
Ruang rawat listy...
Author POV.
Di ruang VIP ini, dengan jendela besar, tv besar dan sofa besar.
Meski dengan fasilitas lengkap, listy terlihat jelas tak kerasan di sana. Apa lagi saat ia sendiri seperti sekarang.
Dia duduk menggonta ganti channel TV dengan remot di tangan nya.
Tetapi wajah datar listy tak lagi tampak saat sosok pria yang ia tunggu tunggu telah masuk ke ruang rawat nya.
Dengan senyum kecil nya, suga masuk dengan satu tangan nya yang masih setia berdiam diri di kantong celana nya.
" oppa, kamu kemana saja? Aku sendirian sejak tadi" rengek listy.
" jhope dan jessy pulang?" Tanya suga sembari duduk di pinggir ranjang listy.
Tanpa aba aba, listy menyandarkan kepala nya di bahu suga dan melinkarkan kedua tangan nya di perut suga.
" jhope oppa sedang mengurus surat pulang ku. Jessy pulang dengan yuri"
Satu helaan nafas menjeda perkataab listy.
" Gendut.." panggil listy manja.
" aku tidak gendut"
" kamu gendut akui saja. Sekarang diamlah dan dengarkan aku bicara. Aku tidak suka kita bertengkar, aku ingin meminta maaf atas sikap ku. Aku tak menyangka jinan oppa akan memelukku. Aku hanya menggenggam tangan nya karna dia menangis"
" kenapa kamu menjelaskan hal itu. Aku baik baik saja"
" kamu cemburu, aku tau itu. Kekasihku ini sangat pencemburu"
" aku hanya tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengan nya. Aku merasakan suatu yang aneh dari dia. Sebaik nya kamu waspada"
" embul, jinan oppa itu sudah aku kenal dari sekolah menengah. Dia pria yang baik, memang si dia dari keluarga kaya raya, jadi sedikit tertutup"
" lalu kenapa dia bekerja begitu keras? Aku pikir dia orang biasa, itu sebeb nya dia menjadi penyanyi. Dia juga tidak pernah bercerita soal keluarga nya"
" biarlah tidak usah membicarakan nya. Yang harus kita bicarakan adalah hubungan kita. Jhope oppa dan yuri akan bertunangan, lalu, kita kapan?"
__ADS_1
" besok kalau tidak hujan"
" yeah oppa!"
" istirahatlah, aku akan meminta suster mengganti infus mu"
Percakapan sepasang kekasih itu berakhir begitu saja. Malam ini entah kenapa suga lebih banyak terdiam, bahkan suga juga pergi dari rumah sakit setelah meminta suster mengganti infus listy. suga juga tak berpamitan pada listy maupun jhope.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari.
Jin POV.
Kediaman keluarga park...
Di pagi yang cerah ini, aku telah bersiap dengan jaz lengkap yang membalut bahu lebar ku.
Ku tatap cermin besar di depan ku yang menggambarkan wajah ku kini. nampak masih datar dan kosong seperti hari kemaren.
Berbeda dengan wajah ku, kepala ku justru terisi penuh dengan beban, memori buruk dan penyesalaan. Setiap detik rasa nya ingin mengamuk dan berteriak.
Sembari melingkarkan jam tangan di pergelangan tanganku, aku menatap wajahku di cermin. Dan ku tanyakan pertanyaan di pikiranku lewat tajam nya mataku.
Kenapa harus eomma?
Kenapa aku harus di tengah tengah mereka?
Kedua wanita yang paling aku cintai kini harus berdiri bersebrangan.
Entah siapa yang harus aku beratkan. Aku ingin berlari sejauh mungkin dari pilihan ini.
Dengan koper yang menggantung di jari ku. Aku keluar dari kamar, dan menuruni tangga dengan santai nya.
Wajah datar ku berubah ketika melihat seorang polisi berdiri berhadapan dengan jimin.
Pikiranku mulai tak karuan, ketakutan itu membuat wajah ku kini mungkin pucat.
