
Author POV.
" Maafkan aku listy, yang sebenarnya, kita bertemu kembali setelah sekian tahun, bukan kana kebetulan. Tapi karna kamu mengenal suga. Aku telah lama mengincar mu. Terutama setelah aku tau kalian berpacaran"
Jinan kembali berdiri menatap listy yang masih saja berdiri dengan wajah pucat nya.
Listy meraih sebuah guci bunga di atas meja kecil dan memecahkan nya.
Listy menodongkan pecahan vas itu pada jinan.
" jangan dekati aku! Kalau oppa maju, aku akan menyakiti mu"
" aku tidak perduli. Kamu harus jadi milikku, dengan itu suga pasti akan hancur"
Wajah listy semakin pucat dan berkeringat dingin. Kaki nya terus melangkah mundur sampai ia di baklon kamar hotel.
" oppa jangan lakukan itu, aku mohon. Kalau kamu maju, aku akan loncat dari sini"
Tanpa menghiraukan ancaman listy, jinan terus maju mendekati listy.
Jinan menampik tangan listy dan mereka melakukan pergulatan. Listy terus mencoba memberontak sekuat tenaga nya.
Tetapi tetap saja tenaga listy tak dapat melawan kekuatan jinan. Apa lagi jinan menggunakan sapu tangan dengan di bubuhi bius yang ia ambil dari saku celana nya.
Jinan membekap wajah listy dengan bius itu. Seketika tubuh listy pun lunglai tak berdaya.
" oppa aku.. mohh...ooonn...."
Jinan membawa listy yang telah tak sadarkan diri ke ranjang.
Satu persatu jinan membuka kancing kemeja nya Tanpa sedetikpun berpaling dari wajah listy yang terpejam sempurna.
Air mata jinan menetes tanpa persetujuan nya. Bibir nya pun bergetar dan pucat pasi.
" maafkan aku listy, Harus nya ini ku lakukan berbulan bulan lalu, saat aku belum benar benar jatuh cinta padamu. Maafkan aku.. aku harus melakukan ini" sesal jinan.
Deeerrrr
Hujan dan petir turun secara bersamaan, mengiringi hancur nya masa depan listy. Kesucian nya yang terenggut tanpa persetujuan nya.
Di malam itu, baik jhope mau pun suga hanya berguling guling di ranjang, tanpa mampu memejam kan mata nya.
Mata mereka menerawang jauh, seakan meratapi suatu hal tanpa mereka tau sebeb nya.
Dalam kegelapan malam yang di iringi suara gemuruh petir dan deras nya hujan, jhope dan suga bahkan menitikan air mata, tanpa mereka sadari.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari...
Rumah defy...
Defy terbangun dari tidur nya. Dan mendapati namjoon yang masih duduk di kursi samping ranjang nya dengan mata terpejam.
Defy POV.
Oppa...?
Ah senang nya mendapat perhatian penuh dari oppa, dia pasti menjaga ku semalaman, sampai tertidur di kursi.
__ADS_1
Eomma tak pernah ada di sampingku saat ia bangun. Dia selalu sibuk memasak untuk ku, dan sebagian ia jual di pasar.
Kali ini, terasa begitu nyaman melihat seorang yang benar benar terlelap di samping ku di pagi hari.
Aku merasa sangat beruntung, mendapatkan oppa seperti mu namjoon oppa. Aku akan memasak untuk nya.
Tapi sayang nya aku hanya bisa memasak ramen. Ya sudah ramen saja.
Aksi ku di dapur mulai membuat dapur layak nya kapal pecah.
Telor yang ku goreng bahkan setengah gosong. Dan air ramen tumpah kemana mana.
Di saat seperti ini, aku kembali teringat eomma. Dia pasti akan memarahi ku, jika tau ini yang ku lakukan.
Meski telah lama tinggal sendiri, tetapi aku selalu makan di cafe, atau di rumah sindy. Jadi aku tak pandai memasak.
Untung nya oppa bangun dan membantu ku di dapur. Kami mencoba membuat tumis sayur. Sayang nya, bukan nya membantu, oppa justru megacaukan segala nya. Sayuran meloncat kemana mana. Dan beberapa alat dapur ku malah rusak karna tangan penghancur oppa.
" oppa..." protes ku.
" sepertinya kita memang harus ke cafe jhope saja"
Kami terbahak bahak setelah sebelum nya saling menatap dengan wajah datar.
Oppa memelukku, dan aku merasakan kehidupan ku baik baik saja. Aku sudah biasa sendiri. Meski kepergian eomma membuat ku begitu hancur, tapi oppa mampu menutup kekosongan ini. Dia pria dewasa yang sangat bertanggung jawab.
Tawa kami berhenti saat mendengar suara ketukan pintu dari depan rumah.
" bukalah pintu nya. Aku akan membersihkan ini semua" pinta oppa.
" baiklah" jawabku.
