
Gea menghampiri ibunya itu karena penasaran, dia berdiri disamping ibunya, bahkan menengok kearah kertas itu. "Mamah kenapa, ko senyum-senyum sendiri?"
"Ini, Mamah tadinya mau ngecek nilai-nilai kamu, Mamah periksa tas kamu, eh nemu kertas ulangan, nilainya 100. Peningkatan yang bagus Gio, pertahankan oke..!" Ucap Gita tersenyum senang memandang anak lelakinya yang kini sedang berdiri tepat di sampingnya.
Sementara Gio yang asli duduk dan mulai sarapan, dia tahu kalau bukan karena Gea, nilainya pasti tidak akan 100. Saatnya dia melakukan perubahan, dia tidak mau jika nilainya bagus sementara nilai Gea dibuat jelek olehnya.
Gea pun ikut duduk, dia menunggu Gio yang masih sarapan.
"Kenapa Mamah ngerasa kalau kalian itu seperti tertukar ya? Hmm… ," Gita melihat ke arah mereka berdua saling bergantian.
Deg
Tentu saja pernyataan itu membuat si kembar kaget dan tak tahu harus menjawab apa.
Namun tiba-tiba Gio mengungkapkan apa yang ada dipikirannya "Memang ketuker Mah, dan nilai ulangan itu juga ketuker."
"Uhuk… uhuk… ," Gea terbatuk mendengar jawaban Gio.
"Hahaha, , Gea... Gea, kamu itu ada ada aja, makanya kamu harus rajin belajar lagi biar dapet nilai 100 lagi..! Kamu belum bisa menerima kenyataan kalau kemarin dapat nilai 60? Ya gapapa Gea sekali-kali, tapi kedepannya ditingkatkan lagi, oke..!" ucap Gita kearah anak gadisnya, karena yang dia tahu kalau Gea lah yang tadi berbicara.
"Hmm, iya Mah." Gio
Tuh kan, Mamah pasti menganggapku hanya bercanda saja. Pikir Gio
Si kembar pun berangkat ke sekolah, mereka berangkat diantar Pak Denis karena Gea belum mahir naik sepeda motor. Ya sepertinya Gea perlu latihan lagi, namun Gio belum bisa menyempatkan waktunya karena dia ingin fokus belajar.
*
*
Sesampainya di sekolah, mereka berpisah untuk masuk ke kelas masing-masing. Gio berusaha semangat dan bersikap lebih baik dari sebelumnya. Karena menjadi Gea, dia tidak bisa sengaja bolos di jam pelajaran seperti yang biasa dia lakukan saat menjadi Gio. Hidupnya seakan berubah, tidak ada kekonyolan Brian dan Haikal, namun dia harus memastikan jika nilai Gea itu bagus semua.
Jika masa depan Gea hancur karena gue, gue pasti gak akan bisa maafin diri gue sendiri, gue harap tubuh ini bisa bertukar lagi secepatnya, karena banyak hal yang berubah menjadi kacau. Pikir Gio
Gio memulai pelajarannya, di kelas ternyata sudah ada Pak Jaka, membuat Gea harus kena hukuman karena terlambat.
"Udah, kamu boleh duduk lagi..!" Perintah Pak Jaka pada Gio
__ADS_1
"Terimakasih Pak." Gio
"Kalian harus membuat kelompok belajar, satu kelompok terdiri dari 3 orang ya..! Materi kali ini, kalian harus mengamati satu hewan, memelihara dari mulai ulat sampai menjadi kupu-kupu, menuliskan perubahan yang terjadi di setiap harinya!" Pak Jaka
"Pak itu sih terlalu mudah untuk dilakukan." Vikri
"Hmm, kalau ulat kalian mati, nilai praktek kalian nol. Apa itu mudah?" Pak jaka mulai menatap siswanya dengan tatapan serius.
Semua siswa memandang ke arah Vikri, seperti singa yang ingin menerkam mangsanya, membuat Vikri bergidik ngeri.
Sepertinya gue salah ngomong nih. Pikir Vikri
"Hey Gea… " Riri
"Hmm, ada apa? Tumben." Gio
"Gue boleh gabung gak sama lo sama LilIi?" Riri
"Bukannya kamu punya sahabat dekat, si Bianka itu." Lili
"Bianka masih sakit, lagipula aku merasa tertekan berteman dengannya, mumpung dia tidak ada, aku mau berbaur dengan teman yang lain." Riri
"Gapapa, gak usah dibahas..! Gimana boleh gak?" Riri
"Karena memang kurang satu orang, ya.. apa boleh buat." Gio
"Makasih ya.." ucap Riri, gadis itu pun kembali ke tempat duduknya.
"Ge, ko kamu mau aja sih? Gimana kalau dia punya rencana jahat? Gimana kalau dia membuat kelompok kita mendapatkan nilai nol? Kita berdua aja lah Ge, ya?" Lili bahkan memohon dengan tatapan matanya.
"Sudahlah, kamu terlalu parno Li," jawab Gio yang tidak mau ambil pusing dengan hal yang belum terjadi.
*
*
Saat jam istirahat tiba, Gio pergi ke kantin dengan Lili, dia cuma makan sedikit lalu pergi ke perpustakaan, Lili yang masih belum selesai dengan makanannya membuat Gio pergi sendirian.
__ADS_1
"Gio… ," teriak Gea saat melihat saudaranya.
Anak-anak lain melihat ke arah Gea dengan tatapan aneh.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia berteriak memanggil namanya sendiri?" Bisik-bisik siswa lain yang masih bisa terdengar oleh Gea.
"Hmm, Gea…, " teriak Gea lagi mengulangi teriakannya, dia pun berlari menghampiri gadis cantik berambut panjang itu.
Gea menepuk pundak Gio.
"Mau kemana?" Gea
"Ke perpus." Gio
"Tumben banget, yaudah kita bareng aja, karena kalau ngajakin Haikal atau Brian, mereka pasti gak mau, ada juga malah aku yang diajak bolos, hehe.." Gea
Tanpa menunggu jawaban dari Gio, Gea merangkul Gio karena sekarang dia lebih tinggi dari kakaknya itu.
"Rasanya aneh dirangkul sama lo." Gio
"Haha, biasain aja mulai sekarang, biar orang liatnya adem kalau liat adik kakak akur gini." Gea
Dari dulu Gea selalu ingin akrab dan dekat dengan kembarannya itu, namun Gio seolah cuek, jadi sekarang Gea berusaha mewujudkan keinginannya sendiri, karena ini kesempatan yang paling bagus untuknya.
Karena aku jadi Gio, aku akan berusaha menjadi Kakak yang care sama adiknya, yang bisa membuat yang lain iri sama Gea. Pikir Gea
Mereka pergi ke perpustakaan bersama, bahkan duduk saling berdampingan.
Mata Gea terpana saat melihat Arif datang mendekat ke meja mereka, jantungnya seakan berdetak lebih cepat dan berhasil membuatnya salah tingkah, sudah lama dia tidak bertemu pangeran tampannya.
Deg
Dia kemari, astaga, tenangkan diri kamu Gea! pikir Gea
"Ge, apa kabar? Malam minggu kamu punya acara gak? Kita nonton yuk?" Arif
"Bo-boleh, aku mau." Gea
__ADS_1
Arif menatap sejenak ke arah lelaki yang mencuri jawaban dari pertanyaanya. Namun Gea tidak sadar jika sebenarnya yang ditanya oleh arif adalah Gio yang sedang fokus dengan bukunya.
Bersambung...