
Danu terdiam tak berkutik saat Pak Santo dengan mudahnya mengatakan kalau dia sendiri yang akan memberikan hukuman
pada Anita, sedangkan dirinya harus siap-siap berurusan dengan pihak hukum. Tentu saja Danu enggan hal itu terjadi, meskipun nama baik dia sudah hancur karena beberapa minggu lalu dia kepergok melakukan kekerasan pada Nadira, tapi untuk masalah hamilnya Anita, dia tidak ingin sampai semua orang mengetahui hal tersebut.
“Om, tolong jangan seperti ini lah … bukankah kita masih keluarga? Bagaimana kalau sekarang aku nikahi Anita dulu
secara siri, setelah aku bisa menghubungi Nadira, aku akan meresmikan pernikahan kami. Om juga tentu tidak ingin malu dengan hal ini ‘kan?” tanya Danu yang berharap Pak Santo mau merobah pemikirannya.
Pria paruh baya itu tersenyum mengejek perkataan Danu. Bagaimana bisa keponakan jauhnya itu berpikir demikian tanpa
memikirkan perasaan istri pertamanya yang sudah banyak berkorban untuk keluarga Danu sendiri?
“Danu, apa kamu sehat?” tanyanya dengan tatapan lurus tajam menatap pria yang duduk tak jauh dari putrinya yang saat ini sedang mengandung.
“A—apa maksud pertanyaan Om? Tentu saja aku dalam keadaan sehat,” jawab Danu dengan cepat.
“Oh, ya? Aku pikir kamu sedang sakit sampai-sampai otakmu tidak bisa berpikir jernih, atau … hatimu yang sedang bermasalah? Tidakkah kamu merasa bersalah karena sudah bermain api di
belakang istrimu?” tanya Pak Santo dengan kesal. Dia benar-benar merasa tidak habis pikir terhadap sikap Danu.
“Aku ….” Danu tampak bingung saat akan menjawab pertanyaan orang tua sang kekasih. Jika dia mengatakan merasa sedikit
bersalah, pasti Anita akan langsung marah padanya dan jika Danu mengatakan kalau dirinya tidak menyesal, maka mungkin Pak Santo dan Ibu Mina akan menganggap dia bukanlah pria terbaik untuk putrinya.
Astaga … bagaimana aku menjawab
__ADS_1
pertanyaan seperti ini? tanyanya dalam hati.
Anita diam-diam memperhatikan sikap Danu dan perubahan raut wajahnya saat sang ayah bertanya padanya. Kenapa Mas Danu hanya diam saja? Apa dia sungguh masih mempunyai perasaan terhadap istrinya itu? tanya Anita dengan kesal dalam hatinya. Ya, dia kesal saat melihat wajah Danu yang tampak ragu.
“Mas!” panggil Anita hingga membuat Danu yang sedang menunduk, langsung menengadah dan menatapnya.
“Ya, Nit?!”
“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Ayah? Apa kamu sungguh masih mempunyai perasaan pada istrimu?” tanyanya.
“Hah? Oh, itu … aku—”
“Keterlaluan kamu, Mas! Bisa-bisanya kamu masih mempunyai perasaan pada Nadira sete—”
Anita diam seribu bahasa saat ayahnya membentak dia. Bukan dia ingat dengan posisinya yang seperti diucapkan Pak Santo, tapi dia terdiam karena tak ingin semakin diamuk pria paruh baya itu. Tanpa Pak Santo mengatakannya pun, sebenarnya Anita sudah sadar dengan posisinya, tapi karena dalam perutnya ada anak dia dan Danu, jadi Anita merasa kalau dirinya berhak ikut campur masalah rumah tangga Danu.
Ck. Kenapa Ayah sangat membela Nadira dibanding aku yang merupakan putrinya? Kenapa Ayah seakan-akan tidak ingin Mas
Danu meninggalkan Nadira, padahal jelas-jelas Nadira juga sudah meninggalkan Mas Danu? batin Anita bertanya-tanya. Dia merasa kalau sikap ayahnya jauh lebih sering membela Nadira. Ibu pun sepertinya sependapat dengan Ayah, sambungnya
lagi saat melirik sang ibu yang terdiam menundukkan kepala dan sesekali mengusap mata serta hidungnya yang berair.