" jimin, kenapa ada polisi?" Tanya ku heran.
Satu hembusan nafas jimin dan satu kedipan mata nya memulai jawaban jimin.
__ADS_1
" hyung, aku ingin memberi keadilan untuk ahjushi ku. Park do geum yang meninggal terbunuh belasan tahun lalu. Kamu pasti tau, ini juga keadilan untuk defy. Dan dia pun menginginkan hal ini hyung" jawab jimin, tanpa sekejapun mengalihkan tatapan nya.
Jawaban jimin begitu membuat jantungku seprti tertusuk beribu jarum dalam satu waktu. Bayangan wanita paruh baya yang selalu memberiku belaian lembut nya, kasih sayang tulus nya. Meski kadang sikap nya terlalu berlebihan dalam menunjukan cinta kasih nya padaku.
Tangan ku mengepal sempurna dan wajah pucat ku, Kini ku yakin telah merah matang karna puncak kemarahan ku.
" yeah jimin! Berani nya kamu melakukan hal itu! Agh akhir nya kini kamu bisa membalas dendam pada eomma ku. Ini kesempatan besar untuk mu kan? Bagus bagus. Kamu pria yang sangat cerdik dalam memanfaatkan situasi" maki ku
" hyung. Setiap kejahatan pasti akan menerima balasan nya" jawab jimin.
" kamu benar, eomma orang yang jahat. Dan kamu adalah adik sepupu defy yang teladan. Hiduplah bahagia dengan keluarga baru mu. Ah tidak. Keluarga kandungmu. Rumah ini, perusahaan dan semua nya adalah milik kalian. Aku meminta maaf atas kelakuan eomma selama ini. Dan semua kemewahan yang ku pinjam dari kalian, sekarang ambil semua ini"
Ku lepas jam tangan ku, ku lempar ponselku dan ku lepas jaz tebal ini.
Rasa nya ini semua berbalik menjadi beban untuk ku. Selama ini, jaz tebal, pekerjaan kantor yang melelahkan, meeting kesana kemari. Aku kesampingkan karna tanggung jawabku untuk keluarga. Tapi kini itu semua justru membuat ku malu dan selalu teringat bagaimana kursi jabatan ini penuh dengan noda darah.
Cukup!!
Ini waktu nya aku pergi.
Cukup!!
Ini bukanlah hak dan kewajiban ku lagi.
Aku memutuskan pergi dari rumah jimin, tanpa mendegar panggilan dan tangisan dari yuri, tata dan ahjuma lee.
Kupingku menuli. Aku tak sanggup berlama lama di sana, dan tentu nya hatiku akan hancur jika mendegar tangisan eomma saat polisi membawa nya secara paksa.
Entah kemana tujuan ku. Yang jelas, saat ini aku ingin pergi sejauh mungkin dari rumah ini.
Author POV
Setelah jin pergi, suasana rumah Semakin kacau, teriakan dan jeritan nyonya park moo young saat polisi membawanya, membuat nyonya lee, yuri dan tata menangis tersedu sedu tanpa mampu berkutik dari tempat nya.
Mereka mematung, bahkan jimin dan tuan park pun tertunduk sempurna tanpa sepatah kata pun mampu terucap.
Keheningan terjadi saat mobil polisi berlalu dari kediaman keluarga park.
Hanya isak tangis nyonya lee, yuri dan tata yang mengiang di ruang tamu besar itu.
Tuan lee menghampiri jimin dengan mata penuh dengan air mata.
__ADS_1
" jimin putraku, aku tidak akan memintamu memaafkan noona ku. Apa lagi membebaskan dia. Aku tau dia harus menebus kesalahan nya. Tetapi jin tidak tau apa apa. Tolong jangan biarkan dia menderita karna eomma nya. Kamu lebih tau seberapa besar dia mencintaimu. Bagaimana pun kalian mempunyai darah yang sama. Tolong jangan benci pada nya"
Lagi dan lagi. Bibir jimin mengatup rapat, seakan terguyur lem.