari selama seminggu ini, tapi Nadira hilang seakan ditelan bumi. Nomor ponsel yang lamanya pun sudah tidak bisa dihubungi ataupun dilacak," jawabnya terdengar lesu.


Ibu Susan menghela napas panjang. Dia pun turut memikirkan di mana Nadira bersembunyi selama ini, sementara dia sendiri ingat kalau Nadira tidak mempunyai saudara lain selain Faisal yang sekarang tinggal di rumah bersama Ibu Amira, besannya.


"Danu, apa kamu memiliki perkiraan di mana tempat sekarang Nadira tinggal?"


Lagi-lagi Danu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Bu. Aku kenal dengan Nadira bukan hanya setahun, dua tahun, tapi hampir delapan tahun lamanya. Dan ... memang seperti yang kita perkirakan, Nadira tidak mempunyai keluarga lain," jawab pria itu lagi sambil terus berpikir.


"Iya, Dan. Segera temukan Nadira dan bawa mereka kembali agar tidak lagi membuat kegaduhan seperti ini. Enak saja dia pergi setelah membuat keluarga kita berantakan," sahut Ibu Susan sambil mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata yang menyorot tajam.


"Tentu, Bu. Aku pikir dia juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya."


Setelah menenangkan sang ibu, Danu pun memilih pulang ke kontrakan. Dia akan beristirahat dulu di sana sebelum nanti kembali mencari Nadira lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Baru beberapa menit Danu sampai di rumah, tiba-tiba ada seorang tukang pos datang menghampirinya dan memberikan sebuah amplop berwarna coklat. Danu masih belum mengetahui apa isi dari amplop itu, tetapi saat dirinya membalikkan amplop tersebut, betapa terkejutnya pria itu sampai kedua matanya hampir meloncat keluar.


"Apa-apaan ini?" geram pria itu sambil meremas isi amplop yang merupakan surat dari pengadilan berisi gugatan cerai yang Nadira ajukan.


Bagaimana bisa wanita itu mempunyai keberanian untuk menggugat cerai diriku? Seharusnya aku yang menggugat cerai dia dan membuatnya terpuruk, bukan aku yang diperlakukan seperti ini olehnya! Danu terus bermonolog dalam hatinya sambil menatap surat gugatan cerai yang kini ada di tangannya.


Pria itu lekas masuk ke rumah kontrakannya dan membanting pintu hingga membuat beberapa tetangga yang lewat sempat dibuat terkejut.


"Akh, wanita si*lan! Berani-beraninya dia bersikap lancang seperti ini!" teriak Danu sembari mengajak-ngajak kasur dan bantalnya sehingga berserakan di atas lantai. Dia tidak peduli lagi dengan rumah yang sekarang bertambah berantakan karena sudah beberapa hari tidak dirapikan. Danu meluapkan amarahnya terhadap Nadira di kontrakan itu. Dia baru berhenti setelah Ibu Susan datang karena mendapatkan laporan dari tetangga kalau mereka mendengar keributan yang terjadi di dalam kontrakan putranya.


Ibu Susan, Nia dan Erhan langsung bergegas masuk ketika sedari luar mereka mendengar beberapa barang pecah. Erhan segera membuka pintu kontrakan adik iparnya dan melihat kekacauan yang ada di sana.


"Ya Tuhan ... Danu benar-benar menghancurkan semua barang-barang di rumahnya," gumam Erhan menatap kekacauan yang ada di depan matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rekomendasi novel hari ini, guys! Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak, ya!


Olivia, seorang gadis yang dianugerahi kesempurnaan dalam hidup, memiliki paras cantik, tubuh seksi dan juga gelimangan harta. Bahkan dia pun tak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya hingga apa yang dia inginkan selalu bisa didapat.


Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda sederhana yang menjadi obsesinya, hingga Olivia berbuat segala hal untuk mendapatkan pemuda tersebut.


Azam, pemilik kedai kecil yang setiap hari diganggu oleh kehadiran gadis yang baru sekali ditemuinya secara tak sengaja, dan membuat pemuda itu muak. Dia selalu mengacuhkan dan berusaha mengusir gadis tersebut.

__ADS_1


Namun, sebuah kejadian mengharuskannya menikah dengan si gadis yang terus mengganggunya. Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan?



__ADS_2