
Taehyung POV.
Ada apa dengan ku?
Kenapa aku tak dapat berpaling dari wajah di depan ku ini. Wajah seorang gadis yang tak akan pernah menjadi miliku. Dan aku pun sudah tak sendiri lagi. Berkali kali ku yakinkan diriku bahwa hanya jessy yang ku cintai. Tetapi aku masih tak bisa menampik ketertarikan ku pada gadis di depan ku kini.
Hati ku memang ku serah kan pada jessy, tetapi gadis ini mengingatkan ku kembali bagaimana dulu aku begitu memuja nya.
Apa aku telah menghianati jessy saat ini? Entahlah. Yang aku tau, untuk saat ini. Hanya saat ini, aku tak ingin berpaling dari nya. Apa lagi kini hati nya tengah hancur berkeping keping.
Lamunan ku buyar saat gadis yang sedari tadi memenuhi pikiranku, membuka suara nya.
" taehyung. Aku rasa ini sudah cukup. Tolong antar aku pulang" pinta nya lirih.
Aku mengangguk dan mengikuti nya berjalan keluar dari taman.
Tetapi saat di depan taman, ia berhenti karna sesosok pria berdiri di depan nya. Menghadang langkah nya.
Pria yang tentu akan membuat defy teringat akan sakit hati nya.
Teringat akan hembusan nafas terakhir eomma nya. Rasa nya ada yang menarik badanku, menarikku untuk pasang badan melindungi nya.
" jin hyung. Tolong, jauhi defy beberapa waktu, sampai ia tenang. Defy ayo pergi" tegurku.
" tunggu, defy. Aku ingin bicara padamu. Untuk terakhir kali nya" ucap jin.
" hyung. Jangan bicara seperti itu, defy hanya butuh waktu sendiri beberapa saat" ucap ku yang kini mencoba menghalangi tatapa mata tajam defy dan jin.
Tetapi aku tertegun saat defy memintaku pergi.
" tidak apa apa tae, aku akan bicara padanya. untuk yang terahir kali nya. Tolong tunggu saja di motor" pinta defy dengan kata tegas di tengah kalimat nya.
Dengan berat hati aku melangkah menjauhi defy dan jin.
aku tak meragukan perilaku jin hyung. Aku tau benar dia tidak akan menyakiti defy. Tetapi untuk saat ini pasti setiap kata yang keluar dari lisan jin, tentu nya akan menusuk hati defy.
Meski begitu, aku tak dapat memaksa untuk tetap di sana. Aku hanya duduk di motorku menatap jauh defy dan jin yang tengah berbincang.
Author POV.
Tatapan tajam yang menusuk setiap sudut hati mereka berdua. Defy dan jin.
Beberapa waktu berlalu, dalam diam, hanyut dalam kenangan indah yang pernah mereka lewati bersama. Kenangan manis itu membuat keempat mata itu kini tergenang oleh pedih nya air mata.
Baik jin mau pun defy saling menunggu, siapa kah yang akan memulai percakapan.
Dan ternyata defy lah yang lebih dulu jera, tak kuasa nenahan kenangan manis yang justru membuat nya ingin berteriak murka.
" apa yang ingin kamu bicarakan. Aku tidak punya waktu" tanya defy acuh.
__ADS_1
" aku mohon padamu, cabut tuntutan mu pada eomma. Aku akan melakukan apa pun untuk itu, aku bahkan bersedia untuk menggantikan eomma. Semua perusahaan rumah akan ku serahkan seutuhnya pada kalian. Aku dan eomma tidak akan terlihat lagi di depan kalian" terang jin.
Ppllllaaaccck...
Satu tamparan keras mendarat di wajah jin. Tangan defy bergetar setelah memberi tanda merah di wajah jin.
" apa yang kamu pikirkan? Apa kamu pikir tuntutan ini untuk harta. Aku pikir hati mu tidak sesempit itu. Aku bahkan masih berharap kamu mendukung ku untuk keadilan, meski kita tak lagi bersama. Bodohnya aku. Ambil semua harta itu. Aku hanya inginkan keadilan. Dengan ini aku semakin ingin memperjuangkan keadilan itu"
Defy berlalu begitu saja dari hadapan jin sembari mengusap air mata nya. Bahkan jin pun tak mampu menghentikan defy lagi. Tanpa mampu menatap defy lagi.
Defy menghampiri taehyung dan pergi dengan motor taehyung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kediaman keluarga Park..
Pagi itu, tata masuk ke kamar nya dengan segelas jus jeruk di tangan nya.
Mata tata masih terlihat sembab dan merah, tetapi tata mencoba menata wajah nya sebelum masuk ke kamar nya yang notabene nya ada jimin di sana.
Tata mengusap wajah nya dan menarik bibir nya, dengan senyum palsu nya, tata menghampiri jimin setelah sebelum nya meletakan jus jeruk di Meja dekat ranjang mereka.
Kala itu jimin tengah berdiri di depan cermin besar. Ia telah siap dengan jaz lengkap nya, rambut hitam yang tertata rapi ke belakang.
Tata melingkarkan tangan nya di pinggang jimin. Meraba perut jimin yang tertutup jaz lengkap. Menyandarkan sebelah pipi nya di punggung jimin. Mata nya memejam merasakan kehangatan dan kenyamanan itu.
