SEVEN BOY'S SEASEON 2

SEVEN BOY'S SEASEON 2
Seven boy's 2 Episode 70


__ADS_3

Rumah defy...


Di ruang tamu yang cukup kecil itu, namjoon, ayanna, tuan dan nyonya kim duduk di sofa kulit berwarna coklat gelap.


Tak banyak perbincangan antara mereka selain saling menyapa dan bertanya kabar.


Namjoon pun masih larut dalam kesedihan nya, ia masih lebih banyak diam dan tertunduk lesu.


" hmm aku akan membuat teh panas untuk kalian" ucap ayanna yang tengah mencoba mencairkan suasana.


Tetapi saat ayanna beranjak dari duduk nya, justru suasana semakin tegang dan sunyi, saat jimin tiba tiba datang bersama tata dan satu orang lelaki berjaz rapi dengan koper menggantung di jemari nya.


Namjoon beranjak dari duduk nya dengan kepalan tangan nya yang mulai menguat.


" kenapa kamu kesini? Pergilah, defy tidak ingin melihat kalian lagi. Tolong jangan ganggu kami lagi" tegas namjoon dengan mata memerah padam menahan amarah nya.


" hyung. Ini penting. Pertama jangan pandang aku sebagai park jimin, tapi pandang aku sebagai sepupu mu"


Pengakuan jimin tentu saja semakin membuat namjoon membulat kan mata nya.


" iya hyung. Aku adalah sepupu mu. Eomma ku dan appa mu adalah sodara kandung. Jadi apa kamu pikir tak akan sedih saat ahjuma ku meninggal? Sayang nya aku baru mengetahui hal ini. Park shin yhun adalah eomma kandung ku. Maaf aku tidak pernah mengatakan kalau aku dan jin hyung berbeda eomma" lanjut jimin.


" baiklah. Lalu apa yang kamu mau sekarang?"


" seperti hal nya seorang keponakan. Aku juga ingin keadilan untuk ahjushi. Dia harus mendapatkan keadilan. Untuk itu, aku akan menuntut nyonya park moo young atas kejahatan nya. Dan tentu nya atas ijin mu dan defy"


" kenapa kamu melakukan hal itu, jin akan terluka jika kita melakukan nya" potong ayanna.


" lalu apa jin hyung akan baik baik saja jika dia terus menutupi dan melindungi eomma nya? Jin hyung pria dewasa, dia tau setiap perbuatan harus mendapat konsekuensi nya" jawab jimin.


" ini tidak akan terjadi jika kamu dan defy tidak menandatangi surat tuntutan itu oppa. Ini semua ada di tangan kalian" sahut tata.


Jimin menyodorkan beberapa surat yang di berikan oleh seorang pengacara yang berdiri di samping nya.


" defy lah yang berhak untuk ini, dia yang merawat eomma selama ini. Dan nyonya moo young adalah eomma jin. Biar dia yang memutuskan nya. tetapi untuk saat ini, aku rasa defy belum bisa melakukan nya" jawab namjoon lirih.


Semua terdiam dan tertunduk menyadari keadaan defy yang begitu lemah, mereka sadar, defy lah yang paling terluka akan kenyataan itu. Pria yang ia cintai, justru eomma nya lah yang membunuh appa nya.


Di tambah lagi kehilangan eomma nya, eomma yang selama ini ia rindukan kehadiran nya, karna belasan tahun mengalami penyakit mental, dan kini ia harus pergi karna serangan jantung setelah melihat sosok calon mertua defy.


Tetapi lamunan mereka tak berlangsung lama. Sura defy yang lemah dan bergetar membuyarkan keheningan.

__ADS_1


" aku setuju, lakukan penuntutan atas nama kami" ujar defy saat keluar dari kamar nya.


Semua perhatian teruju pada gadis tinggi dengan wajah pucat dan mata sembab nan merah.


Namjoon segera meraih tubuh lemas defy dan memapah nya untuk duduk di sofa ruang tamu nya.


Satu hembusan nafas mengawali pernyataan defy akan perasaan nya. Berbagai kalut di pikiran nya mulai ia tata dan terlontar bebas mengalir dari mulut nya.


Dengan suara lirih ia menceritakan apa yang ia rasakan.


" oppa, setelah appa dan oppa meninggalkanku dan eomma, berbagai macam hal butuk terjadi, eomma kehilangan ingatan nya, dan mulai terganggu mental nya. Bertahun tahun eomma melawan sakit nya dan aku bergantung hidup pada ahjuma, aku bahkan bekerja untuk membiayai biaya pendidikanku sendiri. Apa aku salah jika aku menuntut pertanggung jawaban atas meninggal nya appa dan eomma? Bukan demi harta. Tetapi demi masa kecilku yang hilang berantakan karnanya"


" bukan begitu def, maksud kami, nyonya moo young adalah eomma jin. Hubunganmu dan jin akan terganggu jika kamu menuntut eomma jin" terang ayanna.