Aku berjalan ke depan dan membuka pintu rumah. Kulihat pria yang biasa nya tersenyum dengan senyum kotak nya, atau sekedar tatapan hangat yang menenangkan hati, kini tertunduk diam di depan ku.
" hmm tidak perlu defy, aku kesini cuma mau meminta maaf padamu, soal kemaren. Dan aku ingin meminta tolong padamu. Listy tidak menjawab telfonku. Jadi aku meminta tolong padamu. Kalau kamu tak keberatan" ucap taehyung dengan sesekali terbata.
" apa yang kamu maksud? Soal jessy? Apa jessy berpikir kita...?"
" aku pikir begitu. Keadaan yang kurang tepat, dan rasa cemburu nya pada mu. Mungkin membuat nya sensitif"
" dia cemburu padaku?"
" dia tau kalau aku pernah punya rasa lebih padamu. Bisakah kamu bicara pada nya?"
" tae, bukan nya aku tidak mau membantu mu. Tapi keadaan sekarang pasti berbeda. Jessy pasti tak hanya cemburu padaku. Dia pasti membenciku karna kemaren. Aku tidak yakin dia akan mendengarkan ku"
" ah iya, kamu benar juga" jawab taehyung.
Wajah nya benar benar tak seperti biasa, dia bahkan terlihat menyedihkan saat ia menarik bibir nya.
Mata nya pun tak lagi bersinar seperti biasa nya.
" tapi aku akan mencoba bicara pada nya kalau bertemu dengan nya" tambah ku.
" iya baiklah. Aku pergi bekerja dulu"
Taehyung pergi dengan langkah kaki yang terlihat begitu berat. Dia dan jessy pasti terluka karna hal ini. Sungguh aku tak ingin mereka mengalami hal buruk. Aku pun tak ingin ada di antara mereka.
Aku pikir jatuh cinta itu hanya akan terjadi satu kali, hatiku telah ku berikan pada jin dan dia telah menghancurkan nya. Tak ada lagi yang tersisa kini .
__ADS_1
Satu tepukan di bahu ku menyadarkan ku dari lamunan ku.
" defy. Ada siapa tadi?" Tanya oppa dari belakang ku.
" ah itu tae, biasa, dia kesini sebelum bekerja. Hanya bertanya keperluan ku yg kurang. Sudah ayo ke cafe jhope oppa, aku sangat lapar" ajak ku sembari membalikan badan gempal oppa dan mendorong nya dari belakang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jhope POV.
Rumah jhope..
Aku terbangun dari tidur ku, aku segera berjalan ke kamar listy.
Tetapi gadis mungil yang ku cari, masih tak ada di kamar nya.
Aku mencoba menghubungi listy tetapi tetap tak tersambung. Aku mulai khawatir di buat nya. Aku menghampiri jessy dan soni yang tengah sibuk di dapur cafe.
" jessy, kamu sudah lebih baik?" Tanya ku.
" aku baik baik saja oppa, kenapa oppa bangun terlambat?" Tanya jessy balik.
" oppa tidak bisa tidur. Listy atau suga tidak menghubungi mu?"
" tidak oppa. Nyonya min pasti melarang listy eonnie untuk pulang. Mungkin dia menginap di sana. Kamu tidak perlu khawatir" hibur jessy.
" tapi baik listy atau pun suga tak juga menjawab panggilan ku. Itu yang membuat ku khawatir" keluh ku.
" lho, bukan nya listy pergi dengan mu tadi malam?" Sahut soni. Dia bahkan menghentikan tangan nya yang semula tengah memotong sayur.
" tidak" jawab ku singkat.
" jadi listy pergi dengan siapa?"
Wajah soni kini terlihat pucat. Itu membuat ku turut gelisah di buat nya.
" maksud mu?" Tanya jessy.
" suga menelfon rumah tadi malam sebelum aku pulang. Dia menanyakan listy, aku pikir dia pergi dengan mu, karna kamu juga tak ada di rumah" terang soni.
Sontak jantung ku terasa berhenti berdetak. Kemana kah listy sampai sepagi ini? Bahkan kaki nya pun masih belum sembuh.
Tanpa berpikir panjang, aku segera mengambil kunci mobil ku dan pergi dari cafe. Aku bahkan tak menghiraukan panggilan jessy dan soni.
" oppa, tunggu.. kita..."
" jhope, tenangkan dirimu dulu"
Entah kemana aku harus mencari listy. Tapi yang jelas saat ini, aku harus menemukan listy. Hatiku semakin tak karuan berkali kali lipat dari keresahan ku malam tadi.
Listy... kamu dimana?..
Aku menepikan mobilku dan mengambil ponsel di saku celana ku.
Ku coba berkali kali menghubungi suga, dia pasti tau tempat listy biasa nya pergi dan dia bisa membantuku mencari listy.
Listy pun tak henti henti nya ku coba telefon. Tetapi nihil, ponsel nya masih saja mati.
Sial.
__ADS_1
kakak macam apa aku ini, sampi tak tau keberadaan adik nya yang kini masih terluka.
Bodohhh!!