
Rumah suga..
Listy sampai di rumah suga dengan mengendarai motor nya.
Begitu sampai, listy langsung masuk ke rumah suga, bahkan tanpa melepas helm nya.
Listy langsung masuk ke kamar suga dan mendapati suga yang masih terlelap, dan jungkook yang tengah memainkan ponsel nya di kursi kamar suga.
" listy. Cepat sekali kamu sampai"
" iya, aku langsung kesini saat kamu telfon tadi"
" ayo bicara di luar, biarkan dia tidur lebih lama lagi"
Listy dan jungkook duduk sambil berbincang di ruang tamu.
" kenapa kamu masih saja memakai helm mu?"
" oh iya aku lupa"
Listy membuka helm nya dan menguncir rambut nya.
" listy kamu memakai persban di belakang lehermu?"
" iya, kepala ku terluka saat yuri di culik kemaren. Tapi hanya luka kecil. Tidak masalah"
" Hmm, oo, semoga tidak parah. suga hyung sangat terganggu karna kejadian tadi malam. Aku rasa itu sangat mengganggu mental nya. Dia memang pria yg dingin, tapi sekarang, tatapan nya begitu kosong, dia terus saja diam dari tadi malam"
" aku akan bicara dengan nya saat dia bangun nanti"
" tolong jaga suga hyung, aku harus pulang sekarang. Kalau ada apa apa, telfon aku saja"
" tentu, pergilah. Aku akan menjaga nya dengan baik"
" baiklah, aku pulang dulu"
Setelah jungkook pergi dari rumah suga, listy membuat bubur untuk suga. Lalu, listy membangunkan suga untuk menyantap sarapan nya.
Listy duduk di kursi samping ranjang suga, dengan memegang semangkok bubur hangat di tangan nya.
" oppa, oppa bangun lah, aku sudah membuat sarapan untukmu" ucap listy lirih.
Tetapi suga tak juga bangun, suga hanya berganti posisi dengan mata yang masih tertutup rapat.
Listy terus menatap wajah suga dan mulai terbawa suasana, listy mulai mendekatkan tangan nya ke wajah suga. Listy menyilakkan rambut suga dan membelai wajah nya.
Mendapat sentuhan dari listy, suga pun terbangun dari tidur nya. Dan langsung menatap listy, dengan tangan yang masih menempel di wajah nya.
Listy dan suga pun sama sama terkejut satu sama lain. Suga segera beranjak dari tidur nya dan menjauhi listy
" sedang apa kamu disini?" Tanya suga.
" oppa, aku hanya mengunjungimu. Aku lewat sini jadi aku mampir"
" pergilah, jangan dekati aku, pergilah dari rumahku"
" oppa tenanglah. Aku hanya ingin melihat keadaanmu"
" aku baik baik saja, cepat pergilah"
" hmm aku sudah memasak bubur untukmu, makan lah sarapanmu dulu"
" tidak pergilah"
" oppa jangan seperti ini, tenanglah"
Suga menghampiri listy dan mengambil mangkuk di tangan listy, lalu menaruh nya di meja. suga menarik tangan listy dan menngajak nya keluar.
Dan saat itu, leher listy tersentak dan ia pun merintih karna nya.
" aawww"
Suga pun berhenti lalu menatap listy dengan wajah yang tengah menahan rasa akit dan memegangi leher nya dengan satu tangan nya.
" leher mu masih sakit? Maafkan aku" ucap suga.
" iya, masih sedikit sakit. Oppa, biarkan aku disini sebentar" rayu listy.
Suga tak menjawab listy, tetapi wajah nya kini terus tertunduk dan dia pun lebih terlihat tenang sekarang.
Suga kembali duduk di ranjang nya dan listy pun mengikuti suga.
Listy duduk di samping suga dan mulai menggenggam tangan suga.
__ADS_1
" oppa, menceritakan masalahmu pada seseorang, memang tidak menyelesaikan masalah, tapi aku yakin beban nya akan sedikit berkurang. Katakanlah apa yang membuatmu resah"
Suga terdiam cukup lama, wajah nya masih saja tertunduk.
