
Keesokan harinya saat mereka sekolah seperti biasanya, Bianka nampak diam tak bersemangat, dia tidak mau jika harus meminta maaf, dia hanya perlu untuk tidak mencari masalah lagi dengan gadis yang bernama Gea itu.
Gadis itu terlalu sombong untuk merendah dan meminta maaf.
"Ge, liat deh, Bianka melewati kita begitu saja..!" Lili
"Mana berani dia ngerjain kita, biarin aja lah, satu persatu karma dia akan datang, apa yang dia tanam maka itu yang dia tuai." Gio
Lili mengangguk tanda setuju.
Kehidupan di sekolah kini terasa damai, terasa lebih baik. Pikir Gio
Gio juga mengikuti pertandingan basket sampai ke final dan sampai tim sekolahnya menjadi juara.
Gita begitu tak menyangka anak gadisnya selincah itu, bahkan Hanna yang ikut menonton pun merasakan ketegangan saat permainan itu, ya .. dia sebagai Neneknya merasa khawatir pada Gea cucunya.
"Gea… hati-hati..!" Teriak Hanna saat Gita berlari kencang sambil mendribel bola.
"Gea… over aja..!" Teriak Hanna saat Gio sudah siap meloncat dan memasukkan bola, Hanna tidak mau jika cucu kesayangannya Sampai terjatuh dan cedera di kaki.
Namun saat tim cucunya menang, Hanna yang paling kencang berteriak, membuat Gita dan Gea yang ada disampingnya menutup kedua telinga mereka.
Setelah kemenangan itu, mereka merayakannya di rumah. Hanna bahkan menginap disana, berniat menginap beberapa hari karena usia kandungan Gita yang memasuki 4 bulan, dan akan ada syukuran di rumah itu, tentu saja Hanna ingin terlibat dihari bahagia anaknya.
Berkat Gea, nilai Gio menjadi sempurna, selalu dapat seratus membuatnya dapat pujian dari nenek dan kakeknya, tak lupa orang tuanya juga memberikan selamat atas nilai tertinggi yang dicapai anak lelakinya itu, padahal itu pujian untuk anak gadisnya yang terjebak di tubuh lelaki kembarannya.
Setidaknya mereka imbang, yang satu dipuji karena nilai yang bagus, dan yang satu dipuji karena memenangkan pertandingan.
Sebentar lagi mereka akan melaksanakan ujian Nasional, Gea yakin bisa membuat nilai Gio bagus dan lulus dengan nilai terbaik, tapi dia mengkhawatirkan nilai atas nama Gea, ya... nilainya sendiri.
__ADS_1
"Gio, kamu harus lebih rajin belajar..! Aku gak mau kalau sampai tidak lulus, sebenarnya aku juga gak rela kalau nilaiku cuma standar dan pas-pasan, aku mau masuk SMA favorit." Gea
"Iya, gue akan berusaha semampu gue buat nilai Lo sebagus mungkin." Gio
Meski Gio menjawab dengan acuh tak acuh, namun jauh dilubuk hatinya dia sangat terbebani dengan permintaan adiknya itu.
***
Ujian pun dilaksanakan, Gio telah begadang beberapa malam terakhir hanya untuk belajar, dia tidak mau mengecewakan adiknya.
Gue harus bisa bikin Gea masuk ke sekolah yang dia mau. Pikir Gio
***
Tak terasa hari berganti hari dan saatnya hasil ujian diumumkan. Betapa terkejutnya Gio saat nama Gea ada di urutan ke 6 teratas, ya itu pencapaian Gio yang paling luar biasa.
"Namaku urutan 6, hmm…," ucap Gea dengan nada kekecewaan, dia berharap menjadi siswa terbaik dengan nilai terbaik di urutan pertama. Namun sayang karena pertukaran tubuh ini, dia tidak bisa bekerja keras untuk dirinya sendiri.
"Gapapa ko, aku yakin kamu sudah bekerja keras," ucap Gea dengan tersenyum, meski senyuman itu dipaksakan karena moodnya yang kurang baik.
Gio menatap papan pengumuman itu, dimana nama dia ada di urutan pertama dan itu berkat adiknya sendiri.
Ini masalahnya bukan hanya tentang nilai, tapi tentang masa depan, karena sekolah yang begitu diharapkan Gea itu memiliki standar nilainya sendiri.
"Selamat ya Gio kamu di urutan pertama." Lili
"Kamu juga Li, selamat ya ada di urutan kedua," jawab Gea dengan wajah yang murung.
Gio dapet nilai terbaik tapi kok malah sedih gitu ya? batin Lili
__ADS_1
Kalau saja aku gak bertukar tubuh, pasti aku dan kamu bisa masuk ke sekolah impian kita Li. Batin Gea
Gio menunduk, dia merasa bersalah sekali pada adiknya itu, bahkan saat sampai rumah dia tidak nafsu makan sama sekali.
"Kamu jangan sedih begitu dong Ge, mamah yakin kamu bisa masuk ke sekolah itu, kamu kan bisa lakukan tes saat nanti daftar masuk..! Semangat sayang … !" Gita
Ibu itu tahu hasil ujian dari Pak Denis yang memberikan laporan berupa foto di papan pengumuman.
Gio mengangguk, namun mood masih belum membaik. Jika dipikirkan untuk masuk ke sekolah itu dengan kemampuan seorang Gio itu adalah sesuatu yang sulit.
Gita membujuk anak gadisnya itu makan, sampai dimana Gio menyerah melihat ibunya masih diam di kamarnya.
"Iya, iya… aku akan makan sekarang Mah, ayo..!" Gio
Mereka pergi menuju ruang makan, disana ada Gea Yang sedang mengaduk-ngaduk makanannya.
"Loh kok anak Mamah yang satu lagi juga sedih gitu sih? Nilai kamu kan yang terbaik." Gita
Gea hanya menoleh sekilas pada ibunya tanpa menjawab pertanyaannya, dia bingung, apa dia harus mengatakan jika masa depan Gea ditangan Gio, dan Gea mengkhawatirkan itu semua.
Cita-citaku…… batin Gea
"Maklum kembar, yang satu sedih kok jadi dua-duanya yang sedih?" Gita
Gita pun membujuk anak kembarnya makan dengan ancaman, dengan membawa alasan ngidamnya yang membuat mereka menuruti apa yang diinginkan calon adiknya.
"Apa kalian mau masuk ke sekolah yang sama nanti?" Gita
Gea dan Gio saling memandang satu sama lain. Ya.. sebenarnya mereka memiliki sekolah impian yang berbeda, namun karena pertukaran tubuh ini, maka harus ada salah satu dari mereka yang mengalah.
__ADS_1
Bersambung ….