
Bi Mina yang sudah selesai dengan pekerjaannya, dia kembali untuk melihat Denada, namun dia hanya menemukan Gio yang sedang tertidur pulas diatas karpet, dia enggan untuk membangunkan majikannya.
"Dimana Non Nada? Apa mungkin sedang bermain dengan Den Gio?" Gumam Bi Mina yang kemudian pergi ke kamar Gea.
Tok
Tok
Tok
Namun tak ada jawaban, membuat Bi Mina bingung, "Den… Den Gio…," teriak Bi Mina di depan pintu.
Karena suara berisik itulah akhirnya Gea terbangun dari mimpi indahnya. "Aduh siapa sih, ganggu aja deh?" Keluh Gea, dia memaksakan matanya yang masih mengantuk, dia bahkan memaksakan tubuhnya berjalan dengan kaki yang masih terasa sakit meski tidak sesakit sebelumnya.
Ceklek
"Bi Mina, ada apa Bi?" Gea
"Non Nada ada?" Bi Mina
"Mana aku tau bi, aku baru bangun, bukannya tadi sama Bibi ya?" Tanya Gea pada bi Mina yang sama-sama bingung.
Bukannya menjawab, Bi Mina malah pergi begitu saja membuat Gea merasa curiga jika ada sesuatu yang tidak beres. Dia berjalan perlahan menyusul Bi Mina dengan rasa yang tak karuan, dia takut jika adik kecilnya kenapa-napa.
Gea melihat Bi Mina yang berusaha membangunkan Gio namun sepertinya Gio terlampau nyenyak.
"Biar aku aja Bi yang bangunin," pinta Gea lalu mendekati tubuh Gio, dengan sekuat tenaga Gea menggoyangkan tubuh Gio lalu dia menutup hidung Gio yang tentu saja membuat Gio kehabisan nafas.
Gio bangun dengan wajah kesal, "Ge, Lo apa-apaan sih, Lo mau bunuh gue apa?"
"Jangan marah dulu, Nada mana? Bi Mina aja nyariin dia." Gea
Gio perlahan memutar ingatannya secara mundur, dia mulai mengingat jika terakhir kali mereka ada disana, "astaga, apa tadi gue tidur Ge?" Tanya Gio dengan panik.
"Iya, kamu tidur bahkan seperti patung yang susah untuk dibangunin, jadi mana Nada?" Tanya Gea dengan tak sabaran.
__ADS_1
"Gue gak tau, tadi sih disini," tunjuk Gio ke arah karpet merah yang bahkan dia tiduri.
"Mana?, Kamu jangan bercanda deh Gio, cepet cari sebelum mamah sama papah pulang!" Bentak Gea, dia benar-benar tidak habis pikir dengan cara asuh Gio.
Mereka mencari bayi itu ke semua tempat dan bahkan sampai ke luar rumah, mereka mencari dibantu juga oleh Pak Denis dengan pesan jika belum ketemu jangan memberitahu Gita dan Reza.
Tentu saja si kembar takut dimarahi, berharap bisa menemukan Nada disaat waktu yang tepat.
Gea mulai marah-marah lagi karena tidak bisa menemukan Nada, dia bahkan terus menyalahkan Gio.
"Apa mungkin Nada sedang jalan-jalan karena terinspirasi oleh buku cerita terus dia akan kita temukan di panti jompo?" Tanya Gio.
"Ini bukan saatnya bercanda Gio, itu sih film yang sering kita tonton dulu. Astaga.. cepetan cari lagi..!" Gea
"Iya…," jawab Gio dengan lesu, dia sudah tidak ada tenaga untuk mencari Nada apalagi pikirannya sedang kacau dan tertekan, bagaimana kalau mamah tau? Bagaimana kalau Nada benar-benar hilang dan tidak kembali lagi? Pikir Gio
Gio menggeleng-gelengkan kepalanya berharap pikiran buruknya pergi.
***
Sementara ditempat lain, Gita sedang memilih ikan yang segar dipasar, dia ingin membakar ikan kali ini setelah kemarin membakar ayam dan jagung.
"Pah, ini kayaknya enak?" Gita
"Hmm, kamu dari tadi ini enak, itu enak, semuanya enak, tapi kan.. sayang kalau gak kemakan semua." Reza
"Gapapa Pah, kan ada Bi Mina atau kita bagiin aja ke pekerja kebun teh," jawab Gita yang tak ingin niat belanjanya terganggu.
"Hmm, iya…," jawab Reza lesu.
Reza sudah menenteng 2 kresek besar, banyak bahan makanan dan juga buah-buahan yang ingin dia buat salad, ibu yang menyusui memang sering lapar, dia bahkan belanja sambil makan cemilan dan kue basah yang dibelinya.
"Pantas saja kamu cepet gemuk Mah," ucap Reza yang tak sengaja. Membuat Gita memandang suaminya dengan tatapan sedih dan terluka, lalu meninggalkan Reza disana sendirian.
"Mah… tunggu Mah..!" Teriak Reza. Kenapa ini mulut lemes bener sih? Batinnya
__ADS_1
Jalan yang becek bahkan hampir membuat Reza terjatuh, dia begitu kesulitan menyusul istrinya, kini dia kehilangan jejak.
"Paling dia udah ada di mobil," gumam Reza lalu berjalan menuju parkiran.
Tuh, bener kan.. Reza yang melihat istrinya sudah di mobil merasa lega, dia bisa mengakhiri masa sulitnya, istrinya yang menyudahi acara belanja ini membuat Reza senang.
"Kita pulang sekarang Mah? Yakin?" Reza
"Iya, cepetan Pah..! Perasaan Mamah ko gak enak ya?" Tanya Gita yang kini menatap jendela dengan posisi diam.
"Udah Mah, itu hanya perasaan Mamah aja, yakin kita pulang sekarang? Jangan sampai nanti Papah harus balik lagi karena ada yang kelupaan..!" Reza memastikannya dengan bertanya lagi pada sang istri.
Gita hanya mengangguk lalu melihat ek arah kaca lagi, entah apa yang ibu si Kembar pikirkan saat ini.
Mamah kenapa sih aneh banget?
***
Akhirnya sepasang suami istri itu sampai di rumah, Reza menyuruh Denis untuk mengambil semua barang belanjaannya, sementara Gita langsung bergegas masuk sambil berteriak memanggil nama anaknya Denada.
Kemana semua orang pergi? Kok sepi sih? Batin Gita
Dia mengecek ke bagian dalam rumah,lalu ke kamar Gio dan Gea, hingga Gita menemukan mereka sedang berkumpul dikamar Bi Mina.
"Kalian sedang apa? Nada mana?" Tanya Gita yang berhasil membuat mereka semua kaget bukan main.
"Ma-mamah…," Gio melirik ke sumber suara.
"Udah pulang Mah?" tanya Gea.
"Ya sudahlah makanya Mamah ada disini juga, Apa Nada tidur? Ya udah Mamah cek ke kamar deh," Gita melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, namun Gio yang panik dia malah berteriak.
"Jangan Mah..!" Gio
"Jangan apa Gio?" Tanya Gita yang kini membalikan tubuhnya.
__ADS_1
Deg
Bersambung…