" oppa,"
" tangan ini, Tangan ini telah berlumuran darah, tangan ini, telah membunuh seseorang. Aku begitu kotor sekarang"
" kamu tidak sengaja melakukan nya, itu bukan salahmu oppa"
" tapi kenyataan nya tanganku lah yang menembak nya. Dia tewas karna aku, dia, dia.."
Suga kembali meneteskan air mata nya dan menangis tersedu sedu. Melihat hal itu, listy pun tak dapat membendung air mata nya.
Listy mencoba memeluk suga yang mulai hilang kendali.
" oppa, tenaglah oppa"
" pergilah, aku seorang pembunuh. Jauhi aku!"
Suga bangun dari duduk nya, dan listy pun turut berdiri di depan suga. Suga mendorong listy, dan listy hampir saja terjatuh. Tetapi listy tak menyerah, listy kembali memeluk suga dengan erat nya.
" aku pembunuh, aku kotor. Jangan dekati aku"
Kata kata itu terus keluar dari mulut suga saat listy memeluknya. Suga bahkan terus berusaha melepas pelukan listy, tapi listy justru semakin erat nemeluk nya.
" tak ada lagi yang tersisa, aku sama seperti keluargaku. Aku menjijihkan"
Listy melepas pelukan nya dan memegangi wajah suga.
" oppa, tatap aku, dengarkan aku. Aku akan selalu ada untukmu. Kamu tidak sengaja melakukan nya. Tak akan ada hal buruk yang terjadi, percayalah"
Suga kembali tenang saat listy menatap nya dengan penuh ketulusan.
" aku berjanji, aku akan selalu bersama mu. Aku akan mendukungmu. Tidak akan terjadi apapun. Percayalah padaku"
" kamu berjanji?"
Listy tak menjawab pertanyaan suga. Listy hanya terus menatap mata suga yang penuh dengan kekhawatiran.
Kemudian, listy memegang kerah kemeja yang suga pakai. Listy mulai berjinjit dan perlahan mendekat ke wajah suga.
Listy mengecup bibir tipis suga dengan menutup mata nya. Kecupan itu begitu singkat dan penuh kelembutan. Listy kembali berdiri tegak tanpa berjinjit, tapi kini justru suga yang memeluk listy dan menarik badan nya hingga begitu dekat, lalu suga menunduk kan wajah nya, Dan listy kembali berjinjit dan melingkarkan kedua tangan nya pada leher suga.
Mereka pun melupakan sejenak masalah mereka dengan saling berciuman beberapa menit.
Kantor PG industri..
Sindy turun dari taksi, lalu ia berjalan masuk ke kantor. Seperti biasa, sindy berjalan sembari bersenandung, dan menyapa teman teman nya yang ia temui di kantor.
Saat di lift, sindy membuka ponsel nya dan melihat begitu banyak panggilan telefon dari jungkook.
" Kenapa kookie menelfonku sepagi ini. Dia pasti sangat merindukanku" gumam sindy dengan tawa kecil nya.
Saat keluar dari lift, sindy memanggil balik jungkook. Kala itu, jungkook telah sampai di rumah nya dan bersiap untuk mengantar Tata ke rumah sakit.
" hallo kookie? Apa kamu begitu merindukan aku? Kita makan siang bersama hari ini?"
" sayang kamu dimana?"
" di kantor"
" apa defy bersama mu?"
" iya, aku baru saja sampai. Dia depannku sekarang"
" siapa?" Bisik defy.
Sindy tak menjawab pertanyaan defy, dia hanya mengisyaratkan untuk menunggu, dengan menunjukan telapak tangan nya.
" katakan pada defy, jin hyung tengah kritis di rumah sakit sekarang, ceritanya panjanng. Aku menghubungi defy tapi nomer nya tidak aktif"
" baiklah aku akan mengatakan hal ini pada nya" ucap sindy pelan.
Setelah sindy menutup terlefon jungkook, sindy menatap defy dengan tatapan sendu karna sindy tau pasti ini begitu berat bagi nya, setelah tau pembunuh appa nya. dan oppa nya yang entah dimana kini.
Sekarang kabar jin, pasti membuat nya begitu terpukul.
" apa yang jungkook katakan? Dia mencariku?"
