
Si kembar akhirnya sampai dirumah, saking lelahnya mereka melewatkan makan siang dengan menghabiskan waktu siang itu untuk tidur saja.
Perut Gea yang lapar akhirnya memaksanya untuk bangun, dia makan sendirian, entah orang-orang sedang sibuk apa, namun rumahnya nampak sepi.
Gita yang baru bangun berjalan mendekati anaknya itu, dia langsung menepuk pundak Gea.
"Makan kok gak ngajak Mamah sih?"
"Uhuk… uhuk," Gea terbatuk lalu dengan secepat kilat dia menghabiskan minumannya.
"Maaf ya, Mamah gak maksud begitu," Gita menatap Gea dengan rasa bersalah.
"Gapapa Mah, aku kaget soalnya tadi sepi kaya gak ada orang dan taunya ada Mamah di belakang aku dan datang dengan tiba-tiba, Mamah jail...," keluh Gea.
"Hehe.. maaf ya, Mamah semenjak hamil bawaannya males terus, tiduran santai-santai, jadi Mamah tidur siang aja, gimana gak sepi anak kembar Mamah aja pada tidur kok. Hehe..." Gita
"hehe.. iya sih Mah aku juga tidur karena kecapean, gimana penyelidikan Mamah itu yang kasus aku ditonjok kemarin?" Tanya Gea yang menyudahi acara makannya.
"Hmm, oh itu. Iya yang menyerang kamu bukan anak dari sekolah favorit, mereka hanya disuruh oleh seseorang, dan sepertinya kamu kenal orangnya. Namanya Geri, memang kalian punya masalah apa sama dia?" Gita.
"Apa? Sebentar Mah, dia anak kelas berapa?" Tanya Gea penasaran untuk memastikan apakah itu orang yang dia maksud.
"Belum tau juga, coba nanti tanyain lagi sama suruhan Mamah ya?" Gita
Gea mengangguk lemas, padahal dia berharap hari ini dia tahu siapa dibalik insiden pemukulan kemarin.
Reza yang baru sampai dia mengeluh badannya sakit semua, dia mengajak anak lelakinya untuk mandi air hangat, berendam bersama dan berharap mendapat pijatan dari anaknya itu. Reza belum tahu kalau anak kembarnya tertukar.
"Jangan Pah! Sama Mamah aja ya berendamnya?" Ajak Gita yang tidak mau Gea ada dalam situasi itu.
"Tapi kan Mamah lagi hamil, harusnya Mamah yang Papah pijitin, nanti Mamah kecapean lagi, papah mau ajak Gio ke pemandian air panas yang asli di dekat gunung." Reza
"Gak, gak boleh!" Gita
__ADS_1
Astaga, jangan sampai Papah mengajak Gea ke pemandian para lelaki, tidak bisa. Pikir Gita
"Mamah kenapa sih, biasanya juga gapapa, biasanya juga emang Gio suka ikut ke pemandian bersama Papah." Reza
"Gak, pokoknya jangan ajak Gio, biarkan Gio belajar hari ini karena besok akan ada ulangan, iya kan Gio?" Gita memandang kearah Gea.
Gea mengangguk pelan dengan tatapan yang bingung, dia baru saja masuk sekolah dan belum ada ulangan. Ibunya mengajak dia berbohong dan ini untuk pertama kalinya terjadi.
Ada baiknya juga sih Mamah tau kalau aku Gea jadi kan Mamah bisa bantuin aku disaat situasi sulit begini. batin Gea
***
Ketika malam datang, Gea yang begitu penasaran. Dia mencoba menanyakan hal tentang identitas Geri yang dibicarakan ibunya.
Dia dengan terpaksa harus mengganggu ibunya dimalam hari, karena ini masih pukul 7 malam, Gea yakin kalau ibu dan ayahnya belum tidur.
Tok
Tok
Tok
"Ada apa Gea?" Gita
"Info tentang Geri apakah udah ada Mah?" tanya Gea dengan pelan, dia takut kalau membangunkan papanya yang ternyata sudah tidur.
"Oh itu, namanya Geri ketua OSIS di sekolah kamu." Gita
Gea nampak diam setelah mendapatkan jawaban itu, dia kemudian pergi dari kamar ibunya. Berjalan menuju kamarnya dengan rasa kesal, ternyata yang membuat pipinya memar, bengkak dan terasa sakit itu adalah lelaki yang diidolakannya yang selama ini dianggap baik olehnya.
Sementara Gita menatap kepergian Gea dengan perasaan aneh, Gea kenapa?
Gea duduk ditepi ranjang dengan memegang cincin milik ibunya, dia belum berniat mengembalikannya. Gea masih membutuhkan cincin itu, lagipula ibunya belum menanyakannya.
__ADS_1
Akan aku buat impas, liat aja. Batin Gea
***
Keesokan harinya saat mereka sedang menghabiskan waktu istirahat di sekolah, Gea mengajak Gio membuntuti Geri.
"Kaya gak ada kerjaan lain aja, gue mau balik ke kelas ya?" Gio
"Jangan dong Gio! Tunggu sebentar lagi..!" Gea
"Lo segitu sukanya sama si Geri sampe diliatin dari jauh begini?" Gio
"Udah deh jangan berisik, aku butuh bantuan kamu Gio dan jangan banyak bicara..!" Gea
Gio memilih diam, dia ingin tahu apa yang ingin dilakukan saudaranya itu.
Mereka terus mengikuti Geri sampai dimana Geri kini sendirian dibelakang sekolah, ternyata dia mengeluarkan sebatang rokok.
"Astaga, itu yang namanya ketua OSIS, tidak memberi contoh yang baik, sungguh keterlaluan." Gio
Gea hanya menatap Geri dengan rasa kecewa, dia seakan mengubur rasa kagum dan sukanya pada lelaki tampan itu.
Gea mendekati Geri dari arah belakang, mengelus cincinya beberapa kali lalu mengarahkannya pada punggung lelaki itu.
Gubrag
Geri jatuh dari posisi duduknya.
"Ge, apa yang Lo lakuin? Lo mau cari masalah hah?" Tanya Gio yang kaget dengan aksi adiknya itu.
Namun Gea malah tersenyum, dan membisikkan sesuatu di telinga Gio.
"Apa? Lo serius?" Gio
__ADS_1
Bersambung …