“Om, bukan seperti itu … maksudku, perasaanku terhadap Nadira pun sudah memudar. Entah sejak kapan, aku tidak ingat. Dan yang aku tahu, sekarang aku harus bertanggung jawab dengan kandungan Anita, hanya itu saja,” ucap Danu setelah beberapa saat terdiam.
Pak Santo dan Bu Mina cukup dibuat terkesan oleh sikap berani Danu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan Anita. Namun, karena dia tahu apa yang sudah dilakukan Danu sebelumnya, jadi apa yang baru saja dikatakan pria itu terdengar seperti omong kosong baginya.
__ADS_1
“Jika memang kamu merasa untuk bertanggung jawab pada Anita, maka selesaikan dulu masalahmu dengan Nadira. Jika kalian sudah benar-benar berpisah dan kamu sudah mendapat pengampunan darinya silakan nikahi Anita,” jawab Pak Santo yang lagi-lagi membuat Danu menghela napas Panjang, tapi tidak berani mengeluarkannya dengan kasar karena akan semakin membuat pria paruh baya itu murka padanya.
Akh, sial sekali! Padahal aku sudah susah payah memberanikan diri mengatakan hal itu, kenapa dia sama sekali tidak tersentuh dan bahkan malah memintaku menyelesaikan urusanku dengan Nadira? Sungguh, wanita itu hanya menjadi penghalangku saja, batinnya dengan kesal.
Diam-diam Pak Santo memperhatikan raut wajah Danu yang terlihat kesal padanya. Ya, dia sudah menduga hal itu terjadi.
Huh, dia berlagak ingin bertanggung jawab pada putriku, tapi dia tidak mau menyelesaikan urusannya dengan Nadira? Apa sebenarnya yang ada di pikiran dia? gumamnya dalam hati.
“Kenapa kamu hanya diam, Danu? Tidak saggupkah kamu menyelesaikan urusanmu dengan Nadira? Atau … kamu berpikir untuk rujuk lagi dengannya setelah kamu bosan dengan putriku?” Pertanyaan itu bukan keluar dari bibir Pak Santo, melainkan dari wanita paruh baya yang sedang duduk di samping Anita, siapa lagi kalau bukan Ibu Mina, Ibunya Anita sendiri. Dia tidak merasa keberatan kalau memang Danu ingin menikahi putrinya, tapi setelah apa yang diminta Pak Santo terlaksana tentunya.
“A—aku ….”
“Kamu tidak berniat untuk menjadikan nasib Anita seperti Nadira ‘kan?” tanya Bu Mina dengan tatapan menghunus tajam menatap Danu yang tiba-tiba dilanda kegugupan.
“Jika memang kamu berniat untuk pergi meninggalkan Anita seperti Nadira, lebih baik kamu tidak perlu mempertanggung
jawabkan perbuatanmu ini. Kami sebagai orang tuannya masih sanggup untuk membiayai Anita dan anak yang ada dalam perutnya!” sambung wanita paruh baya itu lagi.
“Bu!” Anita secara tak sadar langsung meninggikan suaranya saat mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir sang ibu.
“Bagaimana bisa Ibu berkata seperti itu pada Mas Danu? Bukankan memang seharusnya Mas Danu bertanggung jawab padaku dan anak kami?” sambungnya lagi.
“Anita, Danu sudah memperlihatkan keburukannya padamu. Dia rela meninggalkan istri sah dan anaknya hanya demi kamu yang merupakan orang ketiga. Hal itu mungkin saja bisa terjadi lagi di
lain hari karena datangnya Anita lain dan kamu yang akan merasakan bagaimana perasaan Nadira saat ini. Apa kamu masih tidak paham?”
__ADS_1