
Saat pagi datang, suasana pagi itu masih sepi karena si kembar sedang libur sekolah. Mereka berdua belum keluar dari kamar, membuat Gita terpaksa harus membuat mereka terbangun dan tidak membiarkan mereka bermalas-malasan di saat hari libur, yang pertama kali didatangi Gita tentu saja anak gadisnya.
Tok
Tok
Tok
"Gea sayang… bangun! Udah siang nih," teriak Gita dibalik pintu.
Ceklek
Ternyata gak dikunci. Batin Gita
Wanita itu mencari keberadaan Gea, hingga dia menemukan anak gadisnya sedang mandi karena terdengar suara air dikamar mandi.
Gita lalu pergi menuju kamar Gio yang serba biru itu, dia mengetuk pintu itu terus menerus, dia tidak mau sembarangan masuk seperti ke kamar anak gadisnya, karena Gio sudah tumbuh menjadi pria remaja yang membutuhkan privasi.
Gea membuka pintu kamarnya, " ada apa Mah?” tanya Gea saat melihat ibunyalah yang mengetuk pintu sedari tadi saat dia sibuk memakai baju.
"Loh udah ganteng aja, mau kemana?" Gita
"Mau latihan basket Mah sama Gea juga, gapapa kan? Katanya Gea juga mau ikut." Gea
"Oh, boleh .. kalian main basket apa kencan double date?” tanya Gita dengan mata yang menyelidik ke arah lelaki di hadapannya itu, Gita teringat kejadian semalam saat mereka izin pergi ke Bioskop.
"Hahaha, gak lah Mah, suruh saja Pak Denis ikut juga..! Hmm… " Gio
"Ok, kita sarapan ya, temenin Mamah!” Gita
"Iya Mah," Jawab Gea yang lantas mengikuti ibunya ke ruang makan, padahal jam sudah menunjukan pukul 9, tapi ibunya baru sarapan. Ternyata Gita mengalami morning snicker yang membuatnya bisa makan setelah melewati mual-mual di pagi harinya itu, kehamilan yang kedua ini tidak berbeda jauh dengan kehamilan yang pertama.
__ADS_1
Gio pun menyusul sarapan, setelah selesai, mereka pun pamit pergi. Mereka meninggalkan ibunya sendirian saat papanya sedang ada diluar rumah karena ada pekerjaan mendesak, tapi mereka berjanji akan kembali secepat mungkin.
***
Sesampainya di lapangan basket, Gio berusaha keras mengajari Gea, karena Gio tidak mau kalau impiannya menjadi pemain basket terkenal itu hancur seketika, ya… 2 Minggu lagi ada pertandingan antar sekolah membuat Gea yang ada di tubuh Gio itu merasa frustasi.
Pasalnya Gio memang ketua basket di timnya dan dia selalu juara disetiap pertandingan yang timnya kuti. Gio tidak menjadi incaran para gadis di sekolahnya karena dia lebih terkenal dengan kenakalannya. Karisma Gio seakan tertutupi kejelekannya, padahal Gio tampan dan badannya pun atletis.
Hanya beberapa gadis yang tertarik pada Gio, namun laki-laki itu selalu mengacuhkan mereka.
"Hah… hah, air… aku butuh air..!” Gea
Pak Denis berlari memberikan sebotol air mineral, Gea langsung terduduk dibawah.
"Kenapa rasanya sulit sekali?" Gea belum bisa memasukan bola itu tepat ke ring.
"Lo harus bisa gantiin gue Gea, karena Gue juga akan berusaha keras buat nilai Lo bagus lagi..!" Gio
"Iya, iya… " Gea
"Kenapa jadi Den Gio yang diajari?” ucap pria itu sambil terus memperhatikan keduanya.
Mereka hanya latihan 2 jam saja dan langsung pulang , mereka mengkhawatirkan ibu mereka yang sedang hamil muda dan kesepian di rumah.
Sesampainya di Rumah, Gea merasa lututnya lemas, bahkan untuk berjalan menuju kamarnya pun terasa jauh saat Gea memandang pintu itu. Gea memang jarang berolahraga, dia lebih suka diam dikamarnya dan fokus belajar.
Masih sanggupkah kaki ini berjalan? keluh Gea didalam hatinya.
"Kalian udah pulang?" Gita
"Iya Mah, tapi aku mau istirahat aja, aku capek Mah," keluh Gea lalu menyeret kedua kakinya menuju kamarnya.
__ADS_1
Bukannya sudah biasa ya Gio main basket? pikir Gita
"Gio kenapa? ko sampe lemes gitu?” tanya Gita pada gadis didepannya.
"hehe, sepertinya Gio latihan terlalu keras Mah, maklum Mah.. dia kan terobsesi menang dan jadi pemain basket profesional, hmm... ," jawab Gio sebisa mungkin agar ibunya tidak curiga.
Sementara Gea yang sudah sampai didekat ranjang empuknya itu, dia langsung menghempaskan tubuhnya disana, dia kembali bangkit lalu mengambil sesuatu di laci dan memakainya, dia menuju ranjang lagi dan menikmati waktu istirahatnya itu dengan tidur siang.
Setelah bangun Gea menghubungi ponsel Gio dan menyuruhnya datang ke kamarnya.
”Ada apa?" Gio
”ffttt… kenapa Lo sampe berpikir pake itu disana sih?" Gio mencoba menahan tawanya, dia tidak mau tertawa diatas penderitaan adiknya itu.
"Aw, aw, aw… pelan-pelan Gio!" Teriak Gea.
Gita yang mendengar Anak lelakinya berteriak lumayan kencang karena pintu kamar itu sedikit terbuka, membuatnya menguping dibalik pintu.
"Gak ada cara lain apa?" teriak Gea.
"Apa mau dibikin basah dulu, kali aja lebih mudah dan gak sakit?” Gio
Mereka lagi ngapain sih? udah teriak-teriak, bilang pelan, sakit , dibikin basah juga. Pikir Gita
"Mamah lagi ngapain?” Reza
"Ya ampun, ssttt… papah diem dulu, Mamah lagi nguping pembicaraan mereka." Gita
"Gak baik Mah kalau nguping..!" Reza bahkan berusaha mengajak Gita pergi dengan memegang tangan sang istri.
”udah deh Papah diem aja dulu..!, dengerin mereka deh, aneh banget yang mereka bahas itu apa sih?” Gita
__ADS_1
Lelaki itu mengurungkan niatnya, dia malah ikut menguping dibalik pintu bersama istrinya.
Bersambung …