" tata, aku sudah terlambat. Aku tau kamu ingin bicara padaku. tapi maaf, aku tidak ingin membicarakan apapun sekarang"
" kalau tidak ingin bicara, ya dengarkan saja. Aku yang akan bicara. Tolong dengarkan aku"
Jimin melepas tautan tangan tata di perut nya dan berbalik badan untuk memeluk hangat tubuh mungil tata.
" maafkan aku, harus nya kita menjalani hari hari ini dengan kegembiraan. Setelah sekian lama hati kita benar benar bersatu, tetapi keadaan keluargamu membuat mu turut kesusahan"
" jimin, aku telah membuka hatiku, jadi aku sudah menerima mu dan tentunya keluarga mu. Tetapi ini tentu membuat ku tak nyaman. Jin oppa, ahjuma, ahjushi dan yuri. Mereka tidak bersalah, kenapa harus pergi dari sini juga? Bukan kah itu tidak adil"
" kamu tau benar aku tidak terlibat dengan hal itu, apa lagi meminta mereka pergi. Aku hanya tak ingin memikirkan dan mengemis agar mereka tinggal. Jadi biarkan saja. Tolong jaga sujin. Jangan sampai dia terganggu akan hal ini. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, jangan sampai sakit karna terlalu banyak pikiran. Aku sudah terlambat, aku pergi dulu"
Jimin melepas dekapan tangan nya, melangkah pergi dari kamar, bahkan tanpa meminum jus jeruk nya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jalanan...
Langkah kaki nya terlihat begitu berat, rambut nya yang tak lagi tertata rapi, dahi nya penuh peluh dan kemeja nya pun basah oleh keringat.
Jin terus menyusuri jalanan siang itu, karna terlalu lelah, ia duduk di kursi di pinggir trotoar.
Jin POV.
__ADS_1
Sial
Rasanya selama ini hanya penyesalan, hidupku berantakan karna kelakuan eomma. Tetapi aku tak bisa sepenih nya menyalahkan Eomma.
Pada siapa aku meluapkan segala keluh kesah ini?
Bahkan teman teman brengsek ku, ternyata selama ini hanya memanfaatkan relasi dari ku. Padahal hanya pekerjaan yang ingin ku dapat, bukan belas kasih.
Aku tidak mungkin meminta bantuan pada anggota grup ku. Aku tau keuangan mereka. Lagi pula jimin dan namjoon tentu akan tau hal ini.
Untuk saat ini aku benar benar ingin menjauh dari mereka. Dari pada benci, aku lebih merasa malu, karna selama ini aku memakai dan menikmati hak mereka. Meski tamparan keras defy menegaskan bahwa bukan harta yang mereka tuju, tetapi aku tetap tak bisa tenang karna rasa malu itu.
Terasa sesak sebenar nya. Bukan karna tamparan defy, tapi karna kebencian nya, karna tertutup nya hati defy kini.
Wanita yang selalu membuat ku terkagum, yang selalu menghias hari ku, kini begitu membenciku.
Tapi apalah daya ku, eomma hanya punya aku seorang. Dengan usia tua nya pasti susah menyesuaikan diri dengan keadaan penjara. Aku tak bisa diam begitu saja.
Lamunan ku terbang saat sebuah klakson dari mobil yang tak asing bagiku, kini berbunyi keras di depan ku, menepi dan tak lama, kaca jendela mulai turun, menampakan pria tampan dengan kacamata hitam nya.
" jin hyung, sedang apa di sini?" Sapa nya.
" jinan? Aku hanya beristirahat di sini. Kamu sendiri? Dari mana?" Tanya ku balik.
" aku dari rumah listy. Dia pulang dari rumah sakit, jadi aku berkunjung. Ayo masuklah, ada sedikit hal yang harus ku bicarakan dengan mu" ajak jinan.
Meski sedikit canggung, aku menuruti ajakan jinan. Aku masuk ke mobil mewah nya dan mobil pun mulai melaju.
Dalam perjalanan kami, kami berbincang santai di iringi musik lirih dari mobil jinan.
" jin hyung, kamu masih merancang bangunan, hmm arsitek maksudku. Ah aku tak begitu paham soal itu, aku tidak pernah tertarik dengan perusahaan soal nya"
Tawa nya terkikih di sela ucapan nya.
" iya, tim kami juga merancang bangunan tetapi aku di bagian industri juga. Itu salah satu hobiku, tetapi perindustrian lebih membutuhkan ketelitian dan usaha lebih, itu sebab nya aku di tugas kan di sana"
" ah sayang sekali, sebenar nya aku ingin memintamu secara pribadi untuk merancang bagunan baru milik appa ku. Appa terus memintaku begabung di perusahaan, minimal mencari arsitek, tetapi aku terlalu malas" ucap jinan tanpa berpaling dari kemudi nya.
" benarkah? Aku bisa melakukan nya. sebenar nya aku tengah mencari pekerjaan lagi. Cerita nya panjang. Tapi aku sungguh sungguh membutuhkan pekerjaan saat ini"
" Benarkah kamu mau hyung? Aku sangat senang mendengar nya. Tapi apa kamu yakin? Apa yag terjadi?"
" aku tidak ingin membicarakan nya sekarang"
" baiklah baiklah. Ayo ke kantor appa ku, kita akan tanda tangan kontrak, dan aku akan memberi mu uang muka atas pekerjaan mu"
" iya, tapi ada satu hal, tolong rahasiakan ini dari jimin atau pun grup ku"
Anggukan jinan memberiku kelegaan. Akhir nya aku mendapat pekerjaan sekarang. Aku harus berusaha keras dari nol mulai sekarang.
__ADS_1