Si Kembar Yang Bertukar Tubuh (Gea&Gio)

Si Kembar Yang Bertukar Tubuh (Gea&Gio)
Liburan 2


__ADS_3

Astaga dia salah merayu orang, aku bukan seorang gadis. Batin Gio 


"Bang, mending benerin dulu sepadaku, nanti aku temenin ngopi deh. Hmm…," jawab Gio memberikan tawaran kepada lelaki dihadapannya, lelaki itu lelaki dewasa yang berumur sekitar 28th. Gio sebenarnya bisa memperbaiki sepedanya, hanya saja dia sedang lelah dan memanfaatkan orang yang mau memanfaatkannya.


"Memangnya sepeda kamu kenapa?" tanya lelaki itu.


"Rantainya copot Bang." Gio


"Oke Abang benerin dulu ya, kamu tunggu aja disitu istirahat..!" Lelaki itu


Setelah 10 menit menunggu bahkan Gio bisa melihat jika tangan kekar lelaki itu sudah berubah menjadi warna hitam, namun sepertinya sepedah itu sudah selesai diperbaiki.


Gue harus segera kabur, jika perlu gue tonjok juga nih orang. Pikir Gio


Gio sudah siap dengan posisi kuda-kudanya.


Lelaki itu berbalik, "sepedanya sudah bener tuh, cepetan pulang! Anak gadis kok main sendirian, kalau masih pagi begini masih sepi, bahaya tau. Hmm… kamu kenapa?" tanya Lelaki itu saat melihat posisi Gio yang aneh.


"Oh ini, hehe … aku lagi pemanasan bang, eh pendinginan, haha pokoknya itu lah, makasih banyak bang, saya pulang sekarang aja," Jawab Gio yang malu karena telah berprasangka buruk pada orang yang baru ditemuinya.


Dia kembali menggoes sepedanya untuk kembali ke rumah yang sengaja disewa keluarganya karena liburan disana akan menghabiskan waktu satu minggu.


Sesampainya di rumah, terlihat Gita yang panik.


"Gea kamu darimana aja, kita nyariin kamu loh, papah kamu aja belum pulang nyariin kamu daritadi, kenapa pergi gak bilang-bilang?" Gita


Mamah, kambuh lagi cerewetnya. Batin Gio


"Maaf mah, aku yang salah, tapi apa Gio gak ngasih tahu Mamah kalau aku pergi bersepeda disekitar sini?" Gio


"Gio bilang gak tahu, lain kali jangan gitu lagi, oke? Jangan bikin kita khawatir..!" Gita


Gio mengangguk, dia sempat menanyakan keberadaan nenek Hanna dan ternyata sudah kembali pulang ke kotanya.


Gio mengambil bantal dan melemparkannya tepat ke wajah adiknya itu.

__ADS_1


"Aw, sakit Gio… Kakak gak ada ahlak," umpat Gea.


"Kamu kenapa gak bilang sama Mamah kalau gue bersepeda, bukannya tadi juga lo tahu?" Gio


"Kapan kamu bicara begitu?" Gea


"Astaga, seharusnya memang gue tidak pernah mempercayai orang yang masih ngantuk," Gio merasa kesal dan keluar dari kamar itu.


Sementara Gea yang memang benar-benar tidak sadar jika pagi tadi dia berbicara dengan Gio , dia hanya menatap kepergian Gio sambil mengutuk kakaknya itu. Menyebalkan, memangnya kapan dia ke kamarku? Jelas-jelas dia yang salah, dasar. 


Gea yang sudah mandi itu lalu sarapan, setelah itu dia ingin berjalan-jalan mengelilingi daerah sekitar pantai dan menikmati beberapa wahana di sana.


"Mah, kita jalan-jalan yuk..!" Gea


"Gak, Mamah lagi nungguin papa kamu sama nenek Maya, kamu pergi sama Gea aja naik sepeda, tapi jangan jauh-jauh cuma di sekitar pantai aja..!" Gita


"Iya Mah." Gea


"Gio kita ke pantai yuk!" Gea menatap ke arah Gio yang sedang sarapan.


"Males ah, tadi udah bersepeda masa sepedaan lagi." Gio



( jet ski)



(parasailing)


Setelah merasa lelah, mereka pun beristirahat sejenak, namun dia melihat lelaki yang mirip Papanya namun digandeng dan seperti ditarik paksa oleh seorang wanita, tapi wanita itu bukan ibunya.


"Gio, liat deh…! Itu papa kan? Kita samperin yuk! Bukannya Mamah nungguin di rumah." Gea


"Mana? Salah orang kali, mana mungkin papah pergi sama cewek lain," Jawab Gio nampak acuh, dia merasa itu pasti bukan papanya.

__ADS_1


Namun Gea memaksanya menarik lengan Gio untuk melihat lebih dekat, memastikan jika itu bukan papanya.


"Itu bukan Papa Ge, ngapain juga disamperin? Gak ada kerjaan lain apa? Lagian gue capek pengen diem, duduk santai." Gio


"Ayok Gio, kita pastiin aja dulu, oke?" Gea menarik lagi lengan kembarannya itu.


Jika orang lain yang melihat dan tidak tahu mereka adalah saudara kembar pasti mereka dianggap sepasang kekasih remaja, karena mereka sekarang dekat dan kompak, terkadang saling merangkul satu sama lain. Apalagi melihat wajah mereka yang mirip, mereka dikira jodoh kali ya?


Gio menghentikan langkahnya, "mana, gak ada?" 


"Kemana mereka pergi?" Gea


"Udah kita cari makan aja Ge, gue laper..!" Gio 


Akhirnya Gea menyerah, dia mencari tempat makan makanan berkuah, baju mereka yang basah membuat mereka kedinginan.


Namun saat di tempat makan, lagi-lagi Gea membuat Gio kesal.


"Gio, tadi kayaknya kau liat papah deh." Gea


"Astaga, itu perasaan Lo aja kali, mungkin mirip, atau mata Lo yang error dari tadi liat papa tapi buktinya gak ada kan?" Gio


Gio melanjutkan acara makannya dan mengabaikan adiknya itu, perutnya sudah kelaparan. Gea pun menyeruput ramennya lagi dengan hati yang masih penasaran, matanya mulai menelusuri semua meja makan disana berharap bisa menemukan papanya.


"Nah, itu Papah," teriak Gea yang tiba-tiba yang membuat Gio sampai tersedak kuah ramen yang pedas itu.


"Uhuk, uhuk… " Gio 


Gio langsung menyambar minumannya, tenggorokannya terasa perih karena yang tersedak adalah kuah yang pedas.


"Ge, Lo bener-bener ya, perih nih, bikin kaget aja. Oke, sekarang mana papa? Dimana?" Tanya Gio dengan kesal bahkan dia langsung berdiri melihat sekeliling rumah makan.


Gea menunjuk ke arah meja nomor 10, dan sekilas dari jauh memang seperti papanya, mereka menghabiskan ramennya dan bergegas menghampiri meja itu agar rasa penasaran mereka hilang, lebih tepatnya penasaran Gea hilang.


Mereka berjalan pelan, semakin dekat dan semakin dekat.

__ADS_1


"Papa… " Gea 


Bersambung…


__ADS_2