
Raka memutuskan untuk mempercepat kepulangannya karena dia merasa khawatir terhadap mamanya. Apalagi setelah yang dialami oleh ibu Santi kemari, membuat dia memilih untuk pulang lebih awal. Namun, setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama enam jam lamanya, Raka sama sekali tidak menemukan mamanya itu. Padahal, dia sudah berpesan agar sang mama tidak pergi ke mana-mana.
"Assalamualaikum, Mama sedang ada di mana? Kenapa tidak ada di rumah?" tanya Raka begitu panggilannya dijawab oleh Ibu Santi.
"Wa'alaikum salam, Ka. Mama sedang berada di rumah seseorang. Bagaimana bisa kamu mengetahui kalau Mama tidak ada di rumah?" Ibu Santi balik bertanya pada putranya.
"Aku baru saja sampai Surabaya, Ma. Tapi saat sampai rumah, Mama tidak ada dan Bibi mengatakan kalau Mama sedang pergi keluar," jawab Raka.
"Hah? Kamu tidak salah sudah menyusul Mama? Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah kamu mengatakan kalau kamu baru akan menyusul Mama seminggu lagi?"
"Iya, rencana awalnya memang seperti itu. Tapi ... aku khawatir Mama lama-lama sendirian di sini, jadi aku mempercepat kepulanganku," jelas Raka.
"Ya Tuhan ...."
"Sekarang Mama ada di mana? Aku akan jemput!" tanya Raka lagi.
"Tidak perlu, Ka. Mama akan pulang sekarang dan kamu tunggu saja di rumah!" tolak Ibu Santi saat Raka hendak menjemputnya.
"Oh, baiklah kalau memang Mama tidak ingin dijemput. Lagi pula aku juga merasa lelah," sahut Raka.
"Hmmm. Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya untuk segera berpamitan dengan teman baru Mama."
"Iya, Ma."
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam, Ibu Santi pun kembali masuk ke rumah Nadira dan mendapati wanita muda itu sedang menyusui Tiara.
"Wah, sepertinya putrimu sudah mengantuk, ya?" tanya Ibu Santi sambil melihat wajah bayi itu.
"Iya, Bu. Dia memang sedang mengantuk," jawab Nadira membenarkan pertanyaan wanita paruh baya di hadapannya.
__ADS_1
"Hmmm. Ya sudah, kamu keloni saja putrimu, Nadira. Ibu juga akan pamit karena ternyata putra Ibu sudah sampai di sini dan sekarang dia sedang menunggu Ibu pulang di rumah," ucap Ibu Santi.
Nadira pun menganggukan kepala dan mengantar Ibu Santi keluar dari rumah kontrakannya. Sebelum Ibu Santi benar-benar pergi, dia sempat meminta izin Nadira lagi untuk kembali datang di lain hari.
"Kalau memang ibumu ingin datang kemari lagi, datang saja kapanpun Ibu mau. Ibu tidak perlu meminta izin seperti ini," kata Nadira.
"Akh ... syukurlah kalau memang kamu merasa tidak terganggu dengan kehadiran Ibu. Jujur saja, Ibu merasa betah berada di sini dan Ibu juga merasa nyaman saat sedang mengobrol denganmu. Apalagi di sini ada anak kecil, jadi Ibu tidak merasa bosan," ucap Ibu Santi setelah mendengar jawaban Nadira.
"Aku juga bersyukur kalau Ibu menikmati waktu bersama kami. Semoga aku dan Tiara bisa mengurangi rasa bosan Ibu."
"Iya, Nadira."
Setelah berbincang sesaat, Ibu Sinta pun pamit pulang dari rumah Nadira.
...****************...
