
Gea memilih menemani ibunya lagi, menonton pertandingan basket dan berharap sekolah mereka yang menang.
"Gea semangat..! Gol…," teriak Gita.
"Mamah kaya yang lagi nonton sepak bola aja deh pake gol segala, hehe … " Gea
"Kan sama, bolanya sama-sama masuk." Gita
Keadaan menegang saat skor mereka imbang dan Gio sedikit kewalahan. Namun di detik terakhir Gio berhasil mencetak Bola lagi, membuat semua orang yang mendukung sekolah Angkasa bersorak gembira.
"Gea kamu hebat, semoga pertandingan yang akan datang kemampuanmu masih tetap sama, kita masuk ke tahap selanjutnya, kalian semua hebat, mari kita rayakan kemenangan ini!" Pak Agus
Gio tersenyum saat akhirnya dia bisa menang meski dengan tubuh Gea yang sedikit lebih pendek dari tubuh aslinya.
Mereka merayakan hari kemenangan, tapi Gea dan Gita memilih menunggu di mobil dan memberi waktu pada Gio 15 menit saja untuk menghargai tim basketnya.
"Mamah gak capek? Aku khawatir Mamah pingsan lagi mengingat kejadian yang lalu." Gea
"Mamah gapapa kok, kandungan Mamah sekarang lebih kuat," jawab Gita sambil tersenyum.
Akhirnya Gio datang, mereka pun pulang dengan hati yang puas karena kemenangan hari ini. Gita memberikan semangat pada anak gadisnya itu agar semangat di pertandingan selanjutnya dan tidak mengabaikan nilainya, dengan tetap rajin belajar.
Meski dinasehati panjang lebar, namun Gio senang dan menanggapinya dengan senyuman.
***
Saat malam tiba, Gea mendapatkan panggilan masuk dari Lili, namun saat diangkat malah dimatikan.
Gea pun mengirim pesan singkat padanya.
(Ada apa Li? Cerita aja jika kamu punya Masalah, kita kan sahabatan udah lama..!) Gea
__ADS_1
(Hmm, aku gapapa ko Ge.. cuma mau bilang maaf kalau kedepannya aku malah ikutan geng Bianka dan musuhin kamu, aku terpaksa dan jangan pernah membenci aku..!) Lili
(Tapi kenapa Li?) Gea
Namun tidak ada balasan, Gea mencoba menelponnya namun malah dirijek.
Lili kenapa sih? Untung juga dia gak angkat telponnya, kan pasti yang dia denger suara Gio. Pikir Gea
Gea melanjutkan acara belajarnya, dan bahkan sekarang dia belajar bersama Gio di kamarnya, Gio kesulitan memahami materi baru. Mereka juga harus mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan yang bahkan hanya hitungan bulan saja.
***
Keesokan harinya saat di sekolah, Gio yang masuk ke kelas tanpa rasa curiga, dia duduk dengan santainya, ada Lili juga disana yang masih diam seribu bahasa.
Gio merasa ada yang aneh, kursinya seperti bergoyang dan seketika membuatnya ambruk ke lantai.
Astaga, sialnya gue hari ini. Batin Gio
Gio merasa kalau dia sedang dikerjai karena kesialannya terus berlanjut, tapi siapa? Bukankah Bianka duduk jauh dengannya. Buku itu tidak mungkin jatuh, dan tidak mungkin bisa tiba-tiba hilang.
Namun saat jam terakhir, Gio memergoki Lili memasukan sesuatu ke dalam tasnya.
"Li, kamu masukin apa? Jangan bilang kalau dari tadi kamu yang ngerjain aku?" Tanya Gio dengan sedikit emosi.
Gio tidak tahu tentang pesan yang dikirimkan Lili pada Gea, jadi Gio kira Lili memang sengaja dan dia benar-benar kecewa pada Lili.
"Aku gak ngapa-ngapain kok." Lili
"Jangan bohong kamu!" Bentak Gio
Karena merasa Lili sudah keterlaluan, Gio tidak segan-segan memaki gadis itu. Lili yang kaget karena perlakuan sahabatnya, dia hanya bisa menangis. Sementara Bianka seakan menjadi penonton, dia senang melihat dua sahabat di depannya kini bermusuhan.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Pak Feri
"Ini Pak, Lili memasukan sesuatu ke tas saya Pak," keluh Gio
"Coba Bapak periksa tas kamu Gea." Pak Feri
Gio memberikan tasnya dan berharap ada bukti, namun Pak Feri tidak menemukan sesuatu, dia hanya melihat serbuk putih sedikit di tas itu, guru mengira jika itu hanya bedak Gea.
"Gak ada apa-apa kok, Gea kamu jangan main fitnah aja, kasian Lili sampe nangis begitu..!" Pak Feri
"Tapi Pak, " Gio tak terima jika dia dituduh memfitnah, padahal jelas-jelas dia melihat tangan Lili keluar dari tasnya.
Jangan-jangan buku tugas gue juga diambil sama Lili, mau ini anak apa sih, perasaan gue gak punya salah sama dia? Pikir Gio
Gio duduk kembali, Lili juga duduk namun masih terdengar terisak, gadis itu masih merasa sedih karena pertama kalinya dibentak seperti itu oleh sahabatnya. Gio tak mempedulikan Lili meski dia menangis karena Gio terlanjur marah dan kecewa.
Hingga 10 menit kemudian Pak Feri mengeluh jika tangannya gatal, bahkan Pak Feri langsung pergi ke luar kelas, dia ingin segera pergi ke UKS untuk mencari obat.
"Pasti Lo masukin serbuk gatal ya? Gak lucu tau Li, kalau Lo marah sama gue bilang aja terus terang, biar gue tau titik kesalahan gue dimana? Gue gedek sama kelakuan Lo dari pagi, bikin gue sial seharian, tau gak?" Ucap Gio sambil menatap Lili penuh kebencian.
Gea sampe semarah itu sama aku, padahal aku udah bilang kalau aku terpaksa, tapi dia beneran maki-maki aku di depan semua siswa di kelas, aku yang keterlaluan? Atau dia yang keterlaluan sih? bahkan dia ngomongnya kasar, dia gak mungkin akting kan? Aku terpaksa Ge aku gak punya pilihan. Batin Lili
Hingga Pak Feri kembali lagi ke kelas dengan ekspresi yang membuat semua siswa menelan ludahnya.
"Lili, ikut Bapak sekarang!" Pak Feri
Bianka tersenyum, sementara Gio tak peduli sama sekali.
Lili melangkahkan kakinya dengan terpaksa, dia bahkan menatap ke arah Gio dengan mata berkaca-kaca berharap Gio melakukan sesuatu untuk menolongnya, namun Gio acuh tak peduli.
Bersambung…..
__ADS_1