" defy, aku minta tenangkan dirimu dulu"
" aku baik baik saja. Katakan lah"
__ADS_1
" jin oppa, dia.. dia di rumah sakit sekarang. Keadaan nya kritis" ucap sindy dengan menatap mata defy dalam dalam.
Dan seketika mata defy telah menggenang air mata nya.
Tanpa berkata apapun, defy mengambil tas dan ponsel nya, lalu defy berlari dari hadapan sindy.
" Defy tunggu, defy.. defy ssi.."
Defy sama sekali tak menghiraukan panggilan sindy, defy terus berlari dengan air mata yang telah membasahi pipi nya.
Jarak rumah sakit dan kantor PG industri memang tak terlalu jauh, dalam hitungan menit, defy telah sampai di rumah sakit.
Defy segera berlari tanpa henti. Dengan anfas yang terengah engah, defy menghampiri jimin, jhope dan namjoon yang tengah berbincang soal kejadian semalam.
" defy ssi, kamu berlari an?" Tanya jhope.
" bagaimana keadaan nya?" Tanya defy dengan mata merah nya.
" dia belum melewati masa kritis nya" sesal jimin.
Defy berjalan menghampiri pintu kaca ruang ICU. Defy menangis menatap jin yang masih terbaring dengan mata tertutup sempurna. Alat pernafasan nya pun masih terpasang di mulut dan hidung jin.
Melihat hal itu, namjoon beranjak dari duduk nya dan menghampiri defy.
" tenanglah defy, jin hyung akan baik baik saja. Duduklah dulu"
Namjoon mengajak defy duduk dan dia pun duduk di samping nya setelah mengambil sebotol air mineral.
" minumlah, atur nafas mu dulu, kamu bisa tersedak nanti. Ini minumlah" suruh namjoon dengan menyodorkan sebotol air pada defy.
" oppa, kenapa ini terjadi?" Tanya defy sembari menatap namjoon.
" ini semua salahku, jin hyung mencoba menyelamatkan aku, tapi dia lah terkena tembakan"
Defy menutup mata nya dengan kedua tangan nya. Namjoon yang duduk di samping defy pun terus memperhatikan nya.
Perlahan namjoon mengangkat tangan nya dan menepuk bahu defy lalu mengusap nya.
" tenaglah defy" ucap defy.
Mendapat perhatian dari namjoon, defy pun menatap namjoon.
" kenapa rasa nya ada yang berbeda" batin defy.
" kanapa aku begitu sedih melihat nya seperti ini?" Batin namjoon.
Lamunan mereka pun buyar saat ayanna datang menghampiri mereka.
" ayanna.." sapa jhope.
" hai semua. Jimin ssi, aku turut sedih atas apa yang terjadi. Semoga jin oppa bisa segera melewati masa kritisnya" ucap ayanna.
" terimakasih ayanna. Iya semoga saja" jawab jimin
Namjoon beranjak dari duduk nya dan menghampiri ayanna.
" kenapa kamu kesini?" Tanya namjoon
" ponsel mu oppa, nayeon menelfonmu. Sekarang dia ada di bandara, dia memintamu menjemput dia" jelas ayanna
" benarkah? Kenapa mendadak sekali?"
" entahlah. Tapi sekarang dia ada di bandara. Kita harus cepat menjemput nya, dia pasti bosan di sana sendiri"
" baiklah ayo"
" tunggu, aku ingin bicara sebentar dengan defy"
" hmm iya"
Ayanna menghampiri defy dan duduk di sebelah nya sementara namjoon berpamitan pada jimin dan jhope.
Ayanna mengusap bahu defy dan menatap nya dengan sendu.
" Defy, jangan seperti ini. Jin akan segera sadar, percayalah" hibur ayanna.
Defy pun memeluk ayanna sambil mengusap air mata nya.
" terimakasih ayanna. Terimakasih banyak"
" maafkan aku defy, aku tidak bisa berbuat apapun untuk menghiburmu. Dan sekarang aku harus pergi menjemput seseorang"
" tidak papa, terimakasih sudah datang"
__ADS_1
" aku pergi dulu, kuat kan dirimu ya.."
Namjoon dan ayanna saling berpegangan tangan dan pergi dari rumah sakit.