Setelah kepulangan Ibu Santi, Nadira pun masuk kembali ke rumahnya dan segera membaringkan Tiara yang kini sudah terlelap. Saat ini hari sudah semakin siang dan dia belum mengisi perutnya karena tadi Ibu Santi tiba-tiba datang ke rumahnya. Nadira memilih untuk membereskan dulu barang dagangannya sebelum Tiara kembali bangun.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa makan sekarang, gumamnya sambil mulai menyuapkan nasi sisa berjualan tadi. Namun, baru beberapa suap Nadira makan, tiba-tiba pintunya diketuk seseorang dari luar. Ketukan itu semakin tambah kencang tak kala Nadira tidak segera membukanya.
'Tok ... tok ... tok ....'
"Tolong tunggu sebentar!" teriak Nadira dari dalam rumah.
"Ya Tuhan ... siapa yang mengetuk pintu rumahku dengan brutal itu?" kesal Nadira seraya berjalan cepat menuju ruangan depan. Sebelum membuka pintu, Nadira memilih untuk melihat siapa yang sedang mengetuknya dari balik jendela. Di sana dia melihat ada Ibu Kamila dan Nera sedang berdiri dengan wajah emosi.
Ada apa lagi mereka datang kemari? Tidak cukupkah mereka datang kemarin dan marah-marah di sini? tanya Nadira dalam hatinya.
"Nadira, cepat buka pintunya! Kami tahu kamu sedang ada di dalam!" teriak Ibu Kamila, hingga membuat Nadira cukup terkejut dibuatnya.
__ADS_1
"Nadira, kamu jangan berani hanya bersembunyi saja! Cepat bukakan kami pintu!" tambah Nera.
"Iya, Nadira. Jangan jadi wanita yang tidak tahu malu setelah menggoda calon suami orang!" teriak Ibu Kamila lagi.
Mendengar ucapan kasar dari sepasang ibu dan anak itu, Nadira pun bertambah kesal. Dia dengan segera membuka pintu rumahnya dan menghampiri Ibu Kamila serta Nera.
"Apa maksud Ibu mengatakan kalau aku sudah mengganggu calon suami orang? Kenapa Ibu menuduhku seperti itu?" tanya Nadira.
Ibu Kamila tersenyum sini saat mendengar pertanyaan dari wanita muda di hadapannya. "Memangnya kamu kira, kami hanya mengada-ngada berkata seperti itu? Tentu saja kami juga tidak sembarangan berbicara karena ada buktinya!"
Nera menganggukkan kepala dengan semangat sambil memberikan foto yang didapatnya dari seseorang tadi pagi. "Lihat! Kamu bahkan masih berani menatap mata Andri setelah kami memperingatkanmu kemarin!" ucap gadis itu.
Nadira menyambar ponsel yang sedang digenggam oleh Nera. Dia melihat fotonya yang tampak sedang berbicara dengan Andri.
"Kamu dapat foto ini dari mana?" tanya Nadira.
"Bukan urusanmu! Yang aku tanyakan, kenapa kamu masih berani-beraninya berbicara dengan Andri, padahal kami sudah melarangmu untuk melakukan itu!"
"Apa kamu menugaskan seseorang untuk menguntitku?" tuduh Nadira.
"Bukan urusanmu!" jawab Nera lagi.
"Tentu saja itu urusanku karena kamu sudah berani mengganggu privasiku!" sahut Nera dengan kesal. Dia pun menghapus fotonya dan segera memberikan ponsel itu ke tangan Nera lagi.
"Kenapa kamu menghapus fotonya?"tanya Nera saat melihat Nadira menghapus foto yang dia dapatkan tadi.
"Aku tidak suka seseorang menyimpan fotoku tanpa izin. Sekarang, katakan apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Nadira sambil berpangku tangan. "Jangan membuat keributan di sini karena putriku sedang tidur!" sambungnya lagi.
Ibu Kamila menatap Nadira dengan tajam. Bahkan sekarang dia sudah berani berbicara tegas seperti ini padaku. Rupanya cukup sulit untuk membuat Nadira tidak lagi berhubungan dengan keluarga Ibu Nurul, batinnya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, pergilah dari kampung ini dan kamu akan tenang. Cari tempat di mana Andri serta keluarganya tidak akan pernah menemukanmu!"