" hubunganku dan dia berakhir saat aku tau pembunuh appa yang sebenar nya. Oppa, jimin, tolong urus semua nya. Aku bahkan akan datang ke persidangan jika di perlukan. Aku ingin keadilan" pungkas defy.


Perkataan tegas dan lantang yang defy umbar, bagai petir yang benar benar menghantam jantung nya sendiri. Perkataan nya sendiri membuat seluruh sendi nya kembali lemas tak berdaya.


Meski begitu, gadis ini masih saja enggan menunjukan kelemahan nya di depan semua orang.


Degan sisa tenaga nya, defy bangkit dari duduk nya dan berjalan kembali ke kamar nya tanpa menatap semua orang, bahkan defy menolak uluran tangan namjoon yang ingin membantu nya masuk ke kamar, dengan menganggakat telapak tangan nya.


" namjoon oppa, biarkan defy sendiri dulu" sahut tata.


Setelah defy memasuki kamar nya, suasana hening kembali membuat mereka semakin kikuk, jimin pun menyadari, keberadaan nya masih asing di antara mereka.


Status baru yang juga baru ia tau, membuat dia harus sedikit melangkah mundur untuk menyesuaikan kehadiran nya. Terutama untuk namjoon dan defy.


" hyung, aku permisi dulu, pengacaraku akan mengurus semua nya. Aku harap kalian bisa lebih cepat mendapatkan keadilan"


" iya" jawab namjoon singkat


Tentunya kebenaran masa lalu yang di ungkap kan eomma nya sebelum pergi untuk selama nya, membuat ia sungguh terkejut dan masih bingung, sikap apa yang harus ia tunjukan pada jimin.


Namjoon POV.


Kebenaran masalalu yang terungkap secara berurutan membuat ku sungguh kalut.


Dalam sekjap, aku bertemu dengan adik kandungku dan eomma yang melahirkanku. Dalam sekejap pula, eomma yang sangat ku tunggu belaian nya, kehangatan nya, kini ia bener benar tak dapat ku lihat lagi.


Hanya beberapa potret foto masalalu yang bisa ku tatap tiap aku merindukan nya.

__ADS_1


Semua rencana manis, makan malam bersama, memasak bersama, bahkan berlibur bersama, kini impian itu telah musnah tak bersisa.


Kehancuran yang ku rasa kan benar benar di ujung kelemahan ku. Setiap saat, saat aku mengingatnya, serasa tubuhku lemas layak nya tanpa tulang.


Belasan tahun ku tunggu diri nya, tanpa aku mampu mencari nya karna kekhawatiran ku yang terlalu jauh.


Kini saat aku bertemu dengan nya, bahkan aku belum sempat memeluk nya sambil mengatakan


" eomma, aku park joon mu"


Tentu saja itu hal yang akan aku sesali seumur hidupku. Tetapi satu hal yang membuat ku tegar, adalah tanggung jawabku pada defy. Hanya aku yang defy punya sekarang. Hanya aku gantungan hidup defy sekarang.


Gadis yang amat ku cintai lebih dari hidupku itu, kini tengah menangis di balik pintu kamar nya. Meski isak nya tak terdengar, tetapi suara hati nya menggema di telingaku. Aku tau benar, dialah yang jauh lebih hancur dari ku.


Tak ada yang terlintas di pikiran ku selain defy.


Jimin yang ternyata sepupu ku, ayanna yang masih saja berdiri mendukung ku, eomma dan appa angkat ku yang terus saja mendampingi ku, tak lagi ku pikirkan.


Entah itu keegoisan atau apapun. Yang pasti, saat ini, detik ini, aku hanya ingin terus mendekap defy seerat mungkin.


Aku tak ingin menyesal kedua kali nya. Aku tak ingin lagi kehilangan orang yang amat ku cintai lagi.


Aku memutuskan masuk ke kamar defy, dan menutup telingaku saat jimin dan yang lain nya memintaku memberi waktu sendiri pada defy.


Bahkan kalaupun defy enggan menerima kehadiranku saat ini, aku tak perduli.


Aku hanya ingin defy tau, betapa aku mencintai nya. Dan aku ingin dia kuat untuk menjalani kehidupan baru nya bersama ku.


Seperti yang ku duga, defy sempat menolak kehadiranku.


Tetapi aku tetap duduk di samping nya. Mana bisa aku membiarkan gadis kecilku duduk sendiri di lantai menangisi nasib malang nya.


Meski hanya pelukan hangat dan usapan lembut di bahu nya. Aku merasakan defy telah nyaman dengan ku.


Tangisan nya pecah di bahu ku. Airmata nya mengalir bebas membasahi kemeja ku.


Usapan demi usapan ku berikan di bahu nya di iringi lagu tidur yang biasa ia dengar saat kecil. Sedikit ingatanku akan hal itu telah kembali.


Hal kecil itu, aku harap bisa membuat nya lebih tenang dan lebih tegar.


Bohong, jika aku tak menangis. Raungan defy tentu saja membuat ku semakin hancur, dan air mata ku mengalir lagi, lagi dan lagi, tak dapat terkendali.

__ADS_1


__ADS_2