
Pagi ini mereka menunggu pesan dari grup sekolah SMA favorit, sekolah pilihan yang ingin mereka masuki.
"Gimana Mah, udah ada pengumuman daftar namanya belum?" Gea
"Belum, ini masih terlalu pagi, kalian sarapan aja dulu!" Gita berlalu sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak kembarnya yang lucu itu.
Sebegitu tidak sabarnya mereka, mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Batin Gita
Ya... mereka sedang menunggu info daftar nama siswa yang berhasil masuk di sekolah favorit itu dan berharap ada nama mereka disana.
Si kembar sudah selesai sarapan, mereka menunggu kabar dari ibunya. Gita datang dengan memegang ponsel di tangannya lalu duduk di hadapan anak-anaknya.
"Emm… sepertinya ini ada pesan masuk, eh tapi ini pesan dari Kakek kalian, hehe.." ucap Gita dengan sedikit tertawa.
"Mamah, bikin tegang aja, kirain udah ada info." Gea
"Tunggu saja sebentar lagi..!" Gita
Reza hanya memperhatikan mereka dan menyelesaikan sarapannya.
"Mah, papah berangkat dulu ya? Kalian jagain mamah dan calon adik kalian! Oke?" Reza
"Iya Pah," Jawab si kembar dengan kompak.
Reza pun berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang berwajah serius dan tegang. Padahal kan hanya info penerimaan sekolah saja, kalau gak diterima bisa pilih sekolah yang lain.
Ting (suara pesan masuk)
"Pesan dari siapa Mah?" Tanya Gea.
"Ini dari Nenek kalian." Gita
__ADS_1
"Oh," jawab Gea singkat dengan nada kecewa.
Ting
"Ah pasti itu dari Nenek lagi," ucap Gea yang tidak mau merasa kecewa.
Gita tersenyum lalu memberikan ponsel itu pada anak lelakinya karena sejak tadi dia yang paling cerewet, meski sedikit merasa aneh dengan kebiasaan baru anak lelakinya yang tadinya pendiam menjadi cerewet, namun Gita mulai terbiasa, padahal itu adalah Gea anak gadisnya yang memang cerewet sekali seperti neneknya.
"Gio, liat deh..!" Gita
"Wah, beneran Mah kita berhasil masuk sekolah favorit itu? Wah senangnya," ucap Gea yang kini bahkan memeluk saudara kembarnya itu, namun Gio tak bereaksi saat dipeluk, dia hanya tersenyum kecil.
***
Dua hari kemudian Gio dan Gea sedang menatap gedung sekolah baru mereka, ya… mereka baru sampai. Meski ini bukan sekolah pilihan Gio namun dia harus tetap berusaha menjadi Gea dan mendapatkan nilai yang bagus selama bersekolah.
"Aku berharap, bisa bertemu kakak kelas yang ganteng-ganteng," gumam Gea pelan.
"Gak usah khawatir, bukankah aku masih terjebak di tubuhmu Gio? Mana ada lelaki ganteng yang mengajakku berpacaran, sungguh lucu," ucap Gea menatap Gio dengan kesal.
"Hahaha... bener juga ya, dan gue juga sama dong gak bisa punya pacar selama masih bertukar tubuh." Gio
"Ya iyalah, hmm… ayo masuk..!" Ajak Gea dengan menarik tangan Gio, mereka masuk bersama-sama saling berpegangan tangan.
Hingga ada kakak kelas yang menegur mereka.
"Hmm, hmm… jangan bermesraan begitu selama di sekolah!"
"Kita kan sa…, " Gea yang belum sempat meneruskan kalimatnya, malah terpotong oleh ucapan Gio, "Iya kak."
Gio melepaskan tangan itu , dan mengajak Gea segera masuk.
__ADS_1
"Aku mau jelasin kalau kita saudara, eh kamu malah memotong pembicaraan, gak sopan tau," protes Gea
"Sebaiknya selama kita masih bertukar tubuh, biarlah orang menganggap kita pacaran." Gio
"Kenapa?" Gea
"Ada deh, pokoknya Lo ikutin aja mau gue, bukannya gue udah ngalah masuk ke sekolah yang Lo mau." Gio
"Astaga aku kira itu tulus , aku sempat tersentuh dan ternyata ada sesuatu dibaliknya. Hmmm… aku kecewa" Gea
Gio tak membalas ucapan Gea, dia bergegas pergi untuk berkumpul di lapangan bersama semua siswa baru.
Disana sudah ada banyak siswa yang berkumpul, sekitar 200 siswa yang akan dibagi menjadi sekitar 8 kelas. Disana juga sudah ada kepala sekolah, guru-guru dan ketua OSIS beserta anggotanya.
Mereka memperkenalkan diri satu persatu, lalu memberikan instruksi untuk membagi siswa baru menjadi dua kelompok, kelompok wanita dan kelompok laki-laki.
Mereka juga memakai papan nama dari kardus yang lumayan besar, agar orang bisa langsung mengetahui nama satu persatu dari mereka saat dipanggil.
Entah kebetulan atau apa, dari kelompok lelaki Gea lah yang dipilih sebagai ketuanya, dan Gio sebagai ketua kelompok perempuan, mungkin mereka berdua mencolok dari penampilan mereka yang tampan, cantik dan menarik.
Mereka saling memandang, mereka merasa terjebak di dalam kelompok yang dipenuhi dengan lawan jenisnya.
Harusnya si Gea yang menjadi pemimpin kelompok cewek, gue males banget deh dengerin cewek-cewek yang cerewet ini. Batin Gio kesal
Sementara Gea merasa senang-senang saja berada di kerumunan cowok-cowok itu.
Hingga kelompok mereka mendapatkan tugas dari ketua OSIS untuk berlari mengelilingi lapangan sepak bola yang luas itu sebanyak 10 putaran untuk laki-laki dan 5 putaran untuk kelompok perempuan.
Apa sepuluh putaran? Bisa pingsan gue. Pikir Gea
Bersambung …
